![]() |
| Penutupan Dianmas Mahasiswa PTIK Angkatan ke-83/Widya Parama Satwika, meninggalkan jejak kemanusiaan di Kabupaten Bireuen, Aceh (28/2) |
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Setelah 19 hari penuh dedikasi di tengah masyarakat terdampak bencana, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Angkatan ke-83/Widya Parama Satwika, khususnya Sindikat XII, resmi menuntaskan rangkaian Pengabdian kepada Masyarakat (Dianmas) di Kabupaten Bireuen.
Penutupan kegiatan diawali dengan apel pagi sebagai bentuk pengecekan akhir personel sekaligus penguatan komitmen sebelum kembali ke satuan pendidikan. Momentum tersebut menjadi simbol berakhirnya misi kemanusiaan yang telah dijalankan hampir tiga pekan di berbagai kecamatan.
Dalam sesi pemaparan akhir, Sindikat XII membeberkan seluruh program yang telah direalisasikan. Kegiatan mencakup manajemen distribusi logistik, trauma healing bagi anak-anak terdampak bencana, penyaluran bantuan sosial, pemulihan fasilitas umum dan sarana pendidikan, hingga dukungan sanitasi serta pemenuhan kebutuhan dasar warga.
Selama 19 hari, para mahasiswa tidak hanya bergerak dalam ranah bantuan fisik. Mereka juga membangun pendekatan humanis dengan masyarakat, memperkuat koordinasi bersama aparatur gampong dan pemerintah setempat, serta menumbuhkan kembali semangat kebersamaan warga yang sempat terpukul akibat bencana.
“Kehadiran kami bukan sekadar menjalankan program, tetapi memastikan masyarakat merasakan kehadiran negara di saat mereka membutuhkan,” ujar salah satu peserta Dianmas dalam sesi evaluasi internal.
Di lapangan, Sindikat XII turun langsung ke lokasi terdampak. Mereka berbaur dengan masyarakat, mendampingi anak-anak melalui sesi pemulihan psikologis, serta membantu percepatan perbaikan fasilitas publik yang rusak.
Koordinasi intens dilakukan dengan unsur pemerintah daerah, relawan, serta tokoh masyarakat guna memastikan setiap intervensi tepat sasaran dan berkelanjutan.
Usai rangkaian penutupan, rombongan bertolak dari Bireuen menuju Banda Aceh untuk melaksanakan konsolidasi internal. Evaluasi menyeluruh dilakukan guna mengukur efektivitas program serta menyerap pelajaran lapangan sebagai bekal penguatan kapasitas kepemimpinan.
Apel malam yang digelar setibanya di lokasi menjadi simbol peneguhan disiplin dan tanggung jawab, sekaligus refleksi atas pengalaman kemanusiaan yang telah dilalui.
Bekal Menjadi Perwira Humanis
Pengabdian 19 hari ini bukan sekadar agenda akademik.
Dianmas menjadi laboratorium kepemimpinan lapangan bagi calon perwira Polri, mengasah kepekaan sosial, empati, serta kemampuan manajerial dalam situasi krisis.
Pengalaman di Kabupaten Bireuen diharapkan membentuk karakter perwira yang profesional, humanis, dan mampu memenangkan hati masyarakat. Sebab pada akhirnya, kepercayaan publik menjadi fondasi utama dalam pelaksanaan tugas kepolisian di masa depan.(AAP)

0 Komentar