![]() |
| Personil Polres membersihkan Dayah Nurul Hidayah di Gampong Pulo Nga, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, pasca bencana Banjir (19/1) |
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Kepedulian terhadap dunia pendidikan pascabencana kembali ditunjukkan Polres Bireuen. Usai banjir hidrometeorologi yang merendam sejumlah wilayah, jajaran kepolisian turun langsung membantu pemulihan fasilitas pendidikan keagamaan yang terdampak parah.
Senin (19/1/2026), ratusan personel Polres Bireuen dari berbagai satuan dan polsek dikerahkan untuk membersihkan Dayah Nurul Hidayah di Gampong Pulo Nga, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen. Sebelum bergerak ke lokasi, seluruh personel terlebih dahulu mengikuti apel kesiapan sebagai bentuk disiplin, koordinasi, dan komitmen pengabdian kepada masyarakat.
Dayah sebagai pusat pembinaan akhlak dan pendidikan agama memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Karena itu, pemulihan lingkungan dayah menjadi perhatian serius agar aktivitas belajar mengajar dapat kembali berjalan normal.
Di lokasi, personel Polri tampak berjibaku membersihkan endapan lumpur tebal yang menutupi hampir seluruh area dayah. Dengan menggunakan sekop, cangkul, dan gerobak dorong, mereka bekerja bahu-membahu sejak pagi hari tanpa mengenal lelah. Lumpur yang mengendap hingga setinggi dada orang dewasa perlahan disingkirkan demi mengembalikan fungsi ruang belajar para santri.
Kegiatan ini dipimpin langsung Ketua Tim Lapangan, Kasat Lantas Polres Bireuen AKP Aditiya Hadmanto. Ia menegaskan bahwa kehadiran Polri bukan sekadar membantu secara fisik, tetapi juga memastikan keberlangsungan pendidikan keagamaan tetap terjaga pascabencana. “Dayah adalah tempat lahirnya generasi berakhlak. Ketika lingkungannya bersih dan layak, proses pendidikan akan berjalan lebih baik. Ini bentuk tanggung jawab sosial kami,” ujar AKP Aditiya.
Sementara itu, Pimpinan Dayah Nurul Hidayah, Tgk Akmal, M.Ag, menjelaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya telah bekerja sama dengan Kementerian Agama dan saat ini berstatus terakreditasi C. Sebanyak 60 santri menetap di dayah tersebut, berasal dari berbagai daerah seperti Pidie, Langsa, dan sejumlah kabupaten lain di Aