![]() |
| Ilustrasi: Anak tenggelam dalam Tambak saat mencari Tiram di gampong Alue Kuta, Kecamatan Jangan, Kabupaten Bireuen Aceh, (27/6) |
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Suasana mencari tiram di tambak ikan di Gampong Alue Kuta, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, berubah menjadi duka. Seorang bocah laki-laki berusia enam tahun, Muhammad Altaf, meninggal dunia setelah tenggelam di tambak dengan kedalaman sekitar 2,5 meter, Sabtu (27 Juni 2026).
"Peristiwa tragis itu terjadi sekitar pukul 14.00 WIB ketika korban bersama ibunya, Mauliza (25), dan sejumlah warga sedang mencari tiram di kawasan tambak.
Menurut keterangan saksi, korban sempat berenang menuju bagian tambak yang lebih dalam. Meski telah berkali-kali diperingatkan oleh sang ibu dan warga agar tidak berenang, korban tetap nekat masuk ke area yang memiliki kedalaman sekitar 2,5 meter.
Tak lama kemudian, tubuh bocah tersebut tenggelam dan menghilang dari permukaan air. Ibu korban bersama warga sekitar berupaya memberikan pertolongan.
Namun, karena kondisi tambak cukup dalam dan sebagian warga tidak berani masuk ke dalam air, proses penyelamatan tidak dapat dilakukan secara maksimal.
Peristiwa itu kemudian dilaporkan kepada perangkat desa untuk meminta bantuan. Informasi selanjutnya diteruskan kepada Bhabinkamtibmas Polsek Jangka dan Babinsa Koramil 07 Jangka.
Menerima laporan tersebut, Kapolsek Jangka langsung mengerahkan personel kepolisian bersama anggota TNI menuju lokasi kejadian.
"Warga bersama aparat kemudian melakukan pencarian dengan menggunakan jala di sekitar lokasi korban diduga tenggelam.
Sekitar pukul 15.45 WIB, korban akhirnya ditemukan oleh seorang warga bernama Azhari di dasar tambak dengan kedalaman sekitar 2,5 meter.
Korban segera dievakuasi dan dilarikan ke Puskesmas Krueng Panjoe untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan, korban dinyatakan telah meninggal dunia.
Jenazah kemudian diserahkan kepada pihak keluarga untuk disemayamkan dan dimakamkan.
Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mengumpulkan keterangan para saksi, berkoordinasi dengan Basarnas dan pihak Puskesmas, serta mendokumentasikan seluruh rangkaian penanganan kejadian.
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, peristiwa tersebut diduga terjadi akibat korban belum memiliki kemampuan berenang yang memadai serta kurangnya pengawasan orang dewasa ketika anak berada di area perairan terbuka.
Selain itu, aparat juga mengungkap bahwa kedalaman tambak mencapai sekitar 2,5 meter setelah terdampak banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025.
Bencana tersebut mengubah kondisi sejumlah tambak di kawasan itu sehingga menjadi lebih dalam dan berpotensi membahayakan, terutama bagi anak-anak.
"Aparat mengingatkan bahwa tanpa langkah pencegahan, risiko kejadian serupa masih sangat mungkin terjadi di kawasan tambak maupun perairan terbuka lainnya.
Pemerintah desa dan masyarakat diimbau memasang rambu-rambu peringatan di sekitar tambak, sementara Bhabinkamtibmas dan Babinsa diminta terus mengedukasi warga mengenai keselamatan di area perairan.
Orang tua juga diharapkan meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak agar tragedi serupa tidak kembali terulang.(**)

0 Komentar