Oleh: Yakub F. Ismail
![]() |
| Syafrin Liputo, Walikota Jakarta Selatan (19/6) |
OPINI, REAKSIONE.ID | Di tengah kemajuan zaman, tantangan perkotaan menjadi semakin kompleks. Menghadapi situasi ini, kepemimpinan daerah tidak lagi cukup dengan mengandalkan orientasi pada pembangunan fisik.
Berkaca pada kota-kota modern di dunia, semua membutuhkan pemimpin yang mampu mengintegrasikan baik mobilitas, tata ruang, pelayanan publik, hingga kualitas hidup warga dalam satu lanskap pembangunan yang berkelanjutan.
Berbicara mengenai Jakarta Selatan, sosok Syafrin Liputo merupakan figur penting yang menarik untuk dicermati.
Berbekal pengalaman panjang dalam menakhodai bidang perhubungan dan transportasi, Syafrin dikenal sebagai birokrat yang punya pemahaman mendalam terkait dinamika mobilitas perkotaan.
Syafrin telah lama malang melintang dalam dunia perhubungan dan transportasi mulai dari persoalan kemacetan, keselamatan lalu lintas, integrasi transportasi publik, hingga kebutuhan akan sistem transportasi yang ramah lingkungan.
Berangkat dari pengalaman tersebut, gaya kepemimpinnnya selalu menjadi atensi publik, lantaran tidak sekadar administratif, melainkan berbasis pada pemahaman teknokratis yang kuat.
Dalam banyak kesempatan, Syafrin selalu menunjukkan bahwa membangun sebuah kota yang maju harus dimulai dari visi yang holistik-integratif, salah satunya kemampuan menyediakan sistem transportasi yang aman, nyaman, terjangkau, dan terintegrasi.
Menata transportasi memang merupakan kunci kemajuan tata kota seperti Jakarta yang sekian lama dihantui masalah kemacetan.
Karenanya, jika Jakarta, khususnya Jaksel ingin tampil sebagai model kota modern di Indonesia, maka kepemimpinan yang menempatkan transportasi sebagai urat nadi pembangunan harus menjadi fondasi yang kuat.
Sebuah kota baru dikatakan benar-benar mencapai level kemajuan terbaik ketika kualitas sistem transportasinya mulai teruji.
Dalam perspektif pembangunan perkotaan modern, transportasi memiliki makna penting bukan hanya sebagai sarana perpindahan orang dan barang, melainkan juga alat dalam menentukan produktivitas ekonomi hingga pemenuhan kualitas lingkungan hidup.
Makna penting transportasi ini mendorong para pemimpin kota di seluruh penjuru dunia untuk mendesain kebijakan transportasi yang tepat guna mendukung iklim perkotaan yang modern dan ramah bagi kehidupan.
Bertolak dari pandangan tersebut, perjalanan dan rekam jejak Syafrin Liputo di bidang perhubungan dan transportasi publik sangat relevan, khususnya bagi kota Jakarta Selatan.
Selama berkiprah di sektor transportasi, ia dikenal sebagai tokoh utama yang konsisten mendorong penguatan transportasi publik, peningkatan mutu layanan lalu lintas, hingga kebijakan integrasi antarmoda transportasi.
Pendekatan yang dirancang selaras dengan visi pembangunan kota global yang menempatkan mobilitas berkelanjutan sebagai fokus utama kota maju.
Bagi Jakarta Selatan, arah kebijakan seperti ini tentu sangat ini vital dan memiliki arti strategis.
Pasalnya, Jaksel selalu diidentikkan sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi, bisnis, pendidikan, dan permukiman terkemuka di DKI Jakarta.
Dengan demikian, tingginya mobilitas masyarakat menuntut penyesuaian sistem transportasi yang efektif dan efisien dalam menghubungkan berbagai kawasan yang ada.
Pembangunan yang berorientasi pada integrasi moda transportasi, karena itu, menjadi poin utama untuk peningkatan kualitas layanan publik, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Legacy kebijakan Syafrin yang berfokus pada transportasi telah terbukti memberikan dampak jangka panjang bagi reputasi dan daya saing kota.
Berkat moda transportasi yang terintegrasi, waktu tempuh menjadi lebih singkat, biaya logistik lebih efisien, serta aksesibilitas menjadi lebih mudah. Pada gilirannya, semua keunggulan itu akan meningkatkan produktivitas masyarakat secara keseluruhan.
Alhasil, melalui kebijakan progresif tersebut, Jakarta Selatan siap menjadi laboratorium keberhasilan pembangunan perkotaan yang dapat direplikasi oleh daerah lain, baik di DKI sendiri maupun kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Kesuksesan menyulap moda transportasi Jakarta membuat gaya kepemimpinan Syafrin tak luput dari sorotan.
Sebelum diangkat menjadi Wali Kota Jaksel, Syafrin sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Privinsi DKI.
Sebagai seorang pemimpin, Syafrin terkenal memiliki gaya kepemimpinan teknis, kolaboratif, dan berorientasi solusi.
Gaya kepemimpinan semacam, itu memang khas dimiliki seorang birokrat andal dan visioner.
Syafrin mengakui bahwa menjadi seorang pemimpin di Ibu Kota Jakarta memiliki tantangan tersendiri yang tidak mudah ditaklukkan.
Salah satu tantang terbesarnya adalah terkait tata kelola pembangunan kota yang berorientasi kota global yang ramah manusia dan lingkungan.
Syafrin adalah sosok yang tumbuh dari lingkungan birokrasi teknis. Hal itu menjadikannya sebagai birokrat yang memiliki pendekatan berbasis data, perencanaan, dan pemecahan masalah.
Gaya kepemimpinan semacam itu sangat penting dalam membangun kota metropolitan yang diperhadapkan dengan beragam persoalan multidimensional.
Seorang pemimpin di kota metropolitan dituntut untuk cakap dalam pengambilan keputusan, yang mana tidak semata-mata didasarkan pada pertimbangan politik jangka pendek, melainkan pada kebutuhan nyata masyarakat sekaligus analisis yang terukur.
Sementara, dari sisi kolaborasi, jelas hal itu sangat relevan dengan semangat membangun Jakarta sebagai kota global yang butuh partisipasi seluruh elemen.
Sebagai kota kolaborasi, pembangunan Jakarta, khususnya Jaksel yang menjadi episentrum pembangunan, dibutuhkan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan seluruh elemen masyarakat.
"Pendekatan kolaboratif inilah yang menjadi ciri utama kepemimpinan modern yang dimiliki seorang Syafrin sejak dulu sampai sekarang.
Diakui atau tidak, Jaksel adalah kota teladan bagi yang lain, karena memiliki peluang besar untuk menjadi kota dunia.
Menjadi kota global berarti wajib menghadirkan kenyamanan bagi pejalan kaki, kehadiran transportasi publik yang terintegrasi, dan memiliki tata ruang yang contoh ideal.
Alhasil, kepemimpinan Syafrin Liputo baik ketika menjabat Kadishub DKI, maupun pada saat ditunjuk sebagai Wali Kota Jaksel, selalu mencerminkan model kepemimpinan perkotaan yang dibutuhkan Indonesia saat ini.
Penulis:
Direktur Eksekutif Indonesian Initiative for Strategic and Policy Studies (INISIATOR)

0 Komentar