Breaking News

Kearifan Lokal dan Swasembada Pangan Bertemu di Kenduri Blang Cot Tunong

Mulyadi, SE., MM, Kadistanbun Bireuen menyampaikan sambutan dalam momentum Tradisi Adat Kenduri Tron U Blang di Gampong Cot Tunong, Kecamatan Gandapura (7/6) 

 BIREUEN, REAKSIONE.ID | Ratusan warga Gampong Cot Tunong, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, Aceh, memadati kawasan persawahan Dusun Ranup Uteun, Minggu (7/6/2026), untuk melaksanakan tradisi adat Kenduri Blang atau Kenduri Tron U Blang. Tradisi tahunan tersebut menjadi simbol rasa syukur sekaligus harapan baru para petani dalam menyongsong musim tanam setelah menghadapi dampak bencana banjir hidrometeorologi yang melanda Aceh beberapa bulan terakhir.

Kegiatan diawali dengan doa bersama dan pengajian yang dipimpin Imum Syik Gampong Cot Tunong, Tgk Hanafiah. Suasana khidmat tampak menyelimuti hamparan sawah yang menjadi pusat kehidupan masyarakat setempat.

Bagi warga Cot Tunong, Kenduri Blang bukan sekadar tradisi turun-temurun. Ritual adat tersebut menjadi momentum mempererat kebersamaan sekaligus memanjatkan doa agar musim tanam tahun ini membawa keberkahan, hasil panen melimpah, dan terhindar dari berbagai ancaman yang dapat merusak tanaman.

Sebagai Gampong yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani, sektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Sekitar 85 persen warga menggantungkan penghidupan dari usaha pertanian dan perkebunan.

Keuchik Gampong Cot Tunong, Hasballah Hasan, SE, mengatakan Kenduri Blang merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan secara gotong royong oleh seluruh masyarakat sebagai bentuk rasa syukur dan kepedulian terhadap keberlangsungan sektor pertanian.

“Kenduri ini kami laksanakan secara gotong royong setiap tahun. Warga memasak bersama di kawasan persawahan sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT sekaligus harapan agar panen tahun ini melimpah dan mampu mendukung terwujudnya program swasembada pangan,” ujar Hasballah.

Ia menjelaskan, Gampong Cot Tunong memiliki areal persawahan seluas 58,5 hektare yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat. Karena itu, berbagai upaya terus dilakukan guna meningkatkan produktivitas pertanian serta memperkuat ketahanan pangan daerah.

Menurut Hasballah, sejumlah kebijakan pemerintah yang berpihak kepada petani telah memberikan dampak positif bagi peningkatan semangat produksi. Program bantuan pompanisasi, Brigade Pangan, penetapan harga gabah Rp6.500 per kilogram, hingga penurunan harga pupuk bersubsidi dinilai mampu memberikan kepastian dan meringankan beban petani.

“Kebijakan tersebut menjadi motivasi besar bagi petani untuk terus meningkatkan produksi dan menjaga ketahanan pangan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen, Mulyadi, SE., MM., menegaskan bahwa Kenduri Blang merupakan warisan budaya yang memiliki nilai spiritual dan sosial yang kuat.

Menurutnya, tradisi tersebut mencerminkan perpaduan antara ikhtiar, doa, dan semangat kebersamaan yang selama ini menjadi fondasi masyarakat agraris Aceh.

“Kenduri Blang bukan hanya tradisi adat, tetapi juga bagian dari nilai-nilai syariat Islam yang mengajarkan pentingnya menjaga hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Di dalamnya terdapat doa, ikhtiar, kebersamaan, dan rasa syukur atas sumber kehidupan yang diberikan Allah SWT,” ujar Mulyadi.

Ia menyampaikan, Pemerintah Kabupaten Bireuen terus memperkuat sektor pertanian melalui berbagai program strategis, termasuk Brigade Swasembada Pangan yang kini telah ditempatkan di setiap kecamatan guna mendampingi petani secara langsung.

Selain itu, program pompanisasi yang telah berjalan dinilai mampu meningkatkan indeks pertanaman serta menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian di tengah tantangan perubahan iklim.

“Dengan pemanfaatan pompanisasi yang optimal, produktivitas padi di sejumlah lokasi mampu mencapai rata-rata tujuh ton per hektare. Karena itu, petani perlu memanfaatkan momentum musim tanam secara tepat waktu agar produktivitas terus meningkat,” jelasnya.

Mulyadi juga menargetkan peningkatan Indeks Pertanaman (IP) hingga 2,5 kali tanam dalam setahun melalui pengaturan pola tanam yang lebih baik dan dukungan sarana produksi pertanian yang memadai.

Di sisi lain, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen terus melakukan kajian serta pemetaan pola tanam yang ideal untuk menekan risiko serangan hama dan penyakit tanaman.

“Kami terus melakukan pendampingan dan pengkajian agar petani memiliki pedoman yang tepat dalam menentukan waktu tanam. Dengan pola tanam yang sesuai, produktivitas dapat meningkat, risiko gangguan tanaman berkurang, dan kesejahteraan petani semakin baik,” ungkapnya.

Kenduri Blang Cot Tunong turut dihadiri unsur Gapoktan Kecamatan Gandapura, Brigade Swasembada Pangan, Ketua PMI Kabupaten Bireuen Edi Saputra, SH., MM., Anggota DPRK Bireuen Hidayatus Siddiq, S.Pd., MM., tokoh agama, penyuluh pertanian, unsur keamanan, BKAD Gandapura, serta tokoh masyarakat setempat.

Kenduri Blang berlangsung penuh keakraban dan semangat gotong royong. Di tengah hamparan sawah yang menghijau, masyarakat Cot Tunong kembali menegaskan bahwa tradisi, kebersamaan, dan pertanian merupakan tiga pilar penting yang terus dijaga demi mewujudkan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat di masa depan.(AAP

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya