Breaking News

Menyalakan Kembali Cahaya Peradaban dari SMAN 2 Bireuen

Oleh: Hasan Basri
Pengajian, Tausyiah dan Zikir Jum'at di SMAN 1 Kabupaten Bireuen, Aceh (14/8) 

 ACEH, OPINI, REAKSIONE.ID
| Pagi itu, halaman SMAN 2 Bireuen bukan sekadar dipenuhi seribuan siswa dan guru. Ada sesuatu yang jauh lebih penting, sebuah pesan tentang masa depan yang disampaikan dari mulut seorang siswi kepada generasi yang kelak akan menentukan wajah Aceh.

Keheningan masih menggantung ketika seorang siswi melangkah ke depan. Ia menyampaikan kultum dengan suara jernih dan penuh keyakinan.

Namun, yang keluar dari lisannya bukan sekadar nasihat keagamaan yang biasa didengar lalu dilupakan.

Ia membawa satu pertanyaan besar, mengapa umat yang pernah menjadi pelopor ilmu pengetahuan justru hari ini sering tertinggal dalam budaya membaca, meneliti, berpikir dan menciptakan?

Sebab peradaban tidak pernah lahir dari masyarakat yang gemar berhenti bertanya. Ketika “Iqra” Mulai Kehilangan Makna
Islam sesungguhnya telah meletakkan ilmu pada tempat yang sangat tinggi.

Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW dimulai dengan satu perintah yang sederhana, tetapi daya ledaknya luar biasa." Iqra’-bacalah.

Membaca bukan hanya mengeja huruf. Membaca adalah membuka cakrawala, meneliti kenyataan, memahami manusia, mengamati alam, menguji kebenaran dan menemukan jalan keluar dari persoalan kehidupan.

Dalam penjelasan Prof. Dr. M. Quraish Shihab melalui Tafsir Al-Misbah, makna Iqra’ memiliki cakupan luas, termasuk menghimpun dan membaca berbagai tanda kebesaran Allah di alam semesta.

Artinya, seorang Muslim tidak cukup hanya pandai berbicara tentang ilmu.

Ia harus mencintai proses memperoleh ilmu.BSebab Al-Qur'an pun menegaskan bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)

Maka menjadi ironi apabila sekolah dipenuhi buku, perpustakaan tersedia, internet berada di genggaman, teknologi berkembang begitu cepat, tetapi budaya membaca justru semakin kehilangan daya tarik.

Di sinilah pendidikan harus berani bertanya kepada dirinya sendiri, Apakah kita sedang mencetak generasi berilmu atau sekadar generasi yang pandai mengejar nilai?
Peradaban Besar Tidak Dibangun oleh Generasi yang Malas Membaca

Sejarah Islam pernah memberikan jawaban yang sangat jelas. Pada masa yang dikenal sebagai Islamic Golden Age, dunia Islam menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan. 

Para ilmuwan, filosof, dokter, matematikawan dan cendekiawan bekerja melalui tradisi membaca, menulis, berdiskusi, menerjemahkan, menguji dan mengembangkan pengetahuan.

Ibnu Sina menjadi nama besar dalam sejarah kedokteran melalui Al-Qanun fi al-Tibb.

Al-Khawarizmi memberikan kontribusi fundamental terhadap perkembangan matematika melalui karya tentang al-jabr, yang kemudian melahirkan istilah algebra atau aljabar.

Karya-karya ilmuwan Muslim tersebut tidak berhenti di ruang-ruang kajian keagamaan. Gagasannya menyeberangi zaman, wilayah dan peradaban.

Inilah pelajaran terpentingnya, 
Ilmu yang benar-benar ditekuni tidak pernah mati. Ia diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, berbicara tentang kejayaan masa lalu tanpa membangun tradisi ilmu pada hari ini hanya akan melahirkan nostalgia.

Kita tidak membutuhkan generasi yang hanya bangga menyebut nama Ibnu Sina, Al-Khawarizmi atau Al-Ghazali.

Kita membutuhkan generasi yang memiliki keberanian untuk melahirkan Ibnu Sina, Al-Khawarizmi dan Al-Ghazali baru dalam konteks zamannya.

Aceh Tidak Cukup Hanya Damai
Pesan siswi tersebut menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan Aceh.

Perdamaian adalah nikmat besar. Setelah perjalanan sejarah yang panjang dan penuh luka, generasi hari ini memiliki kesempatan untuk tumbuh tanpa harus mewarisi kekerasan sebagai jalan menyelesaikan persoalan.

Tetapi ada satu hal yang tidak boleh dilupakan."Perdamaian tanpa pembangunan manusia dapat menjadi perdamaian yang rapuh.

"Aceh membutuhkan lebih dari sekadar suasana aman. Aceh membutuhkan sekolah yang melahirkan pemikir.

"Membutuhkan kampus yang melahirkan peneliti.

"Membutuhkan generasi muda yang mampu menguasai teknologi.

"Membutuhkan birokrat yang memahami data.

Dan yang paling penting, membutuhkan manusia berilmu yang tidak kehilangan akhlak. Sebab kecerdasan tanpa moral dapat menjadi bencana, sementara moral tanpa pengetahuan sering kali tidak cukup kuat menghadapi kompleksitas zaman.

