Breaking News

Tanggul Jebol Tak Tersentuh, Warga Alue Kuta Terjebak Genangan

Dampak bencana hidrometeorologi 2025, Dusun Matang Pasi, Gampong Alue Kuta, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Lebih dari 20 KK disebut belum bisa kembali ke rumah. Jalan rusak, tanggul pemecah ombak putus, sementara air laut terus menggenangi permukiman setiap kali pasang besar. (29/8) 

 BIREUEN, REAKSIONE.ID | Bencana hidrometeorologi yang menerjang Gampong Alue Kuta, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Aceh, belum sepenuhnya menyisakan cerita pemulihan. Di Dusun Matang Pasi, lebih dari 20 kepala keluarga (KK) disebut masih belum dapat kembali ke rumah akibat akses yang rusak dan genangan air laut yang berulang setiap kali pasang besar.

Kondisi itu semakin memprihatinkan setelah tanggul pemecah ombak yang menjadi pelindung kawasan permukiman jebol diterjang bencana. Air laut kini lebih mudah masuk ke kawasan permukiman, sementara sejumlah sarana dan akses masyarakat belum tersentuh perbaikan.

Muslim Abdullah, salah seorang warga, mengatakan kerusakan tersebut telah berlangsung sejak bencana hidrometeorologi pada akhir tahun lalu. Namun, hingga kini masih terdapat sejumlah kerusakan yang belum ditangani.

“Pasca bencana hidrometeorologi ujung tahun lalu, masih banyak kerusakan yang belum tersentuh untuk diperbaiki. Kami harus berjibaku dan menjadi langganan genangan air setiap bulan saat pasang besar air laut,” kata Muslim Abdullah, Sabtu (29/8/2026).

Tanggul pemecah ombak jebol diterjang bencana hidrometeorologi di dusun Matang Pasi, Gampong Alue Kuta, Kecamatan jangka, Kabupaten Bireuen, Aceh (29/8) 

Menurutnya, jebolnya tanggul pemecah ombak membuat kondisi Gampong Alue Kuta semakin sulit. Kawasan yang sebelumnya menjadi tempat tinggal warga kini berubah menjadi hamparan yang rusak akibat terjangan bencana.

“Jebolnya tanggul pemecah ombak diterjang bencana hidrometeorologi, meluluhlantakkan Gampong Alue Kuta menjadi rata bagi hamparan lapangan luas,” ujarnya.

Muslim menyebut sebagian masyarakat hingga kini masih bertahan di barak dan hunian sementara. Lebih dari 20 KK, kata dia, belum dapat kembali karena rumah dan akses menuju permukiman belum pulih.

Persoalan tidak berhenti pada kerusakan rumah. Akses warga Dusun Matang Pasi juga menjadi masalah serius.
Jalan yang diterjang bencana belum sepenuhnya diperbaiki. Warga terpaksa memanfaatkan balok dan batang kelapa sebagai akses untuk melintas.

Kondisi tersebut membuat mobilitas warga menjadi rentan. Aktivitas sehari-hari, termasuk mengakses kebutuhan dasar dan menjalankan aktivitas ekonomi, harus dilakukan dengan melewati jalur seadanya.

“Bermodalkan balok dan batang kelapa, masyarakat Dusun Matang Pasi saban hari melalui akses yang sangat rentan dengan kecelakaan,” katanya.

Muslim berharap pemerintah tidak hanya memusatkan perhatian pada kerusakan infrastruktur di jalur utama, tetapi juga melihat kondisi masyarakat yang berada di pelosok gampong, terutama kawasan pesisir yang terdampak langsung bencana.

“Kami berharap pemerintah tidak semata memprioritaskan sarana dan akses yang rusak di sepanjang jalan nasional. Di seantero sudut gampong juga butuh sentuhan untuk menghidupi dan membangkitkan kembali roda perekonomian masyarakat pesisir,” harapnya.

Bagi warga, pemulihan pascabencana bukan sekadar memperbaiki jalan atau membangun kembali rumah. Perlindungan kawasan dari ancaman air laut juga menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat tidak terus-menerus menghadapi persoalan yang sama setiap bulan.

Nurhayati." Seorang perempuan paruh baya yang merupakan warga sekaligus janda dan bermukim di bibir pantai Gampong Alue Kuta mengungkapkan kondisi serupa.

Dia mengatakan genangan air laut menjadi persoalan rutin setiap kali terjadi pasang besar. Ketika air mulai masuk ke permukiman, aktivitas warga praktis terhenti.

“Saya salah satu masyarakat yang bermukim di bibir pantai Gampong Alue Kuta. Setiap bulan saat pasang besar air laut, selalu menggenangi pemukiman kami. Tidak ada aktivitas yang bisa dilakukan ketika itu,” ungkapnya.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat rumah warga kehilangan fungsi sebagaimana mestinya.“Rumah hanya berfungsi untuk sebatas berteduh dari hujan dan terik matahari,” katanya.

Warga tersebut menyebut tanggul pemecah ombak yang putus menjadi salah satu persoalan utama yang membuat air laut leluasa masuk ke kawasan permukiman.

“Tanggul pemecah ombak yang terputus diterjang bencana merupakan satu-satunya arah dan menjadi pintu masuk air pasang laut yang setiap bulan menggenangi pemukiman,” ujarnya.

Dampak bencana juga meninggalkan kerusakan besar pada rumah warga. Sebagian bangunan disebut telah hilang, sementara kawasan yang tersisa dipenuhi lubang-lubang besar akibat hantaman bencana.

“Sebagian besar rumah masyarakat telah hilang ditelan bencana hidrometeorologi. Yang tersisa hanya lubang-lubang besar seumpama danau di setiap sudut perkampungan,” ungkap perempuan tersebut.

Kondisi Gampong Alue Kuta memperlihatkan bahwa pekerjaan pemulihan pascabencana belum selesai hanya karena fase tanggap darurat telah berlalu.

Bagi warga pesisir, ancaman justru datang kembali setiap kali laut mengalami pasang besar. Tanggul yang jebol, akses yang belum pulih dan permukiman yang terus digenangi membuat kehidupan masyarakat berjalan dalam bayang-bayang bencana berulang.

Warga berharap pemerintah segera memberikan perhatian terhadap kerusakan tanggul, akses permukiman dan sarana pendukung lainnya agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.

Bagi lebih dari 20 KK yang hingga kini belum dapat kembali ke rumah, pemulihan bukan lagi sekadar harapan. Mereka membutuhkan kepastian kapan kampung yang porak-poranda itu kembali layak menjadi tempat tinggal.(**) 

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya