![]() |
| Edi Saputra.,SH (Edi Obama) Tokoh masyarakat Peusangan, Kabupaten Bireuen, Aceh (20/10) |
ACEH, PEUSANGAN, REAKSIONE.ID | Menjelang berakhirnya masa kepengurusan Yayasan Almuslim, tokoh masyarakat Edi Saputra, yang dikenal sebagai Edi Obama, menyerukan agar masyarakat Peusangan Raya menjaga suasana tetap kondusif menjelang pelaksanaan Musyawarah Almuslim (MUSLIM).
Ia menegaskan, pergantian kepengurusan yayasan yang memiliki sejarah panjang dalam pendidikan dan perjuangan umat tersebut harus berlangsung secara demokratis, bermartabat, serta berlandaskan mekanisme organisasi yang sah.
Di tengah dinamika menjelang musyawarah, Edi juga mendorong keterbukaan pengelolaan aset wakaf Yayasan Almuslim. Menurutnya, masyarakat berhak mengetahui keberadaan aset, nilai pendapatan yang dihasilkan, serta pemanfaatannya bagi kepentingan umat.
“Menjelang MUSLIM, mari kita sambut proses ini dengan lapang dada. Siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin, keputusan harus lahir melalui mekanisme organisasi dan musyawarah yang sah,” ujar Edi Obama.
Edi menegaskan, kepeduliannya terhadap Yayasan Almuslim bukan didorong ambisi untuk menduduki jabatan tertentu. Ia mengaku ingin memastikan aset wakaf yang menjadi amanah umat dikelola secara profesional, transparan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, transparansi tidak cukup hanya dengan menyatakan bahwa aset telah dikelola dengan baik. Pengelolaan tersebut perlu disertai informasi yang jelas mengenai lokasi dan status aset, sumber pendapatan, hasil pengelolaan, serta penggunaan dana yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Masyarakat berhak mengetahui di mana aset-aset yayasan berada, berapa penghasilannya setiap bulan dan tahun, serta bagaimana hasilnya digunakan dan dipertanggungjawabkan. Harta wakaf harus dikelola secara transparan, profesional, dan benar-benar memberikan manfaat bagi umat,” tegasnya.
Ia berpandangan, keterbukaan merupakan bagian penting dari upaya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan dan sosial yang dibangun dari amanah umat.
Edi juga menekankan bahwa dorongan transparansi tersebut bukan dimaksudkan untuk mencari kesalahan pihak tertentu, melainkan memastikan pengelolaan aset berjalan sesuai tujuan dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Edi menjelaskan, sejumlah pertanyaan dan harapan yang disampaikannya juga merupakan aspirasi pihak-pihak yang telah memberikan mandat dan suara sah kepadanya.
Ia menyebut, sebagian pihak tersebut belum merasa leluasa menyampaikan pandangan mereka secara langsung. Karena itu, ia merasa berkewajiban menyuarakan aspirasi yang dipercayakan kepadanya.
“Saya tidak berdiri hanya untuk menyampaikan pendapat pribadi. Ada saudara-saudara kita yang menitipkan aspirasi dan mempercayakan kepada saya untuk menyuarakan pertanyaan serta harapan mereka. Kepercayaan ini adalah amanah moral yang harus saya jaga dengan penuh tanggung jawab,” ungkapnya.
Ia mengajak masyarakat agar tidak ragu menyampaikan pertanyaan, kritik, maupun saran selama dilakukan secara santun, berdasarkan fakta, dan melalui saluran yang tepat.
Menurut Edi, pertanyaan mengenai pengelolaan aset tidak semestinya langsung dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap pengurus. Sebaliknya, pertanyaan tersebut dapat menjadi ruang evaluasi untuk memperkuat tata kelola yayasan.
“Jangan takut bertanya, jangan takut mengingatkan, dan jangan takut menyampaikan kebenaran selama dilakukan dengan santun, beradab, dan berdasarkan fakta. Menjaga amanah bukanlah permusuhan, melainkan tanggung jawab kita bersama,” katanya.
Ia menambahkan, apabila pengelolaan telah dilaksanakan dengan baik, keterbukaan justru dapat menjadi sarana untuk menunjukkan bahwa amanah masyarakat dijalankan secara bertanggung jawab.
Bagi Edi, MUSLIM tidak semestinya hanya menjadi arena menentukan siapa yang bertahan atau siapa yang akan memimpin Yayasan Almuslim berikutnya.
Lebih dari itu, forum tersebut harus menjadi momentum mengevaluasi pengelolaan yayasan, memperkuat tata kelola, serta merumuskan arah kebijakan yang berpihak pada kepentingan umat dan keberlanjutan pendidikan.
Ia menegaskan, pengurus yang sedang menjabat tetap memiliki peluang memperoleh kepercayaan kembali apabila dinilai mampu menjalankan amanah dengan baik. Namun, apabila terdapat kebutuhan pembenahan, musyawarah juga harus menjadi ruang untuk menentukan arah perubahan sesuai aturan organisasi.
“Jika pengurus yang sekarang dinilai telah menjalankan amanah dengan baik, jujur, dan bertanggung jawab, tentu kepercayaan dapat diberikan kembali. Namun, jika masyarakat menilai masih diperlukan pembenahan, forum musyawarah inilah yang menjadi wadah untuk menentukan kepengurusan selanjutnya sesuai mekanisme yang berlaku,” jelasnya.
Edi turut menekankan pentingnya kesetaraan kesempatan bagi putra-putra Peusangan Raya untuk mencalonkan diri maupun dicalonkan, sepanjang memenuhi persyaratan dan mengikuti ketentuan organisasi.
“Yang terpenting bukan siapa yang berkuasa, melainkan siapa yang mampu menjaga amanah, menghormati aturan, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain transparansi, Edi menaruh perhatian pada pemanfaatan hasil pengelolaan aset wakaf untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama melalui sektor pendidikan.
Ia berharap kepengurusan Yayasan Almuslim mendatang dapat menjadikan bantuan pendidikan sebagai salah satu prioritas nyata, sehingga manfaat aset wakaf tidak hanya terlihat dalam laporan pengelolaan, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat.
Tentunya ada dua program yang lebih efektif dan mendesak untuk diprioritaskan;
Pertama, penyediaan beasiswa dan akses pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, anak yatim, serta fakir miskin di Peusangan Raya.
Kedua, pemberian keringanan biaya pendidikan di Pesantren Almuslim bagi anak-anak setempat yang ingin memperdalam ilmu agama sekaligus membangun karakter.
Menurut Edi, dukungan tersebut penting agar keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang layak.
“Harta wakaf harus menjadi jalan kebaikan bagi umat. Jangan sampai anak-anak yang memiliki semangat belajar kehilangan kesempatan hanya karena keterbatasan ekonomi. Masa depan pendidikan generasi Peusangan Raya harus menjadi perhatian bersama,” tuturnya.
Ia berharap gagasan tersebut dapat dibahas secara serius dalam perumusan program kerja kepengurusan mendatang, dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan yayasan, ketentuan pengelolaan wakaf, serta kebutuhan masyarakat yang paling mendesak.
Menanggapi dukungan dari sejumlah Tgk. Mukim, Tgk. Keuchik, Tgk. Imum, dan Tgk. Imum Syiek Masjid, Edi mengimbau semua pihak agar tidak memandang perbedaan pendapat sebagai permusuhan. Ia mengingatkan, dinamika menjelang MUSLIM perlu disikapi secara dewasa.
Perbedaan pandangan seharusnya diselesaikan melalui dialog dan mekanisme organisasi, bukan dengan tindakan yang dapat memicu ketakutan maupun merusak hubungan sosial masyarakat.
Edi menegaskan, setiap dugaan persoalan harus dibicarakan berdasarkan fakta dan diselesaikan melalui prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Kebenaran tidak perlu dilindungi dengan intimidasi, dan persoalan tidak akan selesai jika dibalas dengan fitnah, adu domba, teror, ataupun tekanan terhadap para pemilik mandat dan suara sah,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar kepentingan mempertahankan kedudukan tidak mengalahkan kewajiban menjaga amanah. Menurutnya, jabatan dalam organisasi bersifat sementara, sedangkan tanggung jawab atas keputusan dan tindakan tetap melekat pada setiap orang.
Karena itu, ia mengajak semua pihak melakukan introspeksi, membuka ruang dialog, serta bersedia memperbaiki kekeliruan apabila ditemukan persoalan dalam pengelolaan maupun pelaksanaan organisasi.
“Jika ada persoalan, mari kita buka dengan jujur. Jika ada kekeliruan, mari kita luruskan dengan lapang dada. Jika ada pertanyaan, mari kita jawab dengan terbuka. Kita tidak perlu membenci siapa pun untuk memperjuangkan kebenaran, dan kita tidak perlu merendahkan siapa pun untuk menegakkan keadilan,” imbaunya.
Di akhir keterangannya, Edi kembali menegaskan bahwa keterlibatannya dalam dinamika menjelang MUSLIM berangkat dari kepedulian terhadap amanah wakaf dan masa depan Yayasan Almuslim, bukan keinginan memperoleh pangkat, kedudukan, maupun jabatan.
Ia menyerahkan keputusan mengenai kepengurusan mendatang kepada para pemilik mandat dan suara sah melalui mekanisme musyawarah yang berlaku.
“Kehadiran saya hanya untuk meluruskan dan menjaga harta milik Allah SWT. Jika pengelolaan harta wakaf ini sudah transparan, benar, dan kembali pada kemaslahatan umat, maka selesailah tugas saya, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah SWT,” katanya.
Edi juga mengakui dirinya bukan manusia yang sempurna dan tidak luput dari kekurangan. Ia berharap perbedaan pandangan dalam proses menuju MUSLIM tidak menghilangkan semangat persaudaraan di tengah masyarakat Peusangan Raya.
Ia mengajak seluruh pihak menempatkan kejujuran, keterbukaan, dan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita, meluruskan niat kita, menjauhkan kita dari fitnah dan permusuhan, serta memberikan petunjuk dan kekuatan kepada kita semua untuk menjaga amanah dan menegakkan kebenaran,” tuturnya.
Bagi Edi, keberhasilan MUSLIM nantinya tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang terpilih sebagai pengurus. Keberhasilan juga harus tercermin dari terjaganya persaudaraan, meningkatnya kepercayaan masyarakat, transparannya pengelolaan aset wakaf, serta semakin luasnya manfaat yayasan bagi pendidikan dan kehidupan umat.
Sebab, kepengurusan dapat berganti seiring waktu, tetapi amanah untuk menjaga harta wakaf dan mempertanggungjawabkannya kepada masyarakat serta Allah SWT tetap menjadi kewajiban bersama (**)

0 Komentar