Breaking News

Hardikda Aceh ke-67 Jangan Berhenti di Seremoni

Peringatan Hardikda ke-67 Tahun 2026 di SMAN 2 Bireuen, Provinsi Aceh (2/9) 

 ACEH, REAKSIONE.ID | Peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh ke-67 dinilai tak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum tersebut harus menjadi ruang evaluasi untuk memperkuat kembali peran sekolah, guru, dan orang tua dalam membentuk generasi Aceh yang berilmu sekaligus berkarakter.

Sekolah bukan sekadar tempat siswa menerima pelajaran. Lebih dari itu, sekolah merupakan ruang kehidupan tempat anak belajar berpikir, menganalisis persoalan, berdiskusi, membangun wawasan, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

Karena itu, sekolah tidak boleh dipandang sebagai tempat yang menjanjikan kesuksesan secara instan. Pendidikan membutuhkan proses, disiplin, kerja keras, dan ketekunan.

Setiap pengalaman yang berlangsung di lingkungan sekolah, baik di dalam maupun di luar kelas, sejatinya menjadi bagian dari proses pembentukan karakter siswa. Pengetahuan yang diperoleh harus mampu diterjemahkan menjadi sikap dan tindakan yang bermanfaat dalam kehidupan.

Di tengah proses tersebut, guru memiliki posisi penting. Guru bukan hanya bertugas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga menjadi pengarah sekaligus teladan bagi peserta didik.

Cara guru berbicara, bersikap, mengambil keputusan, hingga memperlakukan siswa menjadi bagian dari pendidikan karakter yang secara langsung dilihat dan dipelajari anak.

Dengan demikian, keteladanan guru tidak kalah penting dari materi yang disampaikan di ruang kelas. Sebab, siswa tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan guru, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dan rasakan setiap hari.

Keberhasilan pendidikan juga tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Peran keluarga, khususnya orang tua, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan anak.

Sekolah dan keluarga ibarat dua sayap yang harus bergerak seirama. Jika salah satunya tidak berfungsi, perkembangan anak berpotensi tidak berjalan maksimal.

Karena itu, komunikasi antara guru dan orang tua perlu dibangun secara terbuka dan berkelanjutan. Pengawasan, pendampingan, serta pembinaan terhadap siswa tidak cukup dilakukan ketika muncul persoalan.

Orang tua perlu mengetahui perkembangan anak di sekolah, sementara guru juga perlu memahami kondisi dan lingkungan anak di rumah. Kolaborasi tersebut menjadi fondasi penting agar potensi siswa dapat berkembang secara sehat, baik dari sisi akademik maupun karakter.

Pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa tinggi nilai yang diperoleh seorang siswa. Pendidikan juga berbicara tentang bagaimana pengetahuan tersebut membentuk manusia yang memiliki etika, tanggung jawab, kepedulian, dan kemampuan mengambil keputusan secara bijak.

"Peringatan Hardikda Aceh ke-67 menjadi momentum untuk kembali melihat pendidikan dari akar persoalannya.

Peringatan tersebut seharusnya tidak berhenti pada upacara, slogan, ataupun rangkaian kegiatan seremonial. Hardikda harus menjadi momentum untuk bertanya sejauh mana sekolah telah menjadi ruang aman dan produktif bagi siswa, sejauh mana guru mampu menjadi teladan, serta sejauh mana orang tua terlibat dalam perjalanan pendidikan anak.

Pendidikan merupakan salah satu fondasi utama dalam menentukan arah masa depan Aceh. Karena itu, penguatan karakter tidak boleh ditempatkan sebagai pelengkap, melainkan harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas akademik.

Sinergi antara sekolah, guru, orang tua, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci agar pendidikan tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak dan karakter yang kuat.

"Hardikda Aceh ke-67 pun menjadi pengingat bahwa masa depan Aceh sedang dibentuk di ruang-ruang kelas hari ini.

Di tangan generasi muda itulah perjalanan peradaban Aceh akan dilanjutkan. Maka, sekolah harus tetap menjadi jembatan pengetahuan sekaligus cermin karakter, sementara guru dan orang tua menjadi dua kekuatan yang memastikan jembatan tersebut mengantarkan anak-anak Aceh menuju masa depan yang lebih baik.

Penulis: 
Hasan Basri, S.Pd., MM
Kepala SMAN 2 Bireuen
Pemerhati Pendidikan. 

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya