![]() |
| Kerusakan lahan tambak tertimbun lumpur bencana Hidrometeorologi di Gampong Alue Kuta, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh (29/8) |
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Sembilan bulan pascabanjir, Pemerintah Gampong Alue Kuta, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, tak ingin lahan yang tertimbun material bencana dibiarkan menjadi kawasan mati.
Keuchik Alue Kuta, Habibullah, mendorong agar sejumlah tambak yang kini tertimbun dikaji untuk kemungkinan dialihfungsikan menjadi lahan persawahan.
Gagasan itu muncul sebagai bagian dari upaya mengubah kawasan terdampak bencana menjadi lahan yang kembali produktif. Bukan sekadar membersihkan sisa banjir, tetapi mencari cara agar lahan tersebut dapat kembali menghidupi masyarakat.
“Pemulihan bukan sekadar kembali seperti sebelum bencana, tetapi membangun sesuatu yang lebih berguna setelahnya,” ujar Habibullah.
Menurutnya, banjir memang meninggalkan kerusakan. Namun, kondisi tersebut tidak harus menjadi akhir dari pemanfaatan lahan.
Tambak yang tertimbun material banjir justru didorong untuk dilihat sebagai potensi baru. Jika secara teknis memungkinkan, kawasan tersebut dapat dikembangkan menjadi lahan pertanian.
Namun, rencana itu tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan keinginan. Kondisi tanah, material timbunan, ketersediaan air, sistem irigasi, elevasi lahan, hingga aspek lingkungan harus diperiksa secara menyeluruh.
Kajian tersebut menjadi penting agar perubahan fungsi tambak menjadi sawah tidak justru melahirkan persoalan baru di kemudian hari.
Habibullah mengajak perangkat gampong dan masyarakat ikut melihat langsung kondisi lahan sekaligus memikirkan langkah pemulihan yang realistis.
Bagi masyarakat Alue Kuta, sembilan bulan setelah banjir bukan waktu yang singkat. Aktivitas dan sumber penghidupan warga ikut terdampak ketika lahan yang selama ini dimanfaatkan berubah akibat bencana.
Karena itu," pemulihan harus diarahkan pada upaya mengembalikan fungsi ekonomi lahan.
Jika hasil kajian nantinya menyatakan lahan tersebut layak menjadi sawah, pemanfaatannya berpotensi membuka kembali ruang produksi pertanian sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat.
Pemetaan lahan, pengujian tanah, penataan permukaan, penyediaan irigasi, hingga perencanaan pengelolaan harus disiapkan secara matang. Jangan sampai lahan yang sudah tertimbun kemudian digarap tanpa perhitungan, lalu masyarakat kembali menanggung kerugian.
Habibullah menilai gotong royong masyarakat tetap menjadi kekuatan penting dalam proses pemulihan. Namun, semangat tersebut perlu diperkuat dengan perencanaan dan dukungan teknis.
Apabila kebutuhan teknis dan dukungan pemerintah dapat dipenuhi, lahan yang sebelumnya kehilangan fungsi diharapkan dapat kembali menjadi sumber produktivitas warga.
Dengan demikian, pemulihan pascabanjir tidak berhenti pada perbaikan fisik. Ada upaya menghidupkan kembali ekonomi warga, mengembalikan produktivitas lahan dan menyediakan ruang sosial bagi masyarakat.
Sembilan bulan setelah bencana, Alue Kuta kini menghadapi tantangan baru, bagaimana mengubah bekas kerusakan menjadi peluang.
Tambak yang tertimbun tidak lagi hanya dipandang sebagai jejak banjir. Ada harapan agar lahan itu kelak kembali menghasilkan.
Namun, harapan tersebut harus dibuktikan melalui kajian, perencanaan dan pelaksanaan yang transparan. Sebab mengubah tambak menjadi sawah bukan sekadar mengganti fungsi lahan. Di baliknya ada investasi masyarakat, masa depan sumber pangan dan keberlanjutan kehidupan warga.
Dari lahan yang tertimbun material banjir, Alue Kuta mencoba menanam harapan baru. Kini tinggal bagaimana gagasan itu diterjemahkan menjadi rencana yang matang, mendapat dukungan teknis dan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.(**)

0 Komentar