![]() |
| Sebanyak 7 KK korban bencana warga Gampong Raya Dagang, Kecamatan Peusangan, bertahan di kompleks Kantor Bupati Bireuen (28/3) |
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Sebagian warga korban bencana yang sempat bertahan di kompleks Kantor Bupati Bireuen mulai kembali ke gampong. Namun, puluhan lainnya masih memilih bertahan dengan berbagai keluhan yang mengarah pada minimnya perhatian pemerintah daerah.
Berdasarkan pantauan di lokasi, Sabtu (28/3/2026), sebanyak 13 kepala keluarga (KK) asal Gampong Salah Sirong Jaya, Kecamatan Jeumpa, telah membongkar tenda dan pulang ke kampung halaman. Sementara itu, sebanyak 12 KK lainnya masih bertahan di kawasan perkantoran
Pemerintah Kabupaten Bireuen.
Warga yang masih bertahan berasal dari Gampong Raya Dagang dan Gampong Kapa, Kecamatan Peusangan. Mereka mengaku belum mendapatkan kejelasan terkait penanganan pascabencana yang mereka alami.
Salah seorang warga, Zulfikar dari Gampong Raya Dagang, menyebut hingga kini belum ada respons konkret dari pemerintah daerah, termasuk dari pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).“Kami masih bertahan menunggu itikad baik dan komitmen pemerintah terkait tuntutan kami. Sampai sekarang belum ada tanggapan,” ujar Zulfikar.
Ia juga mengungkapkan, selama berada di lokasi pengungsian, belum ada bantuan langsung dari Pemerintah Kabupaten Bireuen, bahkan untuk kebutuhan dasar.
“Sejak kami di sini, belum pernah ada perwakilan pemerintah kabupaten yang datang memperhatikan kebutuhan kami. Sembako tidak ada, bahkan air minum pun tidak pernah kami rasakan dari mereka,” katanya.
Zulfikar menambahkan, bantuan yang diterima selama ini justru berasal dari Pemerintah Provinsi Aceh sebanyak dua kali, serta dari pihak ketiga.
![]() |
Sebanyak 4 Tenda terdiri dari 4 KK korban bencana dari Gampong Kapa, bertahan di kompleks Kantor Bupati Bireuen (28/3) malam |
Hal senada disampaikan M. Amin, warga Gampong Kapa. Ia menilai penanganan korban bencana seharusnya tidak serumit yang terjadi saat ini.“Masalah ini sebenarnya tidak rumit, tapi pemerintah terkesan tidak serius menanggapi aspirasi kami,” ujarnya.
Ia menegaskan, keberadaan mereka di kompleks kantor bupati murni sebagai korban bencana yang mencari perlindungan dan kejelasan, bukan bermuatan politik.“Kami datang dan mendirikan tenda di sini atas inisiatif sendiri, tanpa unsur politis,” tegasnya.
Menurut Amin, warga telah bertahan selama 18 malam di lokasi tersebut, setelah sebelumnya mengalami kondisi lebih berat saat tinggal di tenda darurat di gampong.“Setidaknya di sini ada sedikit perlindungan dari panas karena ada pepohonan. Tidak seperti di gampong yang benar-benar terbuka,” katanya.
Ia juga mengaku kecewa karena tidak terdata sebagai korban, meski rumahnya mengalami kerusakan parah.“Rumah saya rusak berat, tapi tidak masuk dalam daftar. Ini yang membuat saya memilih bertahan di sini,” ungkapnya.
Warga berharap pemerintah segera memberikan solusi konkret, termasuk penyediaan hunian tetap yang legal dan disepakati bersama melalui mekanisme resmi.“Kami menunggu komitmen pemerintah untuk menyediakan tempat tinggal yang layak bagi kami,” tutup Amin.
Dari hasil pengamatan di lapangan, saat ini masih terdapat lima tenda yang dihuni 12 KK di kompleks Kantor Bupati Bireuen. Sementara tiga tenda lainnya yang sebelumnya dihuni 13 KK dari Salah Siring Jaya telah dibongkar setelah mereka memutuskan kembali ke gampong.(**)


0 Komentar