Breaking News

Di Antara Peduli dan Tak Peduli: Guru yang Terjepit Harapan

Hasan Basri.,S.Pd.,MM, Kepala SMAN 2 Bireuen Provinsi Aceh (6/9) 

 ACEH,REAKSIONE.ID | Di ruang kelas yang penuh riuh harapan, berdiri sosok yang selalu menjadi cermin bagi siapa saja yang menatapnya guru. Ia adalah penunjuk jalan, pembimbing langkah, dan pengawal karakter.

Namun hari ini, ada kesedihan yang terselip di balik setiap langkahnya. Guru peduli, salah. Guru tak peduli, pun salah. Seolah-olah di mana pun ia melangkah, selalu ada batu yang menghadang, selalu ada tuduhan yang menanti.
 
Guru hadir bukan sekadar untuk menyampaikan pengetahuan. Tugasnya jauh lebih berat dari itu: membimbing, mengajarkan, dan mengevaluasi setiap pemahaman yang tumbuh di benak para siswa. Ia adalah cermin."Apa yang terlihat di sana, akan tercermin pula pada mereka yang menatapnya. 

Ketika orang tua menghantarkan anak-anak mereka ke gerbang sekolah, itu adalah sebuah perjanjian tak tertulis: serahkan putra-putri kami, dan kami percayakan sekolah untuk membentuk mereka dengan aturan, disiplin, dan nilai-nilai yang luhur.

Orang tua telah menyepakati disiplin itu saat mereka mengantar anaknya masuk. Namun ketika disiplin itu ditegakkan, perjanjian itu seakan lenyap.
 
Ketika guru tidak terlalu memperhatikan siswa, ia disebut mengabaikan tugas, tidak bertanggung jawab, membiarkan anak-anak terlantar tanpa arah. Namun ketika ia peduli, ketika ia berusaha menegur, membimbing dengan tegas, sedikit keras demi membangun karakter yang kuat, tanpa ampun ia dilaporkan, dikritik habis-habisan, bahkan dibawa ke pihak berwajib.

Tak ada ruang untuk memahami niat di balik ketegasan itu. Tak ada kata maaf, tak ada upaya bertanya: “Mengapa Bapak/Ibu guru melakukan demikian?” Langsung dihakimi, langsung dianggap salah.
 
Padahal, di balik setiap ketegasan itu, ada kepedulian yang mendalam. Ketika guru menegur, itu karena ia ingin siswanya tumbuh menjadi pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab.

Ketika ia membiarkan saja, itu bukan tanpa alasan, mungkin ia sedang berusaha mencari cara terbaik agar tidak melukai hati anak tersebut. Namun di mata banyak pihak, jarang ada pemahaman itu. Yang terlihat hanyalah kesalahan, bukan niat baik di baliknya.
 
Guru bukanlah makhluk yang sempurna. Ia bisa saja keliru. Namun ketika ia berbuat salah, seakan tidak ada sedikit pun kemaafan yang tersisa. 

Padahal, ia juga manusia yang berusaha sekuat tenaga menjalankan amanah terbesar, membentuk generasi masa depan. Di tengah tekanan yang datang dari segala arah, guru perlahan menjadi ragu untuk bertindak.

Ia takut peduli lalu disalahkan, takut bersikap tegas lalu dilaporkan. Akhirnya, yang dirugikan bukan hanya guru itu sendiri, melainkan seluruh anak didiknya.
 
Inilah saatnya kita menyadari satu hal yang mendesak, guru butuh perlindungan hukum yang nyata. Bukan perlindungan untuk berbuat sewenang-wenang, melainkan perlindungan agar ia berani menjalankan tugasnya dengan jujur dan berani, tanpa rasa takut akan dilaporkan hanya karena menegakkan disiplin. Perlindungan agar ia tidak terjepit di antara dua pilihan yang sama-sama salah di mata masyarakat.
 
Kita semua menginginkan anak-anak yang berkarakter, cerdas, dan berbudi luhur. Namun hal itu tidak akan terwujud jika kita terus-menerus mematikan semangat mereka yang mendidik. Jika kita ingin guru menjadi cermin yang indah bagi anak-anak kita, maka marilah kita juga menjadi cermin yang baik bagi mereka.

Berikan kepercayaan, berikan pengertian, dan berikan perlindungan yang layak. Karena ketika guru aman, di sanalah pendidikan benar-benar tumbuh, dan di sanalah masa depan anak-anak kita benar-benar terjaga. (**)

Hasan Basri., S.Pd.,MM
Lhokseumawe, 6 September 2026

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya