![]() |
| Kondisi Tambak tertimbun lumpur pasca banjir di Gampong Mon Keulayu, Gandapura, Bireuen, Aceh (5/1) |
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Banjir hidrometeorologi yang menerjang Kabupaten Bireuen tak sekadar meninggalkan genangan air dan lumpur. Di wilayah pesisir timur, tepatnya Gampong Mon Keulayu, Kecamatan Gandapura, bencana ini telah memutus denyut ekonomi warga dan mengancam keberlanjutan hidup masyarakat setempat.
Dari 609 gampong di Kabupaten Bireuen, Mon Keulayu menjadi salah satu kawasan dengan dampak terparah. Letaknya yang berbatasan langsung dengan muara Sungai Peusangan—aliran besar yang melintas hingga Kecamatan Kutablang—menjadikan gampong pesisir ini sangat rentan saat debit sungai melonjak akibat cuaca ekstrem.
Banjir besar tersebut mengubah ratusan hektare tambak produktif menjadi hamparan lumpur luas menyerupai daratan kosong. Pematang tambak jebol, air asin bercampur lumpur tebal, dan seluruh sistem budidaya perikanan warga lumpuh total. Padahal, tambak merupakan sumber penghidupan utama masyarakat Mon Keulayu.
Keuchik Gampong Mon Keulayu, Ns. Agustiar, S.Kep, mengatakan wilayahnya terdiri dari empat dusun—Dusun Panglima, Arafah, Kuta Batee, dan Leubok Dalam—dengan total luas tambak mencapai sekitar 150 hektare.
“Banjir merusak parah 15 unit rumah warga, sementara puluhan rumah lainnya terdampak ringan dan terendam lumpur setebal 1 hingga 40 sentimeter,” ujar Agustiar kepada media, Senin (5/1/2026).
Menurutnya, kondisi di kawasan tambak jauh lebih memprihatinkan. Ketebalan lumpur bervariasi mulai dari 1 sentimeter hingga mencapai 2 meter, membuat seluruh area tidak lagi bisa difungsikan tanpa penanganan alat berat.
Ancaman tak berhenti di permukiman dan tambak. Satu unit meunasah yang berada di bantaran Sungai Peusangan kini terancam longsor, menambah daftar infrastruktur sosial dan keagamaan yang berada dalam kondisi rawan akibat erosi pascabanjir.
Keuchik juga mengungkapkan banjir membawa ratusan batang kayu berukuran besar yang menumpuk di muara sungai Dusun Panglima. Berdasarkan pantauan lapangan, sekitar 75 persen kayu tersebut telah hilang, sebagian terbawa arus, sebagian lainnya diambil warga dengan cara dipotong menggunakan senso dan diangkut menggunakan perahu.
Tak hanya berdampak secara fisik dan ekonomi, bencana ini juga meninggalkan luka batin bagi masyarakat. Area kuburan umum gampong sempat terendam banjir. Di lokasi tersebut terdapat makam tiga anak dan cucu dari ulama besar Babib Bugak (Habib Husein Al Habsyi), yakni:
Habib Ahmad bin Habib Husein Al Habsyi
Habib Abdullah bin Habib Husein Al Habsyi
Habib Husein bin Habib Abdurrahman Al Habsyi
“Ini bukan hanya soal kerugian materi, tetapi juga menyangkut nilai sejarah, spiritual, dan kehormatan leluhur kami,” kata Agustiar.
Mengakhiri keterangannya, Keuchik Mon Keulayu berharap pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan segera turun tangan dengan langkah konkret. “Kami sangat membutuhkan bantuan alat berat seperti ekskavator untuk membersihkan lumpur tambak, memperbaiki tanggul, jalan gampong, serta rumah-rumah warga yang hingga kini belum bisa dibersihkan secara manual,” tegasnya.
Bagi warga Mon Keulayu, bantuan tersebut bukan sekadar pemulihan infrastruktur, melainkan harapan untuk kembali bertahan hidup. Tanpa intervensi cepat dan serius, gampong pesisir ini dikhawatirkan akan terjerumus dalam krisis berkepanjangan dan melahirkan kemiskinan baru akibat bencana hidrometeorologi yang kian sering terjadi.(AAP)

0 Komentar