Breaking News

Jadilah Guru yang Sebenar-Benarnya atau Jangan Sama Sekali

Hasan Basri.,S.Pd.,MM dalam sebuah momentum di SMAN 1 Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, Aceh (dok) 

 
ACEH, REAKSIONE.ID | Kalimat sederhana itu tiba-tiba terasa berat ketika diucapkan dalam sebuah forum Komunitas Belajar (Kombel) guru di Bireuen.

“Jadilah guru yang sebenar-benarnya, atau jangan sama sekali.”

Feri Irawan, kepala sekolah yang juga dikenal aktif menulis dan berbagi gagasan pendidikan melalui media cetak maupun elektronik, menyampaikannya dengan suara tenang. Namun pesan itu seperti mengetuk ruang paling dalam dari kesadaran para guru yang hadir.

Sebab, menjadi guru sejatinya bukan sekadar profesi."Bukan pula sekadar datang ke sekolah, mengisi daftar hadir, memenuhi beban kerja, menyampaikan materi, kemudian pulang setelah bel berbunyi.

Menjadi guru adalah keputusan moral untuk hadir dalam kehidupan anak-anak.

Di depan kelas, seorang guru tidak hanya membawa buku pelajaran. Ia membawa sikap, karakter, kebiasaan, cara berpikir, bahkan cara memperlakukan orang lain. 

Semua itu diamati murid, sering kali tanpa disadari oleh gurunya sendiri.

Karena itulah pertanyaan paling penting bukan sekadar, “Apa yang sudah saya ajarkan hari ini?”

Tetapi, “Teladan apa yang sudah saya tunjukkan hari ini?”

Feri mengingatkan, guru tidak boleh berhenti belajar jika ingin terus mengajar. “Kita harus terus belajar kalau ingin mengajar,” ujarnya di hadapan peserta Kombel.

Pesan itu semakin relevan ketika perubahan zaman bergerak jauh lebih cepat daripada perubahan cara mengajar.

Anak-anak hari ini tumbuh di tengah dunia yang berbeda. Mereka hidup dengan internet, media sosial, kecerdasan buatan, banjir informasi, perubahan budaya, serta pola komunikasi yang tidak sama dengan generasi sebelumnya.

Sementara sebagian guru masih membawa metode lama ke ruang kelas baru.

"Bagaimana mungkin kita mempersiapkan anak-anak menghadapi masa depan jika guru sendiri berhenti memperbarui pengetahuan?

"Bagaimana mungkin guru mengajarkan berpikir kritis jika dirinya enggan menerima perubahan?

"Bagaimana mungkin sekolah meminta peserta didik beradaptasi dengan perkembangan teknologi jika gurunya merasa cukup dengan pengetahuan yang diperoleh bertahun-tahun lalu?

Guru yang berhenti belajar berisiko mengajarkan masa lalu kepada anak-anak yang sedang dipersiapkan menghadapi masa depan.

Padahal pendidikan tidak pernah boleh berhenti pada apa yang sudah diketahui.

Pendidikan harus membawa manusia menuju apa yang belum diketahuinya.

Ada nasihat yang kerap dikaitkan dengan Imam Syafi’i. “Ajari anak-anakmu sesuai dengan zamannya, bukan sesuai dengan zamanmu.”

Terlepas dari perdebatan mengenai sumber persis ungkapan tersebut, pesannya tetap relevan sebagai refleksi pendidikan." Anak-anak hidup pada zaman yang berbeda, sehingga pendekatan pendidikan juga harus mampu membaca zamannya.

Guru tidak harus mengikuti setiap tren, tetapi wajib memahami dunia yang sedang dihadapi muridnya.

Sebab anak-anak tidak hidup di ruang kelas selama 24 jam. Mereka pulang ke rumah, membuka gawai, berselancar di internet, berinteraksi di media sosial, menyerap berbagai budaya, dan menerima informasi dari berbagai penjuru dunia.

Sekolah tidak lagi menjadi satu-satunya pintu pengetahuan. Karena itu, posisi guru pun berubah.

Guru bukan lagi sekadar sumber informasi. Melainkan harus menjadi penuntun, penyaring, pembimbing, sekaligus teladan dalam menggunakan pengetahuan secara benar.

"Keteladanan menjadi jauh lebih penting daripada sekadar ceramah.

Ada satu “buku” yang tidak pernah ditutup oleh murid. "Perilaku gurunya sendiri.

Murid mungkin lupa isi pelajaran setelah beberapa tahun.

Anak-anak mungkin lupa rumus, definisi, tanggal, atau teori yang pernah ditulis di papan tulis.
Namun mereka bisa mengingat bagaimana seorang guru memperlakukannya.

"Cara guru berbicara.
"Cara guru menegur.
"Cara guru meminta maaf.
"Cara guru menghargai orang lain.

"Cara guru menghadapi persoalan.

"Cara guru mengendalikan emosi ketika kelas gaduh. Dan semua itu sedang dibaca murid.

"Jika guru mengajarkan kejujuran tetapi dirinya tidak jujur, pesan pendidikan kehilangan kekuatannya.

"Jika guru mengajarkan kesantunan tetapi gemar merendahkan orang lain, murid akan melihat kontradiksi.

