![]() |
Korban Bencana Hidrometeorologi mendirikan Tenda Darurat di Kompleks kantor Bupati Bireuen, Aceh (14/3) |
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Kondisi para penyintas bencana di Kabupaten Bireuen yang masih bertahan di tenda darurat hingga mendirikan pos di kompleks Kantor Bupati memantik kritik dari kalangan aktivis. Pemerintah daerah diminta segera fokus pada kebutuhan dasar korban, bukan saling menyalahkan.
Pengamat sosial sekaligus aktivis muda, Afrizal, menilai polemik yang berkembang pascabencana justru memperlihatkan kesenjangan penanganan terhadap para pengungsi. Ia menyebut, para korban adalah masyarakat yang tengah mengalami penderitaan sehingga pemerintah harus lebih bijak menyikapi persoalan tersebut.
“Jangan mencari kambing hitam. Mereka ini korban bencana, bukan Rohingya yang terdampar dari Myanmar,” kata Afrizal, Sabtu (14/3/2026).
Menurutnya, yang paling mendesak saat ini adalah memastikan kebutuhan dasar para penyintas terpenuhi, mulai dari tempat tinggal sementara yang layak, makanan, hingga layanan kesehatan. Ia menilai perdebatan atau pembelaan diri dari para pemangku kepentingan tidak akan menyelesaikan masalah yang dihadapi korban.
“Yang dibutuhkan pengungsi adalah perhatian terhadap kebutuhan mereka, bukan balas pantun atau pembenaran dari pihak-pihak tertentu,” ujarnya.
Afrial mengaku memahami betul bagaimana beratnya hidup di pengungsian. Ia pernah merasakan langsung situasi tersebut pada 1998, saat konflik bersenjata antara TNI dan GAM memaksa banyak warga meninggalkan rumah mereka.
Dalam peristiwa konflik itu, dokter Fauziah dari Gampong Cot Kruet, Kecamatan Peudada, turut menjadi korban. Nama almarhumah kini diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah dr Fauziah Bireuen.“Saya pernah merasakan jadi pengungsi pada masa konflik. Kondisinya sangat sulit,” kenangnya.
Ia menceritakan, saat itu para pengungsi harus tidur berdesakan di satu ruangan sekolah. Puluhan orang menempati satu ruangan tanpa sekat, dengan kondisi panas dan bising akibat tangisan anak-anak maupun keluhan orang tua yang sakit.“Kadang semalaman tidak bisa tidur karena suasana panas, anak-anak menangis, ada orang tua yang sakit merintih,” ujarnya.
Masalah sanitasi juga menjadi persoalan serius. Fasilitas MCK yang terbatas membuat sebagian pengungsi harus buang air di bawah jembatan karena toilet yang tersedia tidak mampu menampung ratusan orang setiap hari.“Untuk mandi juga tidak rutin karena air lebih diprioritaskan untuk minum,” kata Afrizal.
Meski begitu, ia mengakui ada sisi yang tetap disyukuri saat berada di pengungsian, yakni masih bisa berkumpul bersama keluarga. Selain itu, pada masa awal konflik banyak pihak datang membawa bantuan makanan dan kebutuhan lain bagi para pengungsi.
Namun, menurut Afrial, hidup di pengungsian tetap bukan kondisi ideal bagi siapa pun.“Pengungsi itu sebenarnya tidak sanggup berlama-lama tinggal di tempat pengungsian. Lebih banyak mudarat daripada manfaatnya,” ujarnya.
Ia menilai sebagian besar korban lebih memilih kembali ke rumah masing-masing meski harus hidup dengan keterbatasan.“Satu minggu saja terasa seperti sebulan di pengungsian. Apalagi kalau sampai berbulan-bulan tanpa kepastian,” katanya.
Desak Pemerintah Cari Solusi
Afrizal kembali menegaskan bahwa pemerintah harus melihat persoalan ini dari sudut pandang kemanusiaan. Ia mendesak agar fokus utama diarahkan pada solusi konkret untuk memulihkan kehidupan para penyintas.
“Sekali lagi saya sampaikan, lihat kebutuhan para pengungsi. Jangan mencari kambing hitam dengan alasan apa pun. Carilah solusi, karena mereka bukan Rohingya dari Myanmar,” tegasnya.

0 Komentar