Breaking News

Tuntueng Daleih: Kompas Kebajikan yang Menentukan Arah Pendidikan dan Masa Depan

Hasan Basri, S.Pd., M.Pd, Pemerhati Pendidikan Aceh (doc) 

 ACEH, REAKSIONE.ID | Di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian bising, ada satu suara lama yang tetap relevan tenang, dalam, namun menghunjam kesadaran. Dalam kearifan Aceh, ungkapan ini bukan sekadar petuah, melainkan peringatan keras bagi setiap manusia:

“Tapeuduli Meudaleih, han Tapeuduli pih Meudaleih. Tapeuingat Meudaleih, han Tapeuingat pih Daleih.”

Kalimat ini bukan permainan kata. Ia adalah cermin yang memantulkan konsekuensi: bahwa setiap sikap peduli atau abai, sadar atau lalai, tetap akan berbuah. Tidak ada ruang netral dalam kehidupan. Semua pilihan, sekecil apa pun, akan kembali mengetuk pintu diri kita sendiri.

Banyak orang mengira hidup ditentukan oleh nasib. Padahal, realitasnya jauh lebih tajam, karena hidup dibentuk oleh pilihan. Peduli melahirkan makna, sementara abai menumbuhkan penyesalan. Kesadaran melahirkan arah, sementara kelalaian membuka jalan pada kesesatan.

Inilah inti dari Tuntueng Daleih sebuah kesadaran akan hukum sebab-akibat yang tidak bisa ditawar. Ia mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar dijalani, tetapi dipertanggungjawabkan. Tidak hanya di dunia, tetapi juga dalam dimensi yang lebih kekal.

Di sinilah pendidikan menemukan makna sejatinya. Ia bukan sekadar angka di rapor, bukan pula gelar yang dipajang di belakang nama. Pendidikan adalah kompas penunjuk arah di tengah dunia yang mudah menyesatkan.

Pendidikan yang kehilangan nilai hanya akan melahirkan generasi cerdas tanpa nurani. Sebaliknya, pendidikan yang berakar pada kebajikan akan melahirkan manusia utuh yang tahu, memahami, dan mampu merasakan.

Pendidikan sejati:
Menuntun, bukan sekadar mengajar
Membangun karakter, bukan hanya kecerdasan
Menghidupkan nilai, bukan sekadar teori
Tanpa itu, ilmu hanya menjadi alat. Dengan itu, ilmu menjadi cahaya.

Kolaborasi: Kekuatan yang Sering Diremehkan. Sehingga tidak ada perubahan besar yang lahir dari kesendirian. Dalam falsafah Aceh, dikenal semangat 'pakat-pakat', bersatu dalam tujuan, berjalan dalam kesadaran kolektif.

Namun kolaborasi tanpa nilai hanya akan menjadi kerumunan tanpa arah. Karena itu, setiap langkah bersama harus berpijak pada satu kesadaran: bahwa semua ikhtiar adalah bentuk pengabdian. Bahwa tujuan akhir bukan sekadar keberhasilan dunia, tetapi kebermanfaatan yang lebih luas.

"Ketika niat lurus dan langkah bersatu, hal yang mustahil pun bisa didekati.

Hari ini, tantangan terbesar pendidikan bukanlah kurangnya fasilitas, tetapi lunturnya nilai. Banyak yang cerdas, namun kehilangan arah. Banyak yang berilmu, namun miskin makna.
Inilah alarm yang tidak boleh diabaikan.

Jika pendidikan tidak kembali pada akar kebajikan, maka ia hanya akan melahirkan generasi yang pandai menghitung, tetapi gagal memahami arti hidup.

Tuntueng daleih mengajak kita untuk berhenti sejenak, bukan untuk diam, tetapi untuk sadar. Bahwa setiap langkah adalah pilihan. Bahwa setiap pilihan adalah investasi.

Mari menjadikan:
setiap ilmu sebagai cahaya,
setiap kerja sebagai ibadah,
setiap kolaborasi sebagai kekuatan, dan setiap keputusan sebagai bentuk tanggung jawab.

Karena pada akhirnya, yang menentukan arah hidup bukanlah seberapa jauh kita melangkah, tetapi seberapa benar arah yang kita pilih.
Dan di situlah pendidikan menemukan perannya: bukan sekadar mengantar kita berjalan, tetapi memastikan kita tidak tersesat.

Penulis;
Hasan Basri, S.Pd., M.Pd
Pemerhati Pendidikan Aceh

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya