Breaking News

Selamatkan Pendidikan Bireuen: TNI–Mahasiswa Bersatu Pulihkan Sekolah Pascabanjir

TNI dan Mahasiswa bergotong royong membersihkan lingkungan UPTD SD Negeri 11 Keurumbok, Kecamatan Kutablang (18/1).
 

 BIREUEN, REAKSIONE.ID | Kepedulian terhadap dunia pendidikan pascabencana banjir kembali ditunjukkan secara nyata di Kabupaten Bireuen. Puluhan prajurit TNI dari Yonif TP 837/KT Kodam V/Brawijaya bersama mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK), UIN Ar-Raniry, serta para guru setempat bergotong royong membersihkan lingkungan UPTD SD Negeri 11 Keurumbok, Kecamatan Kutablang, Minggu (18 Januari 2026).

Endapan lumpur yang menutupi ruang-ruang belajar tak menyurutkan semangat para relawan. Sejak pagi, mereka berjibaku mengangkat sisa lumpur, menyelamatkan buku pelajaran, serta menata kembali mobiler sekolah yang rusak akibat terjangan banjir.

Tak ada istilah hari libur bagi prajurit TNI maupun mahasiswa KKN dan KPM. Mereka bekerja tanpa lelah demi mempercepat pemulihan sarana pendidikan agar aktivitas belajar mengajar dapat segera kembali normal.

Kegiatan tersebut dipimpin oleh Letda Inf. Dedi Setia Yudha selaku ketua regu, didampingi 14 prajurit lainnya. Dengan peralatan sederhana seperti cangkul, sekop, dan gerobak dorong, para prajurit bahu-membahu membersihkan lumpur yang mengendap tebal di halaman dan ruang kelas.

“Kami menurunkan sebanyak 30 personel dan bermukim sementara di Posramil Kutablang agar lebih dekat dengan lokasi kegiatan. Personel dibagi dua tim, satu fokus membersihkan Puskesmas Kutablang, sementara tim lainnya menangani sekolah ini,” ujar Letda Inf. Dedi didampingi Serka Jafaruddin dari Posramil Kutablang.

Ia menegaskan, setiap lokasi yang menjadi tanggung jawab TNI harus benar-benar bersih meskipun pengerjaannya memerlukan waktu berhari-hari.
Dukungan dari kalangan mahasiswa turut memperkuat semangat gotong royong. Mahasiswa Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry terlihat aktif membantu sejak awal kegiatan.

Ketua Kelompok KPM Tematik UIN Ar-Raniry, Syifaurrahmah, mahasiswi Fakultas Dakwah Program Studi KPI, bersama lima rekannya turun langsung membersihkan ruang kelas dan mengevakuasi buku-buku yang masih bisa diselamatkan.
“Kami ingin hadir langsung membantu masyarakat. Pendidikan anak-anak tidak boleh terhenti hanya karena bencana,” ujarnya.

Hal serupa dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Syiah Kuala bidang kebencanaan siklotropis. Kelompok yang diketuai Rizki Ardiansyah dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Prodi Bahasa Inggris itu berjumlah 10 orang, terdiri dari lima mahasiswa dan lima mahasiswi yang ditempatkan di Gampong Keurumbok.

Plt. Kepala UPTD SD Negeri 11 Keurumbok Kutablang, Nurliana, S.Pd.I, mengungkapkan bahwa sekolah yang dipimpinnya mengalami kerusakan cukup berat. Banjir setinggi sekitar 1,5 meter merendam seluruh ruangan sekolah dan meninggalkan endapan lumpur setebal hampir setengah meter.

Sekolah tersebut memiliki enam rombongan belajar, satu ruang guru, satu perpustakaan, satu gudang, serta satu ruang ujian ANBK yang seluruhnya terdampak. “Banyak buku dan mobiler rusak. Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada TNI dan adik-adik mahasiswa yang telah membantu meringankan beban sekolah kami,” ungkap Nurliana.

Ia menambahkan, sebelumnya sebagian ruang sekolah telah dibersihkan oleh para guru bersama K3S Kutablang, relawan PMI, KNPI Kabupaten Bireuen dan Kecamatan Kutablang, serta sejumlah relawan lainnya. Bahkan, Azhari, S.Pd., MM — mantan Kepala SDN 3 Mon Keulayu Gandaura sekaligus suami Plt. kepala sekolah — tampak hampir setiap hari ikut turun langsung membersihkan lumpur dan merapikan fasilitas yang masih bisa digunakan.

Sementara itu, sekitar 20 persen area halaman sekolah sebelumnya telah dibersihkan menggunakan alat berat bantuan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen pada pekan lalu.

Aksi kolaboratif antara TNI, mahasiswa, guru, dan relawan ini menjadi bukti kuat bahwa kepedulian terhadap pendidikan tidak hanya diwujudkan melalui proses belajar-mengajar, tetapi juga melalui upaya menjaga kelayakan dan keamanan lingkungan sekolah.

"Sekolah yang bersih dan layak menjadi fondasi penting bagi pemulihan psikologis serta semangat belajar anak-anak pascabencana. Di tengah keterbatasan, sinergi lintas elemen masyarakat menjadi kekuatan utama agar hak anak-anak atas pendidikan tetap terjaga.

Pemulihan sekolah bukan sekadar membersihkan lumpur, tetapi juga mengangkat kembali harapan — agar masa depan generasi penerus Bireuen tidak ikut tenggelam bersama bencana.(AAP

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya