Breaking News

Kecerdasan Itu Bawaan, Beradab Pilihan

Hasan Basri., S.Pd., MM, Pemerhati Pendidikan Provinsi Aceh (24/9) 


 ACEH, OPINI, REAKSIONE.ID | Kecerdasan dapat mengantarkan seseorang menuju tempat yang tinggi. Namun, tanpa adab, ketinggian itu bisa kehilangan makna.

Ada pepatah yang patut direnungkan.“Pintar itu bawaan, beradab adalah pilihan.” Benar atau tidak sepenuhnya ungkapan itu secara ilmiah, tetapi sebagai refleksi kehidupan, kalimat tersebut menyimpan pesan yang dalam.

Setiap manusia lahir dengan potensi yang berbeda. Ada yang memiliki daya tangkap cepat, mudah memahami persoalan, mampu mengurai masalah rumit, serta piawai merangkai gagasan. Sebagian kemampuan itu merupakan anugerah yang tidak semua orang memilikinya.

Karena itu, kecerdasan bukan semata-mata alasan untuk membanggakan diri.
Ia adalah titipan.

Sebaliknya, adab tidak berhenti pada seberapa banyak seseorang mengetahui sesuatu. Adab terlihat dari bagaimana seseorang menggunakan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana ia berbicara kepada orang lain.

"Bagaimana ia mendengarkan.
Bagaimana ia menghormati mereka yang berbeda pandangan.

"Bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak memiliki jabatan, kekuasaan, gelar, ataupun pengaruh. Di situlah kecerdasan mendapatkan ujian sebenarnya.


Seseorang boleh memiliki gelar akademik berderet. Boleh menguasai banyak ilmu. Boleh menjadi orang paling cerdas dalam sebuah ruangan.

Namun, semua itu tidak otomatis menjadikannya manusia yang lebih baik. Sebab ilmu yang tinggi tanpa adab dapat berubah menjadi kesombongan. Pengetahuan yang luas tanpa kerendahan hati dapat melahirkan kebiasaan meremehkan orang lain.

"Kecerdasan semestinya menjadi cahaya. Bukan api yang membakar orang-orang di sekitarnya.

Ironisnya, semakin tinggi seseorang mendaki dalam pengetahuan, semakin besar pula godaan untuk merasa dirinya paling tahu.

Padahal, mengetahui banyak hal tidak berarti mengetahui segalanya. Memahami sesuatu lebih cepat bukan alasan untuk merendahkan mereka yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk memahami.

Berbeda pendapat bukan berarti lawan harus dipermalukan. Dan menjadi lebih berilmu tidak pernah menjadi tiket untuk kehilangan rasa hormat kepada sesama.

Justru semakin tinggi ilmu seseorang, semestinya semakin dalam kesadarannya bahwa masih begitu banyak hal yang belum diketahuinya.

Ilmu yang benar tidak membuat seseorang sibuk meninggikan dirinya. Ilmu justru mengajarkan manusia untuk mengenali keterbatasannya.

Sebab pada akhirnya, manusia tetaplah manusia. Jabatan akan berganti. Gelar akan tertinggal di belakang nama. Kekuasaan akan berpindah tangan. 

Kekayaan bisa datang dan pergi. Tetapi cara seseorang memperlakukan manusia lain akan meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang.

Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya mengejar kecerdasan intelektual. Sekolah, keluarga, dan lingkungan memiliki tanggung jawab yang sama untuk membentuk karakter.

Anak perlu diajarkan bukan hanya bagaimana mendapatkan nilai tinggi, tetapi juga bagaimana menghormati guru, menyayangi teman, menghargai orang tua, menerima perbedaan, meminta maaf ketika salah, serta membantu orang lain tanpa menghitung keuntungan.

Sebab manusia yang pintar belum tentu bijaksana. Tetapi manusia yang berilmu dan beradab memiliki peluang lebih besar untuk menjadikan ilmunya bermanfaat.

"Kecerdasan Membuka Jalan, Adab Menjaga Langkah
Kecerdasan dapat membuka pintu.

"Gelar dapat mengantarkan seseorang menuju kesempatan.
Keahlian dapat membuat seseorang dipercaya.

Namun, adab menentukan bagaimana seseorang berjalan setelah pintu itu terbuka. Ilmu membuat kita mampu berbicara. Adab mengajarkan kapan harus berbicara.

Ilmu membuat kita mengetahui. Adab mengajarkan bagaimana menggunakan pengetahuan. 

Ilmu dapat membuat kita terlihat hebat. Adab membuat kita tetap dihormati ketika tidak sedang berada di atas.

Di tengah kehidupan yang semakin kompetitif, manusia sering berlomba menunjukkan siapa yang paling pintar, paling berhasil, paling berpengaruh, dan paling mengetahui.

Padahal, ada pertanyaan yang jauh lebih penting."Setelah semua pencapaian itu dimiliki, masihkah kita mampu menghargai orang lain?

"Masihkah kita mau tersenyum kepada mereka yang tidak memiliki kepentingan dengan kita?

"Masihkah kita bersedia mendengarkan orang yang berbeda pandangan?

Masihkah kita mampu mengucapkan terima kasih kepada orang yang berjasa, meski jasanya dianggap kecil?

Dan yang paling penting, masihkah kita mampu menjadi manusia yang baik ketika tidak ada seorang pun yang sedang melihat?

Di situlah adab menemukan maknanya. Jangan Kehilangan Diri Karena Merasa Lebih Tinggi
Menjadi pintar adalah anugerah.
Menjadi berilmu adalah proses.
Tetapi menjadi manusia yang beradab adalah pilihan yang harus diperjuangkan setiap hari.

"Jangan sampai ketinggian ilmu membuat kita lupa cara merendahkan hati.

"Jangan sampai banyaknya pengetahuan membuat kita kehilangan rasa hormat.

"Jangan sampai keberhasilan membuat kita lupa kepada orang-orang yang pernah berjalan bersama ketika kita belum menjadi siapa-siapa.

Sebab manusia tidak hanya dikenang karena apa yang ia miliki atau seberapa tinggi posisinya. Manusia juga dikenang karena bagaimana ia memperlakukan orang lain.

Pada akhirnya, mungkin orang akan lupa sebagian dari apa yang pernah kita ajarkan.

Namun, mereka bisa mengingat jauh lebih lama bagaimana kita membuat mereka, merasa dihargai, didengarkan, dihormati, atau justru direndahkan.

Karena itu, jadilah cerdas tanpa kehilangan kesantunan. Jadilah berilmu tanpa kehilangan kerendahan hati. Jadilah hebat tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.

Sebab kecerdasan mungkin membawa kita naik. Tetapi adablah yang membuat kita tetap layak berada di tempat tinggi.

Penulis:
Hasan Basri, S.Pd, M.M
Pemerhati Pendidikan Aceh
Kepala SMAN 2 Bireuen
Editor (JJ) 

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya