Breaking News

Merasa ‘Di-PHP’ 2 Tahun, Posyandu Pandrah Tagih Janji Pemkab Bireuen

Afni, Ketua Posyandu Gampong Nasee Me, pada Momen Musrenbang menagih janji Pemerintah Kabupaten Bireuen, atas penghargaan berhasil meraih, Juara Nasional Pencegahan Stunting tahun 2024 (26/2) 

 BIREUEN, REAKSIONE.ID | Euforia prestasi tingkat nasional berubah menjadi kekecewaan mendalam. Kelompok Posyandu Gampong Nasee Me, Kecamatan Pandrah, yang pernah mengharumkan nama Kabupaten Bireuen hingga ke panggung nasional, kini merasa “di-PHP” setelah dua tahun janji pembangunan gedung Posyandu tak kunjung terealisasi.

Ketua Posyandu Gampong Nasee Me, Afni, Kamis (26/2/2026), mengungkapkan kekecewaannya atas janji Pemerintah Kabupaten Bireuen yang hingga kini belum ada tanda-tanda realisasi.

“Kami merasa tertipu janji manis. Kami sudah berjuang membawa nama Bireuen sampai ke tingkat nasional, tapi sampai sekarang bangunan Posyandu yang dijanjikan belum juga dibangun,” ujar Afni dengan raut kecewa.

Prestasi Posyandu Gampong Nasee Me bukan sekadar klaim. Mereka sukses meraih penghargaan sebagai Desa Terbaik Pencegahan Stunting Tahun 2024.

Perjalanan mereka dimulai dari tingkat kabupaten, kemudian dipercaya mewakili Bireuen di ajang tingkat Provinsi Aceh di Banda Aceh. Hasilnya membanggakan: kembali meraih juara dan dipercaya sebagai delegasi Provinsi Aceh ke tingkat nasional di Jakarta.

Di level nasional, Posyandu Pandrah berhasil menembus lima besar dan dinobatkan sebagai Juara 5 tingkat Nasional, barangkali prestasi itu bagaikan capaian langka bagi desa dari daerah.“Untuk sampai ke tingkat nasional itu bukan proses instan. Kami membangun kekompakan, inovasi, dan kerja keras kader selama bertahun-tahun,” kata Afni.

Menurut Afni, atas capaian tersebut, melalui Dailami salah satu Asisten di Setdakab Bireuen saat itu, pemerintah menjanjikan pembangunan Gedung Posyandu di Gampong Nasee Me sebagai bentuk apresiasi.

Namun, dua tahun berselang, bangunan yang dijanjikan tak kunjung dibangun.“Kami menagih bangunan Posyandu yang dijanjikan untuk dibangun di desa kami. Ini bukan sekadar soal gedung, tapi bentuk penghargaan atas kerja keras kami mengharumkan nama Bireuen,” tegasnya.

"Kekecewaan itu bahkan disampaikan secara terbuka dalam forum Musrenbang, menandakan persoalan ini sudah memasuki ruang publik dan perencanaan resmi daerah.

Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi V DPRK Bireuen, Muhammad Jafar, meminta pemerintah daerah segera menunaikan komitmen yang telah disampaikan kepada masyarakat.

“Meraih prestasi tingkat provinsi hingga nasional bukan hal mudah. Butuh kesiapan, kemampuan, dan kerja keras yang tidak instan. Pemerintah harus melihat ini dari sudut pandang positif dan dengan hati nurani,” ujarnya.

Ia menegaskan, ketika janji sudah disampaikan secara terbuka dan bahkan ditagih dalam forum resmi Musrenbang, maka pemerintah memiliki kewajiban moral untuk merealisasikannya.

“Kalau komitmen sudah diumumkan ke publik, apalagi atas nama pemerintah, maka itu harus ditunaikan. Jangan sampai masyarakat merasa diabaikan setelah berjasa membawa nama daerah,” tegas politisi Partai Aceh Sejahtera tersebut.

Bagi kader Posyandu Pandrah, persoalan ini bukan hanya soal bangunan fisik. Gedung Posyandu dinilai krusial untuk menunjang pelayanan kesehatan ibu dan anak, sekaligus memperkuat program pencegahan stunting di tingkat gampong.

Ironisnya, di tengah gencarnya kampanye percepatan penurunan stunting secara nasional, kelompok yang justru berprestasi dalam program tersebut merasa belum mendapatkan dukungan nyata.

Kini, publik menanti langkah konkret Pemerintah Kabupaten Bireuen: apakah janji itu akan ditepati, atau kisah Posyandu berprestasi ini akan berakhir sebagai catatan pahit tentang komitmen yang tak terwujudkan.(**) 

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya