Breaking News

Spanduk GLS Dibalik Guru Mandek Literat

Gerakan Literasi Siswa di SMAN 1 Simpang Mamplam, Bireuen, Aceh (dok) 


 ACEH, REAKSIONE.ID | Kita terlalu sering sibuk bertanya mengapa Gerakan Literasi Siswa (GLS) belum berjalan maksimal. Jadwal membaca disusun, pojok baca dibuat, buku dikumpulkan, program dicanangkan. Dalam berbagai rapat sekolah dan forum pendidikan, literasi siswa hampir selalu menjadi agenda yang dianggap penting.

Namun, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar dan mungkin justru membuat kita tidak nyaman." Sudah seberapa kuat budaya literasi di kalangan guru?

Pertanyaan ini penting karena sekolah tidak mungkin membangun budaya membaca hanya dengan membuat program. Literasi tidak lahir dari spanduk, jadwal kegiatan, atau sekadar rutinitas membaca beberapa menit sebelum pembelajaran dimulai.

Di sinilah persoalan yang kerap luput dari perhatian. Kita begitu bersemangat meminta siswa membaca, berpikir kritis, mampu menganalisis informasi, dan terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Tetapi pada saat yang sama, apakah guru juga terus melakukan hal yang sama?

Jangan sampai kita berada dalam situasi paradoks." Guru menyuruh murid berlari mengejar pengetahuan, sementara dirinya sendiri berhenti di tempat.

Menjadi guru bukan berarti berhenti belajar setelah memperoleh ijazah, sertifikat pendidik, atau bertahun-tahun mengajar di ruang kelas.

Justru sebaliknya.
Semakin lama seseorang menjadi guru, semakin besar pula tuntutan untuk memperbarui pengetahuan. 

Dunia berubah, ilmu berkembang, teknologi bergerak cepat, karakter peserta didik berubah, dan cara manusia memperoleh informasi pun mengalami transformasi.

Karena itu, literasi guru tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis.

Literasi guru adalah kemampuan untuk membaca perubahan, memahami informasi, menguji kebenaran, berpikir kritis, memperbarui pengetahuan, lalu menerjemahkannya menjadi pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik.

"Guru yang berhenti membaca berisiko mengajar dengan pengetahuan 'mandek' yang tidak lagi berkembang.

Pengetahuan 'mandek' yang tidak diperbarui lama-kelamaan seperti air yang tergenang. Ia mungkin masih terlihat penuh, tetapi tidak lagi mengalir. Sementara dunia di luar sekolah terus bergerak dengan kecepatan yang sulit dibendung.

Pertanyaannya kemudian." Mampukah guru mengantarkan murid menghadapi masa depan jika dirinya sendiri tidak mau memperbarui bekal pengetahuan?

Ada satu prinsip sederhana dalam pendidikan." Anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang guru katakan, tetapi juga dari apa yang guru lakukan.

Ketika guru meminta murid membaca buku, tetapi murid jarang melihat gurunya membaca, pesan literasi menjadi kehilangan kekuatan.

Sebaliknya, ketika seorang guru terbiasa membawa buku, membaca artikel, mengikuti perkembangan ilmu, berdiskusi, menulis, bertanya, dan mengakui bahwa dirinya pun masih harus belajar, sesungguhnya guru sedang memberikan pelajaran literasi yang jauh lebih kuat daripada sekadar instruksi.

Dikarenakan, keteladanan itu bekerja tanpa banyak kata. Murid akan melihat bahwa belajar bukan hukuman. 

"Membaca bukan kewajiban yang hanya berlaku bagi siswa. Dan mencari pengetahuan bukan kegiatan yang selesai setelah seseorang mendapatkan gelar.

Sudah barang tentu." Belajar adalah bagian dari kehidupan. Karena itu, Gerakan Literasi Guru (GLG) semestinya tidak sebatas ditempatkan sebagai program tambahan dibalik mandek pengetahuan, melainkan sebagai fondasi bagi Gerakan Literasi Siswa.

