![]() |
| Lazismu Bireuen, bersama Tunanetra dalam rangka pengajian Al-Qur’an menggunakan huruf Braille bagi penyandang disabilitas terdampak bencana (18/4) |
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Kabupaten Bireuen menggelar pengajian Al-Qur’an menggunakan huruf Braille bagi penyandang disabilitas tunanetra terdampak banjir, Sabtu (18 April 2026).
Kegiatan yang dirangkai dengan penyaluran bantuan sosial ini berlangsung di Aula Kampus Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH), Simpang 4 Bireuen, Kecamatan Kota Juang. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemulihan spiritual dan sosial bagi kelompok rentan pascabencana.
Ketua Lazismu Bireuen, Ustadz Fajar Ardiansyah, mengatakan kegiatan ini tidak hanya berfokus pada bantuan material, tetapi juga memastikan akses pendidikan agama tetap terbuka bagi penyandang disabilitas.
“Pengajian Al-Qur’an Braille ini kami hadirkan agar saudara-saudara tunanetra tetap bisa belajar dan mendalami Al-Qur’an, meski berada dalam situasi sulit akibat bencana,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, Lazismu menghadirkan Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Bireuen, Yusaini, sebagai pengajar utama. Ia membimbing peserta dengan metode khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan tunanetra.
Selain pengajian, peserta juga menerima bantuan berupa paket sembako dan perlengkapan ibadah untuk meringankan beban ekonomi mereka pascabanjir.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Bireuen di bawah kepemimpinan dr. Athaillah A. Latief, Sp.OG. Selama periode 2022–2027, Muhammadiyah Bireuen dinilai aktif mendorong program-program sosial yang menyasar kelompok rentan.
Dr. Athaillah yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Pembina Harian UMMAH menegaskan pentingnya kolaborasi antarlembaga dalam menghadirkan solusi nyata di tengah masyarakat.
“Pelayanan kepada umat harus menyentuh semua aspek, tidak hanya kebutuhan fisik, tetapi juga spiritual. Terutama bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan perhatian lebih,” katanya.
Suasana kegiatan berlangsung khidmat dan penuh kehangatan. Peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi pembelajaran, sekaligus bersyukur atas perhatian yang diberikan.
Program ini menjadi salah satu contoh sinergi antara Lazismu, Muhammadiyah, dan komunitas disabilitas dalam menghadirkan layanan yang inklusif. Di tengah situasi pascabencana, langkah ini dinilai penting untuk memastikan tidak ada kelompok yang terabaikan, baik dari sisi bantuan sosial maupun pembinaan keagamaan.

0 Komentar