BIREUEN, REAKSIONE.ID | Kisah pilu datang dari Desa Meunasah Tambô, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen. Seorang perempuan lanjut usia penyandang disabilitas, Maimunah (60), harus bertaruh nyawa saat banjir hidrometeorologi melanda wilayahnya beberapa bulan lalu.
Perempuan yang akrab disapa Cek Nah itu terkurung di dalam rumahnya yang reyot selama dua hari dua malam tanpa makanan dan air minum. Dalam kondisi listrik padam dan air terus meninggi, ia hanya bisa bertahan dengan kondisi fisik terbatas, menunggu pertolongan yang tak kunjung tiba.
“Saya kira saya akan mati di sini sendirian,” ujar Cek Nah dengan suara lirih, mengenang momen yang nyaris merenggut nyawanya.
Saat banjir datang, tidak ada evakuasi yang menjangkau dirinya. Hidup sebatang kara membuatnya semakin rentan. Tanpa keluarga yang mendampingi, ia menghadapi bencana sendirian di tengah gelap dan dingin yang mencekam.
Hingga kini, kondisi kehidupannya belum banyak berubah. Rumah yang ditempati masih jauh dari kata layak, sementara bantuan yang dijanjikan belum terealisasi secara nyata.
Sorotan pun mengarah pada peran pemerintah daerah, khususnya dinas terkait, yang dinilai belum maksimal dalam memberikan perlindungan terhadap kelompok rentan seperti penyandang disabilitas.
Sedangkan dalam kitab Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, negara memiliki kewajiban untuk menjamin perlindungan, keselamatan, dan kesejahteraan bagi penyandang disabilitas, terutama dalam situasi darurat seperti bencana.
Kondisi yang dialami Cek Nah menjadi potret nyata lemahnya implementasi kebijakan di lapangan. Saat bencana datang, kelompok rentan justru menjadi pihak yang paling terdampak, namun sering luput dari prioritas penanganan.
Cek Nah tak menuntut banyak. Ia hanya berharap bisa hidup lebih layak, memiliki tempat tinggal yang aman, serta akses terhadap kebutuhan dasar yang memadai.
Kisah ini menjadi pengingat keras bagi semua pihak, bahwa di balik data dan laporan resmi, masih ada warga yang berjuang sendirian tanpa perlindungan. Pemerintah dituntut tidak hanya hadir dalam wacana, tetapi juga dalam tindakan nyata, sebelum tragedi serupa kembali terulang.(**)

0 Komentar