Bagaimana mungkin budaya literasi tumbuh subur di kelas apabila sumber keteladanannya justru mengalami kekeringan intelektual?

Jangan Sampai GLS Hanya Menjadi Rutinitas. Kita perlu berani mengevaluasi GLS secara lebih jujur.

Apakah siswa benar-benar membaca karena memiliki kesadaran, atau hanya karena ada jadwal?

Apakah mereka membaca untuk memahami dan berpikir, atau sekadar menyelesaikan kewajiban?

Apakah guru ikut membaca dan berdiskusi, atau hanya memastikan siswa menjalankan program?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting agar literasi tidak terjebak menjadi kegiatan administratif. Sebab literasi bukan sekadar aktivitas membuka buku.

"Literasi adalah kemampuan memahami dunia.

Siswa yang literat bukan hanya siswa yang banyak membaca, tetapi mampu memilah informasi, mempertanyakan sesuatu secara kritis, memahami konteks, menyusun argumentasi, dan mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan.

Untuk membangun kemampuan seperti itu, guru pun harus memiliki tradisi intelektual yang hidup.

Guru perlu membaca lebih banyak, berdiskusi lebih terbuka, menulis lebih sering, dan berani menguji kembali pengetahuan yang selama ini dianggap sudah benar.

Sudah waktunya gerakan literasi tidak hanya diarahkan dari guru kepada siswa. Gerakan itu harus dimulai dari guru kepada dirinya sendiri.

Luangkan waktu membaca sebelum meminta siswa membaca. Perbarui wawasan sebelum menuntut siswa berpikir kritis. Belajar memahami teknologi sebelum menyalahkan siswa karena terlalu dekat dengan teknologi.

Dengan cara itu, literasi menjadi budaya, bukan sekadar program. Guru tidak harus menjadi manusia yang mengetahui segala hal. Tetapi guru harus menjadi manusia yang tidak pernah berhenti ingin mengetahui sesuatu.

Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan teknologi, termasuk perkembangan kecerdasan buatan, tantangan guru semakin besar. Peserta didik dapat memperoleh informasi dalam hitungan detik. Mereka dapat menemukan jawaban dari berbagai sumber hanya melalui perangkat yang berada di tangan.

Maka keunggulan guru bukan lagi semata-mata pada kemampuan menyampaikan informasi.

Guru harus mampu membantu siswa menilai informasi, membedakan fakta dan opini, memahami konteks, menguji kebenaran, serta menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.

Dan semua itu membutuhkan guru yang terus belajar. Jangan biarkan GLS berjalan tertatih hanya karena sumbernya tidak lagi mengalir.

Mulailah dari guru.
Sebab sekolah yang ingin melahirkan generasi gemar membaca harus terlebih dahulu memiliki guru yang gemar belajar.

'Sekolah yang ingin melahirkan generasi kritis harus memiliki guru yang berani berpikir kritis.

Dan sekolah yang ingin melahirkan generasi pembelajar harus memiliki guru yang tidak pernah merasa selesai belajar.

Pada akhirnya, guru bukan sekadar pendorong yang berdiri di belakang murid. Guru harus menjadi pelopor yang berjalan di depan.

"Bukan dengan suara yang paling keras, tetapi dengan pengetahuan yang terus tumbuh.

"Bukan hanya menyuruh murid membuka buku, tetapi membuka pikirannya sendiri.

Karena GLS yang kuat tidak akan lahir dari guru yang berhenti membaca. Ia akan tumbuh dari guru yang terlebih dahulu menjadikan dirinya sebagai manusia pembelajar.

Oleh:
Hasan Basri, S.Pd., MM
Pemerhati Pendidikan Aceh
Kepala SMAN 2 Bireuen
4 September 2026
(Editor: JJ) 

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya