![]() |
Ustadz Bahagia Hadi, S.Pd., M.Pd. Menyampaikan Tausyiah Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di SMAN 2 Bireuen (11/9) |
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Langit di atas SMA Negeri 2 Bireuen tampak mendung. Awan kelabu perlahan menutup cahaya matahari, seolah membawa suasana berbeda pada sebuah pagi yang biasanya dipenuhi aktivitas belajar mengajar.
Namun, mendung hari itu bukan alasan untuk meredupkan semangat. Justru di tengah suasana alam yang teduh, halaman sekolah dipenuhi nuansa religius dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ.
Peringatan Maulid tersebut menjadi momentum bagi warga sekolah untuk tidak sekadar mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ, tetapi juga menggali kembali makna keteladanan, kecintaan terhadap ilmu, serta hubungan antara pengetahuan agama dan ilmu-ilmu umum.
Pesan itu mengemuka dalam tausyiah yang disampaikan Ustadz Bahagia Hadi, S.Pd., M.Pd.
Rangkaian kegiatan dipandu pembawa acara dengan menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Penggunaan dua bahasa tersebut memberi warna tersendiri, sekaligus menyampaikan pesan bahwa nilai-nilai yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ bersifat universal dan dapat menjangkau manusia tanpa sekat bahasa maupun wilayah.
Ustadz Bahagia Hadi membuka tausyiahnya dengan sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi sarat makna.
"Siapakah sebenarnya Nabi kita Muhammad ﷺ, sehingga para nabi terdahulu pun akan merasa cemburu atas kemuliaan kedudukannya?"
Pertanyaan itu menjadi pintu masuk untuk mengajak para siswa mengenal lebih jauh sosok Rasulullah ﷺ sebagai pembawa risalah dan teladan bagi umat manusia.
Ia kemudian mengisahkan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ yang secara umum dalam tradisi Islam diperingati pada 12 Rabiul Awal, pada tahun yang dikenal sebagai Tahun Gajah.
Istilah Tahun Gajah merujuk pada peristiwa penyerangan Ka'bah oleh pasukan yang dipimpin Abrahah. Kisah tersebut diabadikan dalam Surah Al-Fil.
"Tidakkah kamu mengetahui apa yang telah diperbuat Tuhanmu kepada pasukan gajah?"
Ayat tersebut menggambarkan bagaimana rencana pasukan gajah untuk menghancurkan Ka'bah digagalkan oleh kekuasaan Allah SWT.
Dari kisah itu, Ustadz Bahagia Hadi membawa para siswa kepada pesan yang lebih luas, bahwa kelahiran Rasulullah ﷺ harus dipahami bukan hanya sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai momentum hadirnya risalah yang membawa manusia keluar dari kegelapan menuju jalan yang penuh petunjuk.
Bagian paling menarik muncul ketika sang penceramah melempar pertanyaan kepada para siswa.
"Anak-anakku, apakah belajar agama itu wajib?"
Jawaban para siswa terdengar serempak.
"Wajib!"
Pertanyaan berikutnya membuat suasana berubah.
"Lalu, apakah belajar matematika, fisika, biologi, dan kimia itu wajib?"
Sebagian siswa menjawab ragu.
"Tidak..."
Ustadz Bahagia Hadi kemudian memberikan perspektif berbeda.
"Tidak demikian, anak-anakku tercinta."
Menurut dia, ilmu agama dan ilmu umum tidak semestinya ditempatkan sebagai dua kutub yang saling bertentangan. Agama mengajarkan manusia mengenal Allah dan memahami tujuan kehidupan.
Sementara matematika, fisika, biologi, kimia dan berbagai disiplin ilmu lainnya membantu manusia membaca keteraturan, hukum, proses dan fenomena yang ada di alam semesta.
Dengan demikian, ilmu pengetahuan semestinya tidak membuat manusia semakin jauh dari Tuhan. Sebaliknya, ilmu dapat menjadi jalan untuk menyadari betapa luas dan teraturnya ciptaan Allah SWT.
Matematika berbicara tentang keteraturan dan ketepatan. Fisika mengajak manusia memahami hukum-hukum alam. Biologi membuka mata terhadap kompleksitas kehidupan. Kimia memperlihatkan bagaimana berbagai unsur dan zat berinteraksi secara teratur.
"Mempelajari dunia adalah salah satu cara kita mengenal Tuhan lebih dekat," demikian pesan yang disampaikan dalam tausyiah tersebut.
Pesan itu menjadi penting bagi dunia pendidikan. Sebab, sekolah tidak hanya bertugas mencetak siswa yang mampu menjawab soal ujian. Sekolah juga memiliki tanggung jawab membentuk manusia yang mampu menggunakan pengetahuan dengan akal sehat, moral, tanggung jawab dan kesadaran spiritual.
Para siswa kemudian diajak memahami bahwa ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum bukanlah dua hal yang harus dipisahkan secara kaku. Keduanya dapat menjadi dua sayap yang menopang manusia untuk terbang menuju peradaban.
Ilmu tanpa nilai dapat kehilangan arah. Sebaliknya, semangat keberagamaan tanpa keluasan pengetahuan dapat membuat manusia kesulitan membaca perubahan zaman.
Di sinilah pendidikan menemukan tantangannya. Membentuk generasi berilmu tidak cukup hanya dengan mengejar nilai akademik.
Generasi masa depan juga membutuhkan karakter, integritas, kepedulian, kemampuan berpikir kritis dan keteguhan moral.
Karena itu, peringatan Maulid di lingkungan sekolah seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan.
"Maulid semestinya menjadi ruang untuk bertanya kembali, sudah sejauh mana kecintaan kepada Rasulullah ﷺ diterjemahkan dalam perilaku nyata?
"Apakah cinta kepada Nabi hanya diwujudkan melalui lantunan selawat?
"Ataukah juga melalui kesungguhan belajar, kejujuran, disiplin, menghormati guru, menyayangi sesama, menjaga lingkungan dan menggunakan ilmu untuk memberikan manfaat?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat peringatan Maulid memiliki makna lebih dalam.
Dalam tradisi Islam, kewajiban menuntut ilmu memiliki kedudukan penting. Salah satu hadis yang masyhur menyebutkan,
"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim."
(HR Ibnu Majah)
Pesan tersebut menjadi relevan ketika dikaitkan dengan dunia pendidikan modern.
Belajar tidak semestinya dipahami sebagai kewajiban yang berhenti ketika seseorang menerima ijazah. Belajar adalah proses sepanjang kehidupan.
Bagi siswa, belajar matematika, fisika, biologi, kimia, bahasa, teknologi maupun ilmu sosial bukan sekadar mengejar angka di rapor. Semua itu merupakan bagian dari upaya memahami dunia dan mempersiapkan diri untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.
"Dalam perspektif keislaman, ilmu juga membawa konsekuensi moral.
Semakin tinggi ilmu seseorang, semestinya semakin besar pula tanggung jawabnya untuk tidak menyalahgunakan pengetahuan.
"Ilmu seharusnya menerangi, bukan membutakan.
"Ilmu seharusnya membangun, bukan menghancurkan.
"Dan ilmu seharusnya mendekatkan manusia kepada kebenaran, bukan menjadi alat untuk membenarkan kesalahan.
Peringatan Maulid di SMA Negeri 2 Bireuen akhirnya bukan sekadar tentang sebuah tanggal dalam kalender keagamaan.
Ia menjadi refleksi tentang pendidikan, keteladanan dan masa depan generasi muda.
"Langit boleh mendung. Matahari boleh tertutup awan. Tetapi semangat mencari ilmu tidak boleh ikut redup.
Di bawah langit yang kelabu itu, para siswa justru mendapatkan pesan yang terang bahwa, mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya dengan mengucapkan selawat, tetapi juga dengan meneladani semangat beliau dalam mencari kebenaran, membangun peradaban dan memberi manfaat kepada sesama.
Pada akhirnya, pendidikan membutuhkan dua kekuatan sekaligus yaitu, kecerdasan yang menerangi pikiran dan akhlak yang menerangi hati.
Jika keduanya berjalan beriringan, sekolah tidak hanya melahirkan anak-anak yang pintar menjawab soal.
Sekolah dapat melahirkan generasi yang tahu untuk apa ilmu itu dipelajari, kepada siapa ilmu itu dipertanggungjawabkan, dan untuk siapa ilmu itu digunakan.
Itulah cahaya yang sesungguhnya. Bukan cahaya yang selalu terlihat di langit, tetapi cahaya yang tumbuh dalam hati manusia ketika ilmu, iman dan akhlak berjalan dalam satu arah.
Penulis:
Hasan Basri, S.Pd., MM
Pemerhati Pendidikan
Kepala SMAN 2 Bireuen
Editor (JJ)

0 Komentar