Breaking News

Pascabanjir Hidrometeorologi, Sawah Lumpuh: Paya Gajah Mendesak Pompanisasi dan Normalisasi Anak Sungai

Kondisi Anak sungai yang semakin sempit dan Dangkal tertimbun Lumpur pasca bencana Banjir di Gampong Paya Gajah, Peureulak Barat Aceh Timur (18/1) 

 ACEH TIMUR, REAKSIONE.ID | Dampak banjir hidrometeorologi yang menerjang wilayah Aceh Timur belum sepenuhnya berakhir. Di Gampong Paya Gajah, Kecamatan Peureulak Barat, bencana tersebut meninggalkan luka panjang bagi sektor pertanian. Sekitar 110 hektare lahan persawahan kini terancam gagal produktif, menyusul rusaknya sistem pengairan dan lumpuhnya mesin pompanisasi (DAP) yang selama ini menjadi urat nadi pertanian warga.

Kondisi ini memicu kekhawatiran serius terhadap keberlangsungan ekonomi masyarakat sekaligus ancaman terhadap ketahanan pangan lokal.

Keuchik Paya Gajah, Azhar (48), mengungkapkan bahwa sekitar 75 persen warga gampong bergantung langsung pada sektor pertanian sawah. Sisanya menggantungkan hidup dari peternakan, perkebunan, perdagangan, hingga aparatur sipil negara. “Kalau sawah tidak bisa digarap, dampaknya bukan hanya pada pendapatan warga. Ini bisa berujung pada krisis pangan skala gampong,” kata Azhar saat ditemui di area persawahan, Minggu (18/1/2026).

Azhar yang baru dua bulan menjabat sebagai keuchik mengaku menghadapi tantangan berat sejak awal kepemimpinannya. Menurutnya, sebelum banjir melanda, persawahan Paya Gajah tergolong produktif. Petani mampu melakukan dua kali musim tanam dalam setahun, dengan sistem air tadah hujan yang diperkuat pompanisasi.

Dalam satu kali panen, produksi padi bahkan dapat menembus sekitar 500 ton. Capaian itu turut ditopang bantuan Brigade Kementerian Pertanian, berupa traktor, rotary, hingga combine harvester yang mendorong efisiensi dan peningkatan hasil petani.

Namun, pascabencana, sebagian besar sarana pertanian tersebut mengalami kerusakan. Kondisi terparah terjadi pada mesin DAP, yang kini tidak lagi dapat difungsikan untuk mengalirkan air ke lahan sawah.

Tak hanya persoalan mesin, problem serius juga muncul pada jalur pengairan alami. Anak sungai yang selama ini menjadi sumber distribusi air sawah mengalami pendangkalan dan penyumbatan. “Normalisasi anak sungai sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer sangat mendesak, terutama di jalur penghubung Dusun Mulia dan Dusun Jeumpa,” jelas Azhar.

Sementara wilayah Dusun Jambo Bujang dan Seumatang Mamplam, lanjutnya, lebih difokuskan untuk perkebunan dan perikanan. Namun tanpa aliran air yang normal, keseluruhan ekosistem pertanian gampong tetap terdampak.

Azhar menegaskan, kebutuhan pompanisasi dan alat berat bukan sekadar untuk kepentingan desa semata, melainkan bagian dari kontribusi daerah dalam menjaga rantai pangan nasional. “Kami ingin bangkit dan kembali berproduksi. Ini juga sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Tapi tanpa dukungan sarana air, itu akan sulit terwujud,” tegasnya.

Ia menilai, pemulihan sektor pertanian pascabencana harus menjadi prioritas pemerintah, baik pusat maupun daerah. Sawah, kata dia, bukan hanya sumber nafkah petani, tetapi fondasi utama stabilitas pangan.

Warga Paya Gajah pun kini menggantungkan harapan pada hadirnya kebijakan nyata dan bantuan yang tepat sasaran, baik berupa mesin pompanisasi baru maupun normalisasi anak sungai yang selama ini menjadi urat nadi pertanian. “Petani kami siap bekerja. Tenaga ada, kemauan ada. Yang kurang hanya alat. Jika air kembali mengalir, maka harapan juga akan kembali tumbuh,” pungkas Azhar.(AAP

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya