![]() |
| Dr. Muslim., M.Si, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen, Aceh (2/1) |
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bireuen resmi menetapkan jadwal masuk sekolah Semester Genap (II) Tahun Pelajaran 2025/2026 bagi seluruh satuan pendidikan PAUD, SD, dan SMP. Aktivitas belajar mengajar dijadwalkan dimulai pada Senin, 5 Januari 2026, dengan penyesuaian khusus pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut.
Ketetapan ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor 400.3/2026 yang ditandatangani Kepala Disdikbud Kabupaten Bireuen, Dr. Muslim, M.Si, dan ditujukan kepada seluruh kepala UPTD PAUD, SD, dan SMP di bawah kewenangan Disdikbud Bireuen.
Dalam surat tersebut dijelaskan, meski sekolah kembali dibuka, pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) pada dua pekan pertama Januari 2026 tidak langsung berfokus pada materi akademik. Disdikbud mengarahkan agar kegiatan belajar difokuskan pada trauma healing dan pemulihan psikologis peserta didik, mengingat banyak siswa terdampak langsung bencana alam.
“Kami ingin memastikan anak-anak kembali ke sekolah dalam kondisi aman dan nyaman. Pada awal masuk, guru diminta lebih mengedepankan pendekatan psikososial, membangun rasa aman, dan memulihkan mental siswa sebelum masuk ke pembelajaran formal,” kata Dr. Muslim dalam keterangannya.
Sebagai bentuk empati terhadap kondisi korban bencana, Disdikbud Bireuen juga memberikan kelonggaran aturan berpakaian. Peserta didik yang kehilangan atau tidak memiliki seragam sekolah akibat banjir diperbolehkan mengenakan pakaian bebas yang sopan selama mengikuti proses belajar mengajar.
Kebijakan tersebut diambil dengan mengacu pada dua regulasi utama, yakni:
Keputusan Bersama Kepala Dinas Pendidikan Aceh dan Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Aceh tentang Kalender Pendidikan Sekolah dan Madrasah Provinsi Aceh Tahun Pelajaran 2025/2026; serta
Keputusan Bupati Bireuen Nomor 300.2.2/722 Tahun 2025 tentang Perpanjangan Status Keadaan Darurat Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Kabupaten Bireuen.
Dr. Muslim menyebutkan, sebagian besar sekolah yang terdampak banjir dan longsor telah dibersihkan dari lumpur dan material sisa bencana. Proses pembersihan tersebut turut melibatkan dukungan TNI dan Polri, sehingga sejumlah sekolah sudah dinyatakan layak digunakan kembali.
“Untuk sekolah yang masih kekurangan sarana, seperti meja dan kursi yang rusak atau hanyut terbawa banjir, siswa diperbolehkan belajar dengan duduk di lantai. Dinas akan memfasilitasi tikar agar kegiatan belajar tetap bisa berlangsung,” jelasnya.
Menurutnya, yang terpenting saat ini adalah memastikan hak anak untuk mendapatkan pendidikan tetap terpenuhi, meski dengan berbagai keterbatasan. Ia menegaskan bahwa keselamatan, kenyamanan, dan kondisi psikologis peserta didik menjadi prioritas utama.
Kebijakan masuk sekolah dengan pendekatan humanis ini diharapkan mampu menjaga keberlangsungan pendidikan di Bireuen sekaligus memberikan ruang pemulihan bagi anak-anak korban bencana, sehingga proses belajar mengajar dapat kembali berjalan secara bertahap dan berkelanjutan.(AAP)

0 Komentar