![]() |
| Ketua OSIS besama perwakilan Siswa-siswi SMAN 1 Peudada, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, menyampaikan kronologis persoalan dan keterangan kepada wartawan (21/8) |
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Puluhan siswa SMAN 1 Peudada menggelar aksi protes terhadap kepala sekolah yang baru menjabat sekitar tiga pekan. Mereka mendesak Kepala SMAN 1 Peudada, Fadli, S.Pd., MM, segera dicopot atau diganti.
Tak hanya menyampaikan keberatan, siswa bahkan mengancam melakukan mogok belajar jika tuntutan tersebut tidak segera mendapat respons dari dinas terkait.
Aksi berlangsung di halaman SMAN 1 Peudada, Bireuen, Jumat (21/8/2026). Ketua OSIS SMAN 1 Peudada, Fiki Arbiansyah, mengatakan tuntutan pergantian kepala sekolah merupakan aspirasi yang disampaikan siswa.
“Kami sangat menyesali sikap kepsek yang seolah mempersulit sejumlah kegiatan dan pelatihan, baik Paskibra maupun Drum Band dan sebagainya untuk keluar ke kecamatan, mengingat menjelang perayaan nasional atau HUT Kemerdekaan RI yang ke-81,” kata Fiki.
Menurut dia, persoalan tersebut menjadi salah satu pemicu munculnya keresahan di kalangan siswa. Mereka menilai sejumlah kegiatan kesiswaan menjadi sulit dijalankan karena harus menunggu persetujuan langsung dari kepala sekolah.
“Ini adalah orasi dan orientasi siswa. Pihak kami meminta diganti sesegera mungkin. Kami sepakat mogok belajar apabila tidak segera direspons oleh dinas terkait terhadap kepala sekolah yang baru menjabat kurang lebih tiga minggu terakhir,” ujarnya.
Aksi siswa tersebut sebelumnya tidak terlihat. Sekitar pukul 07.30 WIB, aktivitas sekolah masih berjalan seperti biasa. Para siswa mengikuti kegiatan Yasinan, ceramah, hingga mengumpulkan sedekah untuk mushalla.
Namun, sekitar pukul 08.15 WIB, suasana berubah. Para siswa bergerak bersama dan menyampaikan penolakan terhadap kepala sekolah yang baru.
Mereka meminta Fadli segera diganti dan mendesak pihak berwenang mengambil langkah atas persoalan yang mereka keluhkan.
Aksi tersebut juga membuat sejumlah guru terkejut. Salah seorang guru mata pelajaran yang didampingi Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan mengatakan pihaknya prihatin melihat siswa sampai menyatakan sikap untuk mogok belajar.
“Ya, telah sepakat untuk tidak akan pulang dulu sebelum jam dinas masih ada. Kami sangat prihatin terhadap sikap kepala sekolah yang baru terhadap harapan siswa ke depan yang lebih baik,” ujarnya.
Menurut guru tersebut, salah satu persoalan yang dirasakan di sekolah adalah pola pengambilan keputusan terkait kegiatan siswa.
Ia mencontohkan kegiatan kesiswaan dan ekstrakurikuler yang dinilai harus mendapatkan persetujuan langsung dari kepala sekolah. Padahal, menurutnya, sekolah telah memiliki wakil kepala sekolah yang membidangi kesiswaan serta sejumlah bidang lainnya.
“Pandangannya selama ini kebijakannya tidak bisa diterima. Contoh bila pihak kami ingin menjalankan kegiatan kesiswaan harus seizinnya dulu, sementara di sekolah tersebut sudah ada Wakil Kesiswaan sendiri yang membidangi masing-masing,” katanya.
Ia menyebut para wakil kepala sekolah yang membidangi kegiatan tertentu tidak leluasa mengambil keputusan karena harus kembali berkoordinasi dengan kepala sekolah.
Sebelumnya, kata dia, mekanisme kegiatan sekolah dinilai lebih memberikan ruang kepada wakil kepala sekolah untuk menjalankan tugas sesuai bidang masing-masing.
“Kami sempat berkoordinasi kepada Waka yang membidangi, tapi jawabannya tidak bisa diputuskan oleh mereka karena harus koordinasi langsung kepada kepala sekolah,” ujarnya.
Kondisi itu disebut membuat sejumlah kegiatan sekolah dan ekstrakurikuler tersendat. Para wali kelas maupun pihak yang terlibat dalam kegiatan siswa disebut terus mempertanyakan kepastian kebijakan, tetapi belum memperoleh jawaban yang dianggap mampu memberikan arah penyelesaian.
Fadli mulai menjabat sebagai Kepala SMAN 1 Peudada setelah serah terima pada 29 Juli 2026. Artinya, belum genap satu bulan memimpin, polemik antara siswa dan kepala sekolah sudah mencuat ke ruang publik.
Para siswa kini meminta persoalan tersebut tidak dibiarkan berlarut-larut. Mereka berharap Dinas Pendidikan Aceh turun tangan untuk mendengar langsung aspirasi siswa, guru, serta unsur sekolah lainnya.
Aksi tersebut sekaligus menjadi alarm bagi pengelolaan sekolah. Sebab, ketika perbedaan pandangan antara pimpinan sekolah dan peserta didik telah berkembang menjadi ancaman mogok belajar, persoalannya bukan lagi sekadar soal kegiatan ekstrakurikuler.
Kini, perhatian tertuju kepada pihak berwenang: apakah tuntutan siswa akan ditindaklanjuti dengan evaluasi menyeluruh, atau konflik di SMAN 1 Peudada justru dibiarkan semakin melebar?
Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh keterangan langsung dari Kepala SMAN 1 Peudada, Fadli, S.Pd., MM, mengenai tuntutan siswa dan sejumlah kebijakan yang dipersoalkan dalam aksi tersebut.(AP/Tim)

0 Komentar