![]() |
| Kondisi kerusakan kandang petani ternak di Gampong Ceubo, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, pasca Bencana Aceh-Sumatra (22/1) |
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Bencana banjir yang melanda Gampong Ceubo, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, tidak hanya merusak permukiman warga, tetapi juga melumpuhkan sumber penghidupan utama masyarakat. Ratusan ternak kambing dilaporkan mati, menyebabkan kerugian besar bagi warga yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor peternakan.
Peternakan kambing menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Ceubo. Namun terjangan banjir yang datang secara tiba-tiba merendam kandang, menyeret ternak, hingga memusnahkan hasil usaha warga yang telah dibangun bertahun-tahun.
Salah seorang peternak kambing, Saifuddin (45), mengatakan sedikitnya dua kandang besar milik warga terdampak parah. Puluhan ekor kambing mati, termasuk ternak miliknya sendiri. “Rata-rata warga di sini memelihara kambing sebagai andalan ekonomi keluarga. Ada yang punya 20 sampai 60 ekor per kepala keluarga. Sekarang banyak yang habis,” ujar Saifuddin (22/1).
Ia menyebutkan, usaha peternakan kambing telah menjadi tumpuan hidup masyarakat sejak pascatsunami 2004. Karena itu, warga sangat berharap adanya bantuan ternak maupun dukungan modal agar dapat kembali memulai usaha.
“Kalau tidak ada bantuan, kami benar-benar kesulitan untuk bangkit,” ungkapnya.
Tak hanya peternak mandiri, Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) Barona Ceubo juga terdampak serius. Pendamping Lokal Desa, Muntasir, ST yang akrab disapa Yahled menjelaskan bahwa sebelum banjir, BUMG mengelola sekitar 95 ekor kambing yang dipelihara oleh sejumlah warga.
“Namun saat banjir, sekitar 40 ekor kambing mati. Ini sangat memukul bidangan ketahanan pangan yang bersumber dari alokasi 20 persen Dana Desa tahun 2025,” jelas Muntasir.
Kondisi ini, menurutnya, turut memperlambat program pemberdayaan ekonomi gampong yang selama ini difokuskan pada sektor peternakan.
Sementara itu, pelaku UMKM peternakan lainnya, Ashabul Yamin, S.Pd.I (43), menyampaikan bahwa sebagian besar masyarakat Ceubo menggantungkan penghasilan dari peternakan, persawahan, dan perkebunan. “Untuk sektor sawah memang sudah mulai digarap kembali, tetapi kendalanya tiga unit mesin pompanisasi rusak akibat banjir. Sekitar 20 hektare sawah sekarang hanya mengandalkan air hujan,” terangnya.
Ia menambahkan, hasil pertanian dan peternakan selama ini menjadi sumber utama perputaran modal ekonomi warga. Di tengah kondisi sulit tersebut, Ashabul Yamin juga aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan, seperti penyaluran kitab dan Al-Qur’an kepada santri, pelajar, dan masyarakat melalui dukungan para donatur, salah satunya dari Stokist MCI Aceh.
Masyarakat Gampong Ceubo kini berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah, instansi terkait, serta pihak-pihak peduli lainnya untuk pemulihan sektor peternakan dan pertanian. Bantuan ternak, perbaikan sarana produksi, hingga dukungan pemulihan ekonomi dinilai sangat mendesak agar roda kehidupan warga dapat kembali berputar pascabencana.(AAP)

0 Komentar