Breaking News

“Sex Mountain” Lereng Kemukus: Antara Mitos, Hasrat, dan Ilusi Pesugihan

Ilustrasi Lereng Gunung Kemukus, Sragen, Jawa Tengah (25/2) 

 JAVANESIA, REAKSIONE.ID | Ada ironi yang nyaris sempurna di lereng Gunung Kemukus, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Orang-orang datang membawa tasbih dan dupa, namun tak sedikit yang pulang dengan cerita berbeda: kamar sewaan, ritual malam, dan harapan instan menjadi kaya.

Di kalangan peziarah, praktik itu disebut ngalap berkah. Sebagian menyebutnya laku. Bahkan ada yang meyakini sebagai bagian dari tradisi Jawa yang diwariskan turun-temurun. 

"Namun di balik klaim spiritualitas tersebut, praktik yang berkembang justru memantik kontroversi, hingga media asing pernah melabelinya sebagai “Sex Mountain”.

Kompleks makam di puncak bukit itu diyakini sebagai persemayaman Pangeran Samudra, tokoh yang dalam cerita tutur dikaitkan dengan kisah hubungan terlarang bersama Dewi Ontrowulan. Narasi inilah yang kemudian ditafsirkan sebagian orang sebagai dasar ritual tertentu.

Cerita yang sumbernya kabur berkembang menjadi “pakem” tak tertulis. Istilah dhemenan yang dalam khazanah Jawa sarat makna simbolik, oleh sebagian kalangan dimaknai secara harfiah. Tafsir itu kemudian melahirkan keyakinan bahwa keberhasilan ritual ditentukan oleh hubungan intim dengan pasangan, bahkan disebut harus dilakukan tujuh kali pada malam tertentu.

Budaya Jawa sejatinya mengenal konsep tirakat pengendalian diri, laku batin, dan disiplin spiritual. Nafsu dilatih, bukan dilepaskan. Namun praktik yang berkembang di Gunung Kemukus justru dinilai sebagian kalangan bertolak belakang dengan esensi tersebut.

"Alih-alih menjadi ruang kontemplasi, kawasan itu pernah dikenal sebagai lokasi praktik prostitusi terselubung yang dibungkus mitos pesugihan. Doa dan dupa menyatu dengan transaksi gelap. Spiritualitas berjalan beriringan dengan hasrat. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana simbol sakral bisa bergeser fungsi ketika bertemu kepentingan ekonomi. 

Keinginan menjadi kaya tanpa proses panjang membuat sebagian orang mencari legitimasi instan dan mitos menjadi alat paling mudah untuk itu.

Julukan “Sex Mountain” yang sempat mencuat di media internasional memang terasa menampar. Namun label tersebut lahir bukan dari ruang hampa. Ia muncul dari praktik nyata yang pernah berlangsung di sana.

Pemerintah daerah sendiri beberapa tahun terakhir melakukan penertiban dan penataan kawasan, berupaya mengembalikan Gunung Kemukus sebagai destinasi wisata religi dan budaya. 

"Infrastruktur diperbaiki, pengawasan diperketat, dan praktik prostitusi ditekan.
Meski demikian, bayang-bayang masa lalu masih melekat kuat dalam persepsi publik.

Gunung Kemukus pada akhirnya bukan sekadar soal mitos atau ritual. Ia menjadi cermin tentang bagaimana manusia memaknai berkah dan jalan pintas menuju kesejahteraan.

Ketika kekayaan diidamkan tanpa proses, ajaran yang rumit tak lagi menarik. Yang dicari adalah pembenaran dan mitos kerap menjadi legitimasi paling murah.

Di lereng bukit itu, orang-orang datang membawa doa di bibir dan harapan di dada. Namun yang paling laris, barangkali bukanlah berkah, melainkan ilusi. Ono-ono wae.(**) 

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya