![]() |
| Meugang menjadi Simbol Khusus dan Tradisi Masyarakat Aceh di Bumi Seuramoe Mekkah (doc) |
ACEH, REAKSIONE.ID | Tradisi Meugang di Bumi Seuramoe Mekkah, Aceh, merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Aceh yang telah berlangsung turun-temurun sejak ratusan tahun silam.
"Tradisi ini dilaksanakan setiap menjelang Bulan Suci Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, dan Hari Raya Idul Adha. Di Tanah Rencong yang dikenal sebagai Bumi Seuramoe Mekkah, Meugang bukan sekadar momentum memasak daging, tetapi simbol syukur, kebersamaan, dan kepedulian sosial.
Asal-Usul dan Sejarah
Sejarah mencatat, tradisi Meugang sudah ada sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam (abad ke-16). Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, kerajaan menyembelih hewan dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada rakyat sebagai bentuk perhatian sosial dan penguatan ukhuwah Islamiyah menjelang hari-hari besar keagamaan.
"Seiring waktu, tradisi tersebut mengakar dalam kehidupan masyarakat dan terus dilestarikan hingga kini.
Meugang memiliki makna mendalam, antara lain:
Ungkapan syukur menyambut bulan suci atau hari raya.
Mempererat silaturahmi, karena keluarga berkumpul dan makan bersama.
Solidaritas sosial, di mana warga yang mampu berbagi daging kepada fakir miskin, anak yatim, atau tetangga kurang mampu.
"Identitas budaya Aceh, yang memperkuat jati diri masyarakat sebagai komunitas religius dan komunal.
Dalam tradisi ini, hampir setiap keluarga berupaya membeli daging sapi atau kambing, meskipun dalam jumlah kecil. Harga daging biasanya melonjak tajam karena tingginya permintaan, namun antusiasme masyarakat tetap tinggi.
Sehari sebelum Ramadhan atau hari raya, pasar-pasar tradisional di berbagai kabupaten/kota di Aceh dipadati pembeli. Aroma daging segar dan rempah khas Aceh memenuhi udara.
Di rumah-rumah, daging dimasak menjadi berbagai hidangan seperti gulai, rendang, atau masakan khas lainnya. Momen makan bersama keluarga menjadi bagian yang paling dinanti.
Di era modern, tradisi Meugang tetap bertahan meski zaman berubah. Pemerintah daerah bahkan kerap memantau stabilitas harga dan distribusi daging agar tradisi ini tetap dapat dijalankan seluruh lapisan masyarakat.
Meugang bukan hanya ritual tahunan, tetapi cerminan nilai keislaman, kebersamaan, dan kedermawanan masyarakat Aceh. Ia menjadi pengikat sosial yang memperkuat hubungan antarindividu sekaligus menjaga warisan budaya yang telah hidup selama berabad-abad di Tanah Rencong.
Singkatnya, Meugang adalah denyut budaya Aceh yang selalu hadir menyambut Ramadhan dan hari raya, tradisi yang tak sekadar tentang daging, tetapi tentang hati, iman, dan persaudaraan.(**)

0 Komentar