![]() |
| Perwira Pendamping Mahasiswa STIK, KBP Taufik Hidayat, S.H., S.I.K., M.Si bersama Kapolres Bireuen, AKBP Tuschad Cipta Herdani, S.I.K., M.Med.Kom (10/2) |
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Dianmas) Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Angkatan ke-83 Yon WPS di wilayah hukum Polda Aceh memasuki hari kedua, Selasa (10/2/2026). Fokus kegiatan diarahkan pada orientasi lapangan dan pemetaan penanganan bencana di Kabupaten Bireuen yang belakangan dilanda banjir besar.
Rangkaian kegiatan diawali dengan apel pagi yang dipimpin Perwira Pendamping, KBP Taufik Hidayat, S.H., S.I.K., M.Si. Dalam arahannya, ia menegaskan pentingnya kedisiplinan, soliditas tim, serta kepekaan mahasiswa terhadap kondisi sosial masyarakat, khususnya warga terdampak bencana.“Mahasiswa STIK harus mampu membaca situasi lapangan, memahami kebutuhan riil masyarakat, dan hadir sebagai solusi,” tegas KBP Taufik.
Usai apel, rombongan mahasiswa STIK melaksanakan orientasi di Polres Bireuen. Kehadiran Mahasiswa STIK disambut langsung oleh Kapolres Bireuen AKBP Tuschad Cipta Herdani, S.I.K., M.Med.Kom.
Dalam sambutannya, Kapolres memaparkan gambaran umum situasi kamtibmas serta kondisi kebencanaan yang tengah dihadapi Kabupaten Bireuen, sekaligus mengapresiasi keterlibatan mahasiswa STIK dalam mendukung upaya penanganan bencana.“Sinergi ini sangat penting, terutama dalam memperkuat data, pemetaan, dan langkah penanganan bencana yang tepat sasaran,” ujar Kapolres.
Kegiatan dilanjutkan dengan paparan dari Kabag Ops dan Kabag SDM Polres Bireuen yang menyampaikan data terkini serta kebutuhan mendesak terkait penanggulangan bencana alam. Dari data yang dipaparkan, dampak banjir di Bireuen tergolong serius dan menyentuh berbagai sektor kehidupan masyarakat.
Aktivitas pendidikan di sejumlah wilayah terdampak dilaporkan terhenti selama sekitar 1,5 bulan. Selain itu, terdapat 30 titik pengungsian yang tersebar di 17 kecamatan, dengan jumlah pengungsi mencapai 2.097 jiwa.
"Tragedi banjir tersebut juga menelan korban jiwa, dengan 40 orang meninggal dunia, serta 3 orang dinyatakan hilang dan masih dalam proses pencarian. Kerusakan infrastruktur tak kalah memprihatinkan. Tercatat 58 unit jembatan putus dan 76 ruas jalan mengalami kerusakan, yang berdampak langsung pada akses mobilitas warga serta distribusi logistik bantuan.
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa STIK Angkatan ke-83 melaksanakan pemetaan lanjutan di Polsek Peusangan guna memperoleh gambaran lebih detail terkait kondisi lapangan, potensi risiko, serta kebutuhan prioritas masyarakat setempat.
Melalui rangkaian kegiatan hari kedua Dianmas ini, mahasiswa STIK diharapkan mampu menyusun pemetaan kebencanaan yang akurat dan komprehensif sebagai dasar pelaksanaan program lanjutan, khususnya dalam mendukung upaya penanganan darurat dan pemulihan pascabencana di Kabupaten Bireuen.(AAP)

0 Komentar