Ilmu Harus Melahirkan Adab
Gagasan Syed Muhammad Naquib al-Attas tentang pendidikan patut ditempatkan dalam konteks ini. Ilmu dalam tradisi Islam tidak semata-mata ditujukan untuk membuat manusia pintar.

Ilmu harus melahirkan adab.
Manusia berilmu harus mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya, membedakan kebenaran dan kebatilan, memahami tanggung jawab, serta menggunakan pengetahuannya untuk kemaslahatan.

Karena itu, sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat mengejar angka di rapor.

Sekolah harus menjadi tempat membangun karakter, rasa ingin tahu, keberanian berpikir, kemampuan berdialog dan kecintaan terhadap kebenaran.

Di tengah derasnya arus media sosial, kecerdasan buatan dan banjir informasi, kemampuan membedakan fakta dari kebohongan justru semakin penting.Hari ini seseorang bisa menjadi viral hanya dalam beberapa detik.

Tetapi menjadi berilmu membutuhkan bertahun-tahun membaca, belajar, menguji dan menempa diri.

Seribu Siswa, Satu Pesan Besar
Karena itu, apa yang terjadi di halaman SMAN 2 Bireuen patut dilihat lebih jauh daripada sekadar sebuah kegiatan keagamaan di sekolah.

Seribu lebih siswa yang duduk menyimak sebenarnya sedang berada di persimpangan sejarah mereka sendiri.

Mereka adalah generasi yang akan mengisi ruang-ruang pemerintahan, pendidikan, teknologi, ekonomi, kesehatan, hukum dan berbagai sektor kehidupan.

Di antara mereka, tentu berpotensi besar dan sangat mungkin ada calon dokter, 
Ada calon guru.
Ada calon ilmuwan.
Ada calon insinyur.
Ada calon pemimpin.

Bahkan mungkin ada seseorang yang kelak menemukan sesuatu yang hari ini belum pernah dibayangkan.

Pertanyaannya sudah pasti bukan, apakah mereka mampu.

Melainkan yang patut dipertanyakan adalah, apakah lingkungan pendidikan memberi mereka cukup ruang untuk bertumbuh?

Sebuah kultum mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun, satu kalimat yang tepat dapat tinggal bertahun-tahun dalam ingatan seorang anak muda.

"Satu buku dapat mengubah jalan hidup seseorang. Satu guru dapat menyalakan keberanian.

Dan satu sekolah dapat menjadi tempat lahirnya sebuah generasi baru." Jangan Hanya Menghafal Kejayaan Masa Lalu
Aceh memiliki sejarah panjang tentang ulama, intelektual dan tradisi keilmuan.

Tetapi sejarah tidak boleh hanya dipajang sebagai kebanggaan." Sejarah seharusnya menjadi cermin sekaligus cambuk.

Jika dahulu para pendahulu berani menerjemahkan ilmu dari berbagai peradaban, berdiskusi, menulis dan mengembangkan pengetahuan, maka generasi hari ini seharusnya tidak boleh kalah hanya karena terlena oleh kemudahan teknologi.

Jangan sampai gawai yang seharusnya menjadi perpustakaan berjalan justru berubah menjadi mesin penghabis waktu.

Jangan sampai algoritma media sosial lebih banyak membentuk pikiran anak-anak kita daripada guru, buku dan lingkungan pendidikan.

Dan jangan sampai slogan tentang kejayaan Islam lebih sering terdengar daripada praktik nyata mencintai ilmu. Sebab peradaban tidak dibangun oleh slogan. 

Peradaban dibangun oleh manusia yang membaca, berpikir, bekerja dan menciptakan." Cahaya Itu Harus Dinyalakan. 

Apa yang disampaikan seorang siswi di hadapan seribuan warga sekolah tersebut sesungguhnya membawa pesan yang jauh lebih besar daripada halaman sekolah itu sendiri.

Ia mengingatkan kita bahwa cahaya peradaban tidak pernah padam karena zaman. Cahaya itu padam ketika manusia berhenti mencarinya.

Maka dari SMAN 2 Bireuen, dari sekolah-sekolah di Bireuen, dari seluruh pelosok Aceh, mari menyalakan kembali budaya membaca.

"Bukan membaca untuk sekadar lulus ujian.

"Bukan membaca agar terlihat pintar.

"Tetapi membaca untuk memahami dunia, memperbaiki kehidupan dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Aceh membutuhkan generasi religius, kritis, berilmu, kreatif, beradab dan berani menciptakan masa depan.

Sebab mungkin saja, di antara seribu siswa yang duduk bersila pagi itu, sedang tumbuh seseorang yang kelak mengubah dunia.

Dan jika cahaya itu benar-benar dinyalakan, boleh jadi sejarah baru peradaban tidak dimulai dari gedung-gedung megah.
Ia justru dimulai dari sebuah sekolah, dari sebuah buku, dari sebuah pertanyaan, dan dari satu kata yang sejak lebih dari empat belas abad lalu telah mengguncang kesadaran manusia."Iqra’. (**) 

Penulis adalah;
Pemerhati Pendidikan yang juga Kepala SMAN 2 Bireuen, Aceh. 
Hasan Basri., S.Pd, MM

1 Komentar

  1. Allahu Abar..semoga akan lahir generasi literasi yg serupa dari pintu gerbang SMAN 2 Bireuen

    BalasHapus

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya