Breaking News

Relawan Pulihkan Trauma Anak di Pengungsian Bireuen

Pemulihan Trauma dan dukungan psikososial bagi warga terdampak banjir hidrometeorologi di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen (1/1).

 BIREUEN, REAKSIONE.ID | Penanganan bencana tidak berhenti pada distribusi logistik dan pemulihan fisik semata. Di balik tenda-tenda pengungsian, luka psikologis para penyintas, terutama anak-anak, menjadi persoalan mendesak yang kerap luput dari perhatian.

Merespons kondisi tersebut, lembaga kemanusiaan Bintang Kecil Aceh bekerja sama dengan CV Daratan Samudera menggelar kegiatan dukungan psikososial bagi warga terdampak banjir hidrometeorologi di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Kamis (1 Januari 2026).

Kegiatan ini difokuskan pada warga yang masih bertahan di posko pengungsian akibat rumah mereka rusak parah hingga hanyut diterjang banjir. Data di lokasi mencatat sebanyak 114 kepala keluarga (KK) mengungsi, dengan 56 unit rumah dilaporkan hilang dan sisanya mengalami kerusakan berat, sehingga tidak lagi layak huni.

Dari jumlah tersebut, 197 anak, 5 ibu menyusui, dan 10 lansia tercatat sebagai penerima manfaat langsung dari program dukungan psikososial yang digelar selama enam hari, sejak 27 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026.

Minimnya ruang bermain dan belajar di pengungsian membuat anak-anak rentan mengalami kejenuhan, kecemasan, hingga tekanan emosional. Kondisi ini mendorong tim relawan Bintang Kecil Aceh turun langsung untuk menghadirkan ruang aman yang ramah anak, sekaligus membantu mereka memulihkan rasa nyaman dan bahagia pascabencana.

Dalam pelaksanaannya, tim menggunakan pendekatan terpadu melalui art terapi dan terapi menulis, yang disesuaikan dengan usia dan kondisi psikologis peserta. 

"Anak-anak diajak mengekspresikan perasaan melalui aktivitas mewarnai, menggambar, dan melukis di atas kanvas, sementara remaja didampingi untuk menuangkan emosi dan pengalaman traumatis mereka melalui tulisan.

Koordinator Program Psikososial Bintang Kecil Aceh, Maria Ulfa, mengatakan metode tersebut terbukti efektif untuk membantu penyintas bencana, khususnya anak-anak dan remaja, dalam menyalurkan emosi yang sulit diungkapkan secara lisan.

“Melalui art terapi, anak-anak bisa mengekspresikan rasa takut, sedih, hingga harapan mereka lewat gambar dan warna. Sedangkan terapi menulis membantu remaja melepaskan emosi yang selama ini terpendam pascabencana,” ujar Maria.

Ia menambahkan, di akhir kegiatan seluruh peserta diajak menuliskan harapan dan cita-cita mereka sebagai bentuk penguatan mental dalam menyongsong tahun baru.
“Harapannya, anak-anak kembali menemukan semangat dan keceriaan, serta merasa bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi situasi sulit ini,” tuturnya.

Melalui program ini, Bintang Kecil Aceh menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi para penyintas bencana, terutama anak-anak dan kelompok rentan, agar proses pemulihan berjalan menyeluruh dan berkelanjutan, tidak hanya secara fisik, tetapi juga menyentuh aspek psikologis dan emosional.(AAP

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya