![]() |
| Ruangan Kepala Sekolah UPTD SMPN 1 Jeumpa, Kabupaten Bireuen, Aceh yang dalam kondisi terkunci dari dalam (26/1) |
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Proyek revitalisasi satuan pendidikan di UPTD SMPN 1 Jeumpa, Kabupaten Bireuen, yang menelan anggaran negara mencapai Rp2,7 miliar lebih, hingga akhir Januari 2026 belum juga rampung. Ironisnya, ketika awak media mendatangi sekolah untuk meminta klarifikasi, kepala sekolah justru diduga menghindar dan tidak bersedia ditemui.
Revitalisasi tersebut bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2025 melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Menengah Direktorat Jenderal PAUD, Dikdas, dan Dikmen, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Nilai anggaran tercatat sebesar Rp2.734.000.000 dengan masa pelaksanaan 150 hari kalender, dan dikelola langsung oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) di sekolah.
Namun, hingga memasuki penghujung Januari 2026, bangunan yang direvitalisasi belum dapat dimanfaatkan, sementara proses belajar mengajar masih berlangsung di ruang-ruang darurat. Kondisi ini memicu tanda tanya besar dari para wali murid.“ Ini sudah tahun 2026. Dananya APBN 2025. Seharusnya bangunan selesai tahun lalu. Kenapa sampai molor?” ujar salah seorang wali murid berinisial AH, Senin (26/1/2026).
![]() |
| Revitalisasi UPTD SMPN 1 Jeumpa, Kabupaten Bireuen Sumber APBN tahun 2025 belum Rampung hingga penghujung Januari 2026 (26/1) |
Ia menegaskan, UPTD SMPN 1 Jeumpa tidak terdampak bencana Hidrometeorologi sebagaimana sekolah lain di Bireuen, sehingga tidak ada alasan kuat pekerjaan melampaui tahun anggaran.
"Untuk memastikan progres dan memperoleh penjelasan resmi, awak media mendatangi UPTD SMPN 1 Jeumpa pada Senin siang. Melalui guru piket, wartawan diarahkan menuju ruangan belakang tempat kepala sekolah disebut sedang berada.
Namun situasi berubah janggal.
Saat pintu diketuk dan salam disampaikan berulang kali, tidak ada jawaban. Padahal, sebelumnya terdengar suara percakapan dari dalam ruangan. "Seketika ruangan menjadi sunyi. Kepala sekolah 'Ngumpet' dan menghilang.
Ketika wartawan kembali ke meja piket menanyakan keberadaan kepala sekolah, sejumlah guru menunjuk seorang petugas berpakaian menyerupai satpam untuk menyampaikan informasi.
Petugas tersebut sempat berkomunikasi singkat, namun kemudian kembali bekerja memperbaiki pot bunga tanpa menindaklanjuti permintaan konfirmasi.
Saat kembali ditanya, ia justru menyampaikan jawaban berbeda.“ Tadi ibu ada, sekarang saya tidak tahu ke mana. Coba datang sore nanti,” ujarnya.
Pernyataan itu bertolak belakang dengan informasi guru piket yang sebelumnya memastikan kepala sekolah berada di ruangan belakang.
Situasi semakin menguatkan dugaan penghindaran, setelah awak media mendengar percakapan telepon sang petugas dengan logat Aceh yang menyebut, “Nyeo manyeong-manteong” (masih ada).
Transparansi Dipertanyakan
Sikap saling lempar informasi, tertutupnya akses konfirmasi, hingga dugaan menghindari wartawan memunculkan pertanyaan serius soal transparansi pengelolaan dana revitalisasi pendidikan bernilai miliaran rupiah tersebut.
Padahal, proyek yang bersumber dari APBN merupakan uang negara yang wajib dikelola secara terbuka, akuntabel, dan dapat diawasi publik.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak UPTD SMPN 1 Jeumpa belum memberikan keterangan resmi terkait keterlambatan pekerjaan maupun alasan belum difungsikannya bangunan revitalisasi.
Publik kini menanti kejelasan:
ke mana progres anggaran Rp2,7 miliar itu bermuara, dan mengapa pihak sekolah terkesan menutup diri dari pengawasan? (**)


0 Komentar