"Jika guru meminta murid disiplin tetapi dirinya sendiri sering mengabaikan waktu, maka keteladanan telah kalah sebelum pelajaran dimulai.

Yakinlah, "Murid tidak hanya mendengar apa yang guru katakan. Mereka mengamati siapa guru sebenarnya.

"Ada guru yang ketika masuk kelas membuat murid merasa aman untuk bertanya.

"Ada pula guru yang baru melangkah ke pintu kelas, murid justru berharap jam pelajaran segera berakhir.

Perbedaannya tidak selalu pada kecerdasan akademik, namun ianya acap kali mengikatkan diri pada ketulusan.

Guru yang baik tidak berarti guru yang selalu memanjakan murid. Ketegasan tetap diperlukan. Disiplin tetap harus ditegakkan. Batas-batas perilaku tetap harus dijaga.

Namun ketegasan tidak harus melukai. Disiplin tidak harus merendahkan. Kritik tidak harus mempermalukan.

Seorang guru dapat tegas sekaligus manusiawi. Sebab anak yang merasa dihargai akan lebih mudah membuka pikirannya. Anak yang merasa aman akan lebih berani bertanya. Dan anak yang merasa dipercaya akan lebih berani mencoba.

Pendidikan adalah tentang membuat anak berani tumbuh menjadi dirinya sendiri dengan karakter yang baik.

"Jangan Menjadi Guru Karena Sekadar PekerjaanInilah bagian yang paling sulit untuk direnungkan.

"Apakah kita menjadi guru karena panggilan, atau sekadar karena pekerjaan?

Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Sebab guru juga manusia. Guru memiliki kebutuhan hidup, keluarga, persoalan pribadi, kelelahan, dan berbagai tekanan pekerjaan. Karena itu, tidak adil jika guru dituntut selalu sempurna.

Tetapi menjadi manusia biasa bukan alasan untuk berhenti memperbaiki diri. Justru di situlah profesionalisme diuji.

"Guru tidak harus sempurna.
Guru hanya harus mau terus belajar menjadi lebih baik.
Lebih sabar.
Lebih terbuka.
Lebih kompeten.
Lebih adil.
Lebih memahami anak.

Dan lebih berani mengoreksi dirinya sendiri. Sebab pendidikan akan kehilangan ruhnya jika guru hanya bekerja untuk menggugurkan kewajiban.

Kita tidak membutuhkan guru yang sekadar hadir secara fisik.
Kita membutuhkan guru yang hadir secara pikiran, hati, dan tanggung jawab.

Suatu hari, murid-murid akan meninggalkan sekolah. Mereka akan tumbuh menjadi dokter, petani, pengusaha, birokrat, teknisi, akademisi, orang tua, pemimpin, atau mungkin menjalani profesi yang bahkan belum kita bayangkan hari ini.

Pada saat itu, sebagian besar pelajaran mungkin telah mereka lupakan. Tetapi bisa jadi mereka masih mengingat seorang guru yang pernah berkata, “Kamu pasti bisa.”

Mereka mungkin mengingat guru yang pernah memberikan kesempatan kedua.

"Guru yang tidak mempermalukan mereka ketika gagal.

"Guru yang mengajarkan bahwa kesalahan bukan akhir dari perjalanan.

"Guru yang membuat mereka percaya bahwa dirinya berharga. Itulah warisan seorang guru.

Bukan sekadar
nilai di buku rapor.

Bukan sekadar
tumpukan administrasi.

Bukan sekadar
jumlah jam mengajar.

Melainkan manusia-manusia yang pernah tumbuh karena sentuhan keteladanannya.
Maka pesan Feri Irawan di forum Kombel itu layak menjadi bahan perenungan seluruh insan pendidikan, 

Jadilah guru yang sebenar-benarnya." Guru yang terus belajar karena sadar ilmunya belum sempurna.

"Guru yang memahami zaman karena muridnya hidup di zaman yang berbeda.

"Guru yang tidak hanya mengajarkan kebaikan, tetapi berusaha menjadi contoh kebaikan.

"Guru yang kehadirannya membuat anak merasa aman, dihargai, dan terdorong untuk tumbuh.

Sebab sekolah tidak membutuhkan sekadar semakin banyak orang yang menyandang status guru.

Sekolah membutuhkan guru yang benar-benar menjadi guru. Guru yang hidupnya menjadi pelajaran. Sikapnya menjadi teladan. Kehadirannya menjadi harapan.

Dan setelah bertahun-tahun berlalu, namanya mungkin tidak lagi tercatat di papan sekolah, tetapi nilai-nilai yang ditanamkannya tetap hidup dalam diri anak-anak yang pernah dididiknya.

Jika memilih menjadi guru, jadilah guru dengan segenap kesungguhan. Jika tidak sanggup menghadirkan hati, keteladanan, dan kemauan untuk terus belajar, setidaknya jangan pernah lupa bahwa di depan kita ada anak-anak yang sedang mempercayakan masa depannya.

Penulis:
Hasan Basri.,S.Pd.,MM
Pemerhati Pendidikan
Kepala SMAN 2 Bireuen
(Editor, JJ

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya