Breaking News

Terungkap! Ini Alasan Sapi Meugang Bantuan Presiden Dibeli dari Luar Bireuen

Ilustrasi: Pengadaan Sapi Meugang Bantuan Presiden Prabowo untuk masyarakat korban bencana di Kabupaten Bireuen, Aceh (22/3) 


 BIREUEN, REAKSIONE.ID | Pemerintah Kabupaten Bireuen akhirnya buka suara terkait polemik pembelian sapi meugang bantuan Presiden yang sebagian didatangkan dari luar daerah. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan karena keterbatasan waktu, efisiensi harga, hingga menjaga stabilitas pasar lokal.

Juru Bicara Pemkab Bireuen, Muhajir Juli, menjelaskan bahwa bantuan kemasyarakatan Presiden senilai Rp2,25 miliar telah ditransfer ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) pada Selasa (17/3/2026) pukul 15.00 WIB. Dana tersebut diperuntukkan bagi pembelian sapi meugang untuk 91 desa terdampak bencana.

Namun, waktu yang sangat terbatas menjadi tantangan utama. Pada malam harinya, Pemkab Bireuen langsung mengikuti rapat virtual bersama Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, yang membahas teknis penyaluran bantuan Presiden menjelang tradisi meugang.

Dalam rapat tersebut, ditegaskan bahwa bantuan harus disalurkan dalam bentuk daging, bukan uang, sesuai Surat Edaran Menteri Dalam Negeri tertanggal 12 Februari 2026.

“Setelah itu, langsung masuk rangkaian hari libur nasional dan cuti bersama, mulai dari Nyepi hingga Idulfitri. Praktis waktu efektif sangat sempit,” ujar Muhajir, Minggu (22 Maret 2026).

Dengan tenggat waktu yang mendesak, Pemkab Bireuen harus memastikan daging meugang tetap sampai ke masyarakat tepat waktu. Hasil rapat terbatas memutuskan pengadaan sapi dilakukan dengan skema campuran: 60 ekor dari luar daerah dan 32 ekor dibeli di Kabupaten Bireuen.

Keputusan ini diambil karena keterbatasan peternak lokal dalam memenuhi kriteria yang telah ditetapkan, seperti berat, umur sapi, serta standar harga per kilogram.
“Tidak semua penyedia lokal mampu memenuhi spesifikasi dalam jumlah besar dan waktu singkat,” jelasnya.

Jaga Harga Daging Tetap Stabil
Selain faktor teknis, Pemkab juga mempertimbangkan dampak ekonomi. Jika seluruh sapi dibeli dari dalam daerah, dikhawatirkan akan mengganggu pasokan dan memicu lonjakan harga daging di pasaran menjelang hari raya.

“Kami ingin memastikan harga daging tetap stabil dan daya beli masyarakat tidak terganggu saat meugang dan Idulfitri,” tambah Muhajir.

Adapun harga pembelian sapi berada di kisaran Rp22 juta hingga lebih dari Rp30 juta per ekor, tergantung ukuran dan kebutuhan masing-masing desa. Harga tersebut sudah termasuk pajak (PPN Pasal 22), infaq, serta biaya distribusi lainnya.

Dalam proses distribusi, sempat terjadi kendala dengan satu ekor sapi yang mati. Namun, Pemkab Bireuen memastikan telah mengambil langkah cepat dengan mengganti sapi tersebut.

Dengan demikian, total sapi yang disiapkan menjadi 92 ekor untuk memenuhi kebutuhan 91 desa terdampak.

Pemkab menegaskan, seluruh kebijakan yang diambil bertujuan agar tradisi meugang tetap berjalan lancar dan masyarakat tetap bisa merasakan kebahagiaan menjelang Idulfitri, tanpa terganggu oleh persoalan distribusi maupun lonjakan harga.(**) 

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya