![]() |
| Hasan Basri.,S.Pd.,MM, Kepala SMAN 2 Bireuen, Provinsi Aceh (istimewa) |
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Kepemimpinan di dunia pendidikan kini menghadapi tantangan besar di tengah derasnya arus disrupsi teknologi. Kepala sekolah tidak lagi cukup hanya menguasai urusan administratif, tetapi dituntut menjadi sosok “smart person” yang mampu melahirkan “smart people” dalam seluruh ekosistem sekolah.
Hal itu disampaikan Kepala SMAN 2 Bireuen, Hasan Basri, S.Pd., M.M, yang menilai bahwa perubahan zaman memaksa pemimpin pendidikan untuk bergerak lebih adaptif, inovatif, dan terbuka terhadap perkembangan teknologi.
Menurut Hasan Basri, kecerdasan seorang pemimpin tidak lagi diukur dari banyaknya instruksi yang diberikan kepada bawahan, melainkan dari seberapa besar ruang kreativitas dan inovasi yang mampu ia buka bagi guru, staf, dan siswa.
“Pemimpin yang cerdas adalah yang mampu memberikan ruang tumbuh bagi orang lain. Bukan menjadi satu-satunya orang pintar di ruangan, tetapi menciptakan lingkungan yang membuat semua orang berkembang,” ujarnya.
Di era digital saat ini, kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan literasi teknologi yang kuat. Penguasaan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), pemanfaatan data, hingga pemahaman terhadap metode pembelajaran modern seperti Deep Learning menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari.
Namun Hasan Basri menegaskan, kecerdasan teknologi saja tidak cukup tanpa kecerdasan emosional.“Teknologi tanpa rasa akan kering. Pemimpin harus mampu memahami manusia yang dipimpinnya. Guru, staf, dan siswa bukan sekadar angka dalam data akreditasi, mereka adalah aset intelektual yang harus dihargai,” katanya.
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Birokrasi
Dalam praktik kepemimpinannya, Hasan Basri mengaku lebih menekankan pembangunan ekosistem pendidikan yang sehat dibanding sekadar menjalankan birokrasi sekolah.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah pemberdayaan kolektif, dengan memberi ruang bagi guru untuk mengembangkan berbagai kompetensi, mulai dari teknologi digital, analisis data, hingga kreativitas seni.
Ia juga mendorong lahirnya budaya literasi dan public speaking di lingkungan sekolah.“Kecerdasan tanpa kemampuan komunikasi hanya akan menjadi kesunyian. Karena itu kami mendorong guru dan siswa berani berbicara, berani tampil, serta menuangkan gagasan dalam tulisan,” jelasnya.
Menurutnya, budaya tersebut merupakan fondasi penting untuk membentuk masyarakat sekolah yang kritis, kreatif, dan adaptif.
Menguji Kepemimpinan di Tengah Tantangan
Hasan Basri mengakui perjalanan memimpin sekolah tidak selalu berjalan mulus. Tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, kondisi alam, hingga perubahan kebijakan pendidikan sering menjadi hambatan.
Namun justru dalam situasi seperti itulah kualitas kepemimpinan diuji.“Seorang pemimpin harus tetap tenang dalam situasi tidak pasti, mampu mengambil keputusan cepat, dan tetap memotivasi tim di tengah keterbatasan,” ungkapnya.
Menurutnya, kepala sekolah yang adaptif akan mampu mengubah hambatan menjadi peluang untuk memperkuat sistem pendidikan di sekolah.
Menyiapkan Generasi Mandiri
Pada akhirnya, tujuan utama kepemimpinan di sekolah adalah melahirkan generasi yang mandiri dan mampu bersaing di masa depan.
Hasan Basri berharap lulusan sekolah tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang baru di tengah perubahan dunia kerja.“Saya ingin melihat guru yang tidak hanya mengajar, tetapi terus belajar. Dan saya ingin melihat lulusan yang bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan pekerjaan,” katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan seorang kepala sekolah pada akhirnya tercermin dari kemandirian dan kecerdasan kolektif seluruh warga sekolah.“Menjadi pemimpin yang cerdas berarti memiliki kerendahan hati untuk terus bertransformasi. Karena pendidikan tidak pernah berhenti berkembang,” tutup Hasan Basri.

0 Komentar