![]() |
| Hasan Basri, S.Pd., M.M. menyampaikan pesan-pesan pada Yasinan Jumat di SMA Negeri 2 Bireuen (17/7) |
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Menjaga Akal, Merawat Masa Depan, Renungan yang Menguatkan Karakter Generasi, Setiap Jumat pagi, ada pemandangan yang selalu menghadirkan keteduhan di SMA Negeri 2 Bireuen, Aceh.
Ratusan siswa, guru, tenaga kependidikan, hingga kepala sekolah duduk bersila di lapangan upacara. Di bawah langit pagi yang mulai disinari mentari, lantunan Surah Yasin menggema serempak, menghadirkan suasana yang damai sekaligus menenangkan.
Rutinitas ini bukan sekadar kegiatan keagamaan yang mengisi kalender sekolah. Ia telah menjadi ruang refleksi, tempat nilai-nilai kehidupan ditanamkan secara perlahan namun mendalam kepada generasi muda yang tengah menapaki fase paling menentukan dalam hidupnya.
Usai doa penutup dipanjatkan, keheningan menyelimuti lapangan. Kepala SMA Negeri 2 Bireuen, Hasan Basri, S.Pd., M.M., melangkah ke depan. Dengan tutur kata yang tenang namun penuh makna, ia mengajak seluruh warga sekolah merenungkan satu anugerah terbesar yang sering kali terlupakan.
![]() |
| Antusiasme Siswa-siswi SMAN 2 Bireuen pada Yasinan Jumat dilapangan upacara sekolah (17/7) |
"Berdiri di bawah sinar matahari pagi ini, setelah kita bersama-sama mengetuk pintu langit dengan membaca kalam-Nya, Bapak ingin mengajak kalian semua untuk sejenak merenungkan satu hadiah paling istimewa, paling mewah, yang ditaruh Allah langsung di dalam diri kita masing-masing."
Ia kemudian melanjutkan,
"Hadiah itu bukan gadget terbaru, bukan pula pakaian bermerek. Hadiah itu bernama akal."
Kalimat sederhana tersebut menjadi pembuka renungan yang menyentuh. Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar penampilan, popularitas, dan pengakuan di media sosial, Kepala Sekolah justru mengajak para siswa kembali menyadari bahwa kemuliaan manusia bukan terletak pada apa yang dimiliki, melainkan pada bagaimana akalnya digunakan.
Akal, Pembeda Manusia dengan Makhluk lain. Dalam pandangan Islam, manusia diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi bukan karena fisiknya yang paling kuat atau hartanya yang paling banyak. Amanah itu lahir karena manusia dianugerahi akal untuk membedakan benar dan salah, baik dan buruk, manfaat dan mudarat.
Menurut Hasan Basri, akal bukan sekadar alat untuk menghafal pelajaran atau memperoleh nilai tinggi di sekolah. Lebih dari itu, akal merupakan kompas moral yang mengarahkan seseorang dalam mengambil keputusan, sekaligus menjadi rem ketika hawa nafsu dan emosi mulai menguasai diri.
Di era digital saat ini, fungsi akal justru semakin penting. Arus informasi mengalir tanpa batas. Berbagai tren datang silih berganti. Tidak semuanya membawa manfaat.
Remaja setiap hari dihadapkan pada berbagai pilihan yang menentukan masa depannya. Mulai dari pergaulan, penggunaan media sosial, hingga berbagai godaan yang dapat menggerus karakter.
Karena itu, ia mengingatkan bahwa akal harus selalu menjadi penuntun sebelum seseorang bertindak.
"Apakah akal itu kalian gunakan untuk berpikir tentang dampak masa depan dan tetesan keringat orang tua kalian yang berjuang keras agar kalian bisa bersekolah di SMA Negeri 2 Bireuen ini?"
Kemudian ia melanjutkan dengan pertanyaan yang membuat suasana lapangan semakin hening.
"Ataukah akal itu sengaja kalian tidurkan hanya demi dibilang keren oleh teman-teman?"
Pertanyaan tersebut bukan sekadar retorika. Ia menjadi ajakan untuk bercermin. Sebab tidak sedikit masa depan remaja runtuh hanya karena satu keputusan yang diambil tanpa pertimbangan akal sehat.
Realitas kehidupan remaja saat ini jauh berbeda dibandingkan satu atau dua dekade lalu. Teknologi telah menghadirkan banyak kemudahan, tetapi sekaligus membuka pintu terhadap berbagai ancaman baru.
Tawuran, penyalahgunaan narkoba, kebiasaan merokok, budaya membolos, hingga maraknya penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di media sosial menjadi tantangan yang nyata.
"Dalam situasi seperti itu, kecerdasan akademik saja tidak cukup, ungkapnya.
Generasi muda membutuhkan kemampuan berpikir kritis, pengendalian diri, serta keberanian mengatakan tidak terhadap segala bentuk ajakan yang bertentangan dengan nilai moral.
Di sinilah akal dan hati harus berjalan beriringan. Ketika seseorang mampu menggunakan akalnya sebelum bertindak, ia akan mempertimbangkan konsekuensi dari setiap keputusan.
"Ia tidak mudah terbawa arus, tidak gampang terprovokasi, dan tidak menjadikan popularitas sesaat sebagai tujuan hidup.
Dalam wejangannya, Hasan Basri juga menitipkan tiga pesan sederhana namun sarat makna agar para siswa mampu menjaga anugerah akal yang telah diberikan Allah SWT.
Pertama, memberi makan akal dengan ilmu yang baik. Akal, sebagaimana pisau, akan menjadi tumpul apabila tidak terus diasah. Karena itu, membaca buku, berdiskusi, belajar, dan memperluas wawasan merupakan cara terbaik menjaga ketajaman berpikir.
Sebaliknya, membiarkan diri tenggelam dalam tontonan tanpa manfaat hanya akan melemahkan kemampuan berpikir kritis dan menghabiskan waktu yang seharusnya digunakan untuk hal-hal produktif.
Kedua, menyaring sebelum berbagi dan sebelum bertindak. Di era media sosial, satu sentuhan jari dapat menyebarkan informasi kepada ribuan orang dalam hitungan detik.
Karena itu, setiap siswa diajak membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya. Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari, setiap keputusan perlu dipikirkan dengan matang agar tidak berujung pada penyesalan.
Ketiga, menyandingkan akal dengan akhlak. Kecerdasan tanpa moral hanya akan melahirkan kesombongan. Sebaliknya, ilmu yang dibingkai akhlak akan melahirkan pribadi yang bermanfaat bagi sesama.
Akal hendaknya digunakan untuk membantu teman yang kesulitan, menghormati guru, menghargai tenaga kependidikan, menjaga nama baik sekolah, serta menebarkan kebaikan di mana pun berada.
Di tengah derasnya perubahan zaman, kegiatan sederhana seperti Yasinan Jumat di SMA Negeri 2 Bireuen menunjukkan bahwa pendidikan sejatinya tidak hanya berlangsung di ruang kelas.
Pendidikan karakter lahir dari keteladanan, nasihat yang tulus, dan ruang-ruang refleksi yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berdialog dengan hati nuraninya.
Momentum Jumat pagi itu menjadi pengingat bahwa sekolah bukan hanya tempat mengejar prestasi akademik, tetapi juga tempat membentuk manusia yang utuh, cerdas pikirannya, kuat imannya, dan mulia akhlaknya.
Menutup arahannya, Hasan Basri mengingatkan bahwa masa depan bangsa sesungguhnya berada di tangan para pelajar hari ini.
"Jangan sampai masa depan yang gemilang runtuh akibat keputusan-keputusan bodoh yang diambil tanpa melibatkan akal sehat."
Kalimat itu menjadi penutup yang membekas, suasana hening berganti dengan tepuk tangan hangat. Para guru dan siswa saling bersalaman sebelum memasuki ruang kelas untuk memulai aktivitas belajar.
Jumat pagi pun berlalu seperti biasanya. Namun, pesan yang tertinggal jauh melampaui rutinitas mingguan. Ia menjadi pengingat bahwa sebesar apa pun tantangan zaman, manusia akan tetap memiliki pegangan selama mampu menjaga akal, menuntunnya dengan ilmu, dan menyandingkannya dengan akhlak.
Karena pada akhirnya, masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi nilai di atas kertas, melainkan oleh seberapa bijaksana seseorang menggunakan akal yang telah dianugerahkan Tuhan.(**)


0 Komentar