Breaking News

Musrenbang Juli: Jalan Hancur, Jembatan Ambruk, Warga Desak Pemulihan Total Pascabanjir

Musrenbang di Aula Serbaguna Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Aceh (24/2) 

 BIREUEN, REAKSIONE.ID | Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Juli berubah menjadi forum “curhat” publik. Warga kompak mendesak perbaikan infrastruktur rusak parah akibat bencana hidrometeorologi akhir tahun lalu.

Bertempat di Aula Serbaguna Kecamatan Juli, forum tahunan itu difokuskan pada sinkronisasi program prioritas pascabencana. Jalan hancur, jembatan ambruk, hingga sawah tertimbun lumpur menjadi daftar panjang persoalan yang harus segera ditangani.

Musrenbang dibuka oleh Plt Asisten III Setdakab Bireuen, Azhari, dan dihadiri empat anggota DPRK dari daerah pemilihan Juli-Jeumpa, yakni Rosnawati dan Nova Syamaun (Golkar), Adnen Nurdin (PKB), serta Sofyannur (Partai Aceh). Hadir pula unsur SKPK, para Keuchik, Imum Mukim, serta Tokoh masyarakat.

Camat Juli, Hendri Maulana, menegaskan bahwa pemulihan pascabencana menjadi prioritas utama usulan ke tingkat kabupaten.“Kecamatan Juli termasuk wilayah paling parah terdampak. Karena itu, perbaikan infrastruktur dasar harus didahulukan,” ujarnya.

Sejumlah ruas jalan yang diusulkan untuk peningkatan dan perbaikan antara lain Jalan Suka Tani, Pante Peusangan, Sarah Sirong Jaya, Teupin Mane, Simpang Jaya, hingga Alue Limeng. Usulan tersebut merupakan hasil Pra-Musrenbang ditambah kebutuhan darurat pascabencana.

Tak hanya jalan, masyarakat juga menuntut perbaikan jembatan rangka baja di Gampong Pante Peusangan yang hancur diterjang banjir. Selain itu, jembatan gantung penghubung Simpang Jaya–Simpang Mulia, Bivak–Sarah Sirong Jaya, Kubang Itam di Bale Panah, serta jembatan gantung Gampong Pante Baro turut masuk daftar prioritas.

Bahkan Sektor pertanian tak luput dari sorotan. Para petani mengusulkan normalisasi Waduk Peuraden untuk menjamin suplai air ke persawahan. Selain itu, sejumlah tebing sungai di Rantau Panyang, Krueng Simpo, Teupin Mane, Simpang Jaya, Bale Panah, dan Simpang Mulia dinilai rawan abrasi dan mengancam permukiman.

Keuchik Abeuk Budi, Munzir, berharap pemerintah membangun waduk dan pompanisasi guna memulihkan produktivitas petani yang terdampak sawah tertimbun material banjir.

Sementara Keuchik Juli Pasee mengusulkan agar pembangunan hunian bagi korban banjir menggunakan material batu bata produksi lokal Kecamatan Juli. Langkah itu dinilai dapat menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat.

Keluhan juga datang dari warga Teupin Mane, Nursilawati. Ia menyebut banyak anak sungai tidak lagi berfungsi normal, sehingga berpotensi menyebabkan genangan besar jika hujan berintensitas tinggi kembali terjadi.

Menanggapi aspirasi tersebut, perwakilan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen menyatakan pompanisasi memang kebutuhan mendesak. Namun pengajuan teknis diminta dilakukan langsung ke dinas terkait agar dapat diproses sesuai mekanisme.

"Untuk lahan tadah hujan, pemerintah menawarkan bantuan benih padi gogo. Program pengembangan varietas tersebut disebut telah berjalan dua tahun terakhir di Kabupaten Bireuen, dan diharapkan menjadi solusi alternatif bagi petani terdampak.

Musrenbang Kecamatan Juli kali ini menegaskan satu pesan kuat."Pemulihan bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak. Warga berharap usulan yang telah dirumuskan tak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar terwujud dalam program nyata tahun anggaran mendatang.(**) 

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya