Breaking News

Ukur Hati dengan Hati, Pesan Murtalamuddin Menggetarkan Perjusami Bireuen

Kadis Pendidikan Aceh, Murtalamuddin, pada malam penutupan Perkemahan Jumat, Sabtu dan Minggu di SMAN 1 Kuala, Kabupaten Bireuen, Aceh 10/10) 

 BIREUEN, REAKSIONE.ID |  Perkemahan Jumat, Sabtu, dan Minggu (Perjusami) bukan sekadar kegiatan kepramukaan untuk melatih kedisiplinan, kemandirian, dan kerja sama. 

Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk menanamkan nilai kemanusiaan, membangun karakter, serta mengajarkan arti persahabatan yang tulus.

Pesan itulah yang mengemuka dalam penutupan kegiatan Perjusami di Kabupaten Bireuen ketika Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murtalamuddin, menyampaikan refleksi mendalam kepada para pembina dan peserta putra-putri terbaik dari berbagai sekolah di Kabupaten Bireuen.

Di tengah suasana penghujung kegiatan, ketika cahaya matahari perlahan meredup di ufuk barat, Murtalamuddin mengingatkan bahwa ada satu prinsip sederhana yang kerap terlupakan dalam kehidupan bersama. "Mengukur hati dengan hati.

Pesan tersebut bukan sekadar rangkaian kata indah untuk mengakhiri kegiatan. Di baliknya tersimpan ajakan untuk membangun hubungan antarmanusia dengan ketulusan, empati, dan kemampuan memahami orang lain tanpa terburu-buru menghakimi.

Perkemahan Jumat, Sabtu, dan Minggu (Perjusami) di SMAN 1 Kuala, Kabupaten Bireuen, Aceh (10/10) 

“Anak-anakku sekalian, dalam berjalan bersama, dalam bersahabat, dalam bekerja sama, ada satu hal yang tak boleh kita lupa, yaitu, ukurlah hati dengan hati. Bukan dengan kata, bukan dengan prasangka, bukan dengan asumsi. Tapi hati bertemu dengan hati,”
pesannya.


Dalam kehidupan sehari-hari, persahabatan kerap diuji oleh hal-hal kecil. Ada yang merasa kurang dihargai karena tidak disapa lebih dahulu. Ada yang kecewa karena merasa pemberiannya tidak dibalas. 

Tidak sedikit pula yang salah memahami sikap orang lain hanya karena mendengar cerita sepihak atau membangun prasangka sendiri.

Persahabatan sejati tidak semestinya dibangun atas dasar perhitungan tentang siapa yang paling banyak memberi, siapa yang paling sering diperhatikan, atau siapa yang paling menonjol di antara yang lain.

“Persahabatan itu bukan tentang siapa yang paling dulu menyapa, bukan siapa yang paling banyak memberi, dan bukan pula siapa yang paling terlihat di depan. Persahabatan sejati adalah ketika kita mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, ketika kita memahami tanpa harus banyak bicara, dan ketika kita menerima apa adanya, tanpa syarat,” lanjutnya.

Pesan ini relevan bagi generasi muda yang sedang belajar mengenali diri sendiri sekaligus memahami orang lain. Sebab, kecerdasan dalam bergaul tidak hanya diukur dari kemampuan berbicara, tetapi juga dari kesanggupan mendengarkan, menghormati perbedaan, dan menjaga perasaan sesama.

Di tengah kehidupan yang semakin mudah memunculkan kesalahpahaman, kemampuan untuk menahan diri sebelum menghakimi menjadi bagian penting dari pendidikan karakter.

Perjusami mempertemukan peserta dengan latar belakang, kebiasaan, karakter, dan kemampuan yang beragam. Ada yang cekatan, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang berani tampil di depan, ada pula yang lebih nyaman bekerja dalam diam.

Perbedaan semacam itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan atau menjauhkan satu sama lain.

Murtalamuddin mengingatkan bahwa keberagaman karakter justru dapat menjadi kekuatan apabila setiap orang bersedia memahami dan menghargai sesamanya.

“Ukur hatimu dengan hatinya. Jika engkau ingin dihargai, hargailah dia. Jika engkau ingin dimaklumi, maklumilah kekurangannya. Karena manusia tidak sempurna, tapi persahabatan yang tulus akan menyempurnakan ketidaksempurnaan itu,” ungkapnya.

Kalimat tersebut menyentuh salah satu persoalan mendasar dalam kehidupan bersama. Manusia sering menuntut orang lain memahami dirinya, tetapi belum tentu bersedia melakukan hal yang sama.

Padahal, kebersamaan tidak berarti semua orang harus memiliki pendapat, kemampuan, atau cara bekerja yang seragam. Kebersamaan justru membutuhkan kesediaan untuk saling melengkapi.

