Breaking News

Musrenbang Juli: DPRK Desak Rehab-Rekon Perioritaskan Sarana Urgent Terdampak Bencana

Musrenbang Kecamatan Juli, Kecamatan Bireuen, Aceh (24/2) 

 BIREUEN, REAKSIONE.ID | Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, berlangsung dinamis. Sejumlah anggota DPRK secara tegas mendesak pemerintah agar memprioritaskan rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) sarana vital yang rusak akibat bencana hidrometeorologi akhir tahun lalu.

Fokus utama yang mencuat dalam forum tersebut adalah perbaikan infrastruktur penghubung antarwilayah serta fasilitas layanan kesehatan yang hingga kini belum sepenuhnya tertangani.

Anggota DPRK Bireuen dari Fraksi Partai Aceh, Tgk Sufiannur, menyoroti kondisi akses strategis Waled Yan, Jalan Paya Cut, Simpang Mulia hingga Jeumpa yang dinilai sangat mendesak untuk dipulihkan.“Sebagian sarana sudah diperbaiki, tetapi masih ada yang belum tertangani. Padahal ini akses penghubung dua kecamatan dan sangat dibutuhkan masyarakat, terutama petani,” ujarnya dalam Musrenbang yang digelar di Aula Serbaguna Kecamatan Juli, Selasa (24/2/2025).

Menurutnya, kelancaran akses transportasi menjadi kunci pemulihan ekonomi warga pascabencana. Tanpa infrastruktur memadai, distribusi hasil pertanian dan aktivitas masyarakat akan terus terhambat.

Selain infrastruktur jalan, kerusakan dua Pondok Bersalin Desa (Polindes) di Simpang Mulia dan Teupin Mane akibat terjangan banjir juga menjadi perhatian serius.

Tgk Sufiannur menegaskan, fasilitas kesehatan tersebut menyangkut kebutuhan dasar masyarakat dan harus segera direalisasikan kembali.“Ini menyangkut kesehatan warga. Untuk kemaslahatan masyarakat, dua Polindes itu harus segera dibangun kembali,” tegasnya.

Senada dengan itu, anggota DPRK Fraksi Partai Golkar, Nova Syamaun, menambahkan bahwa sektor pertanian juga berada dalam kondisi rentan. Kerusakan areal persawahan dan sistem pendukungnya dinilai berpotensi memicu dampak lebih besar jika terjadi bencana susulan.

“Pemulihan lahan pertanian sama pentingnya. Jangan sampai kerusakan yang ada menjadi pemicu bencana berikutnya,” kata Nova.

Ia mengakui, sebagian usulan telah masuk dalam program kerja sesuai kewenangan masing-masing tingkatan pemerintahan, baik pusat, provinsi maupun kabupaten. Namun ia meminta percepatan realisasi agar masyarakat tidak terus menunggu tanpa kepastian.

Dalam forum itu juga mencuat persoalan psikologis korban bencana. Warga yang kehilangan rumah disebut masih mengalami trauma dan membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah.

Nova mengingatkan agar pemerintah tidak hanya fokus pada infrastruktur transportasi, tetapi juga memperhatikan pemulihan sosial masyarakat.

Ia turut menyuarakan aspirasi warga agar pembangunan hunian bagi korban bencana melibatkan masyarakat setempat serta memprioritaskan material lokal.

“Bek sampee buya krueng teu deong-deong, buya tameong meuraseuki,” ujarnya, mengutip ungkapan Aceh yang menekankan pentingnya keberkahan dan pemerataan manfaat bagi masyarakat lokal.

Menanggapi hal tersebut, Asisten III Setdakab Bireuen, Azhari, menyatakan pihaknya akan menyampaikan aspirasi itu kepada instansi terkait.

Ia memastikan pemerintah daerah mendorong penggunaan material produksi lokal, seperti batu bata dan bahan bangunan lainnya, sebagai bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat Kecamatan Juli.“Pemanfaatan produk lokal akan kita prioritaskan agar roda ekonomi masyarakat ikut bergerak,” kata Azhari.

Musrenbang Kecamatan Juli dibuka secara resmi oleh Asisten III Azhari dan dipandu Camat Juli, Hendri Maulana, dihadiri anggota DPRK Tgk Sufiannur (Partai Aceh), Nova Syamaun dan Rosnawati (Partai Golkar), Adnen Nurdin (PKB), unsur SKPK, Imum Mukim, para Keuchik, serta tokoh masyarakat Kecamatan Juli.

Forum tersebut menjadi momentum penting menyelaraskan prioritas pembangunan 2026, dengan penekanan kuat pada pemulihan sarana vital dan penguatan ketahanan wilayah pascabencana di Kabupaten Bireuen, Aceh.(**) 

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya