![]() |
| Kondisi lahan persawahan di Desa Pulo Iboih, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen,Provinsi Aceh yang sudah dipenuhi semak belukar, Senin (13/4). |
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Nasib petani di Desa Pulo Iboih, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, kian terpuruk. Hingga Senin (13/4/2026), puluhan hektare lahan persawahan yang rusak akibat banjir dan tanah longsor belum juga tersentuh pemulihan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen.
Padahal, bencana yang melumpuhkan sektor pertanian tersebut telah berlalu sekitar lima bulan. Namun, tanda-tanda perbaikan infrastruktur tani—mulai dari irigasi, tanggul, hingga akses lahan, belum terlihat di lokasi.
Kondisi ini membuat roda ekonomi warga desa nyaris berhenti total. Sawah yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama kini terbengkalai, memaksa warga kehilangan mata pencaharian tanpa kepastian kapan bisa kembali berproduksi.
Zulkifli Syakban, mantan keuchik sekaligus petani setempat, menyuarakan kekecewaan atas lambannya respons pemerintah daerah. Ia menilai, ketidakseriusan penanganan pascabencana telah memperpanjang penderitaan masyarakat.
“Sangat kita sesalkan. Sampai hari ini belum ada sedikit pun progres pemulihan. Kami merasa pemerintah seperti menutup mata terhadap kondisi di sini, petani tercekik, Ada Apa dengan Pemerintah Bireuen, Zulkifli mempertanyakan.
Menurutnya, lumpuhnya sektor pertanian tidak hanya berdampak pada pemilik lahan, tetapi juga menghantam kelompok masyarakat paling rentan. Selama ini, hamparan sawah di Pulo Iboih menjadi sumber penghasilan bagi buruh tani harian, termasuk para janda dan warga berpenghasilan rendah.
Dalam kondisi normal, mereka menggantungkan hidup dari aktivitas pertanian, mulai dari menanam padi, membersihkan gulma, hingga panen. Kini, seluruh mata rantai ekonomi itu terputus.
“Kalau sawah hidup, bukan cuma pemilik lahan yang terbantu. Ibu-ibu janda dan warga kecil juga bisa kembali bekerja. Sekarang semuanya terhenti,” jelasnya.
Warga pun berharap Pemkab Bireuen segera turun tangan dengan langkah konkret, bukan sekadar janji. Pemulihan infrastruktur pertanian dinilai menjadi kunci untuk menghidupkan kembali ekonomi desa yang saat ini berada di titik kritis.
“Jangan biarkan kami terus dalam ketidakpastian. Kami butuh tindakan nyata, secepatnya,” tegas Zulkifli.
Situasi ini menjadi sorotan, sekaligus ujian bagi pemerintah daerah dalam merespons dampak bencana secara cepat dan tepat sasaran, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian.(Mis)

0 Komentar