“Di sini, di Perjusami ini, kalian belajar satu hal yang paling penting, bahwa kita berbeda, namun kita tetap satu tujuan. Ada yang tegas, ada yang lembut, ada yang cepat, ada yang perlahan. Ketika kalian saling mengukur dengan hati, perbedaan itu bukan lagi tembok, melainkan jembatan,” tuturnya.

Dalam konteks pendidikan, nilai tersebut menjadi bekal penting bagi peserta didik untuk membangun lingkungan sekolah yang sehat, menghormati teman, menghindari perundungan, serta menyelesaikan persoalan melalui komunikasi dan saling pengertian.

Pesan Murtalamuddin juga mengandung makna yang lebih luas tentang kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kewenangan, kemampuan memberikan perintah, atau keberanian mengambil keputusan.

Pemimpin juga harus memiliki kepekaan untuk memahami keadaan orang-orang yang dipimpinnya.

“Kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan pada jabatannya, tapi pada seberapa besar hatinya mampu menampung orang lain,” pesannya.

Pandangan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan yang baik tidak dibangun semata-mata melalui posisi formal, tetapi juga melalui keteladanan, kepedulian, dan kemampuan memperlakukan orang lain secara adil.

Nilai tersebut penting ditanamkan sejak dini. Peserta didik yang belajar menghargai teman, bertanggung jawab dalam kelompok, dan bersedia membantu orang lain sedang membangun fondasi kepemimpinan yang akan berguna dalam kehidupan bermasyarakat kelak.

Karena itu, keberhasilan kegiatan kepramukaan tidak semestinya hanya dinilai dari kelancaran acara, kedisiplinan peserta, atau kemeriahan perkemahan. Ukuran yang tidak kalah penting adalah sejauh mana nilai-nilai yang diajarkan mampu diterapkan setelah peserta kembali ke lingkungan masing-masing.

Murtalamuddin pun berpesan agar seluruh peserta membawa pulang semangat kebersamaan yang telah mereka bangun selama Perjusami.

“Maka pulanglah ke sekolah masing-masing. Bawalah semangat ini. Jadilah sahabat yang meneduhkan. Jadilah pemimpin yang mengerti,” ujarnya.

Ia menutup pesannya dengan doa dan pengingat agar prinsip tersebut tetap menjadi pegangan dalam perjalanan hidup para peserta.

“Selamat kembali, semoga langkah kalian selalu diridhoi Allah SWT. Ingatlah selalu, ukur hati dengan hati. Karena itulah cahaya yang tak akan pernah padam.”

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Cabang Dinas Pendidikan Aceh Wilayah Bireuen, Yusnita, S.E., Ak., S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan Perjusami.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA/SMK, SLB, beserta jajaran masing-masing atas dukungan dan keterlibatan mereka dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

Menurut Yusnita, keberhasilan Perjusami tidak terlepas dari kebersamaan dan kekompakan seluruh pihak yang terlibat. Kerja sama tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan setiap rangkaian kegiatan berjalan dengan baik.

“Alhamdulillah, kegiatan Perjusami ini berjalan sukses, namun perlu juga diketahui kegiatan tidak terlepas dari kebersamaan dan kekompakan yang terjalin,” demikian pesan yang disampaikannya.

Apresiasi tersebut menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan pendidikan tidak lahir dari kerja satu atau dua orang semata. Diperlukan koordinasi, tanggung jawab, dan semangat gotong royong dari seluruh unsur yang terlibat.

Pada akhirnya, Perjusami akan berakhir. Tenda-tenda akan dibongkar, perlengkapan dikemas, dan para peserta kembali ke sekolah serta kehidupan sehari-hari.

Namun, nilai yang diperoleh selama kegiatan semestinya tidak ikut ditinggalkan di lokasi perkemahan.

Pesan “ukur hati dengan hati” akan kehilangan makna apabila hanya dikenang sebagai kalimat indah dalam acara penutupan. 

Pesan itu baru benar-benar hidup ketika peserta mampu menghargai teman yang berbeda pendapat, membantu mereka yang mengalami kesulitan, mengakui kesalahan, dan tidak mudah menilai seseorang berdasarkan prasangka.

Hal yang sama berlaku bagi para pendidik dan pemimpin. Keteladanan bukan hanya tentang menyampaikan nasihat, melainkan juga kesanggupan menjalankan nilai-nilai tersebut dalam tindakan nyata.

Sebab, pendidikan sejatinya bukan semata-mata tentang mencerdaskan pikiran, melainkan juga membentuk hati dan perilaku.

Mengukur hati dengan hati berarti belajar memahami sebelum menghakimi, menghargai sebelum menuntut dihargai, serta merangkul perbedaan tanpa kehilangan tujuan bersama.

Jika nilai itu benar-benar dibawa pulang dari Perjusami, kegiatan tersebut tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga menanamkan bekal kehidupan bagi generasi muda Bireuen.

Penulis:
Hasan Basri, S.Pd., M.M.,
Pemerhati pendidikan dan Kepala SMAN 2 Bireuen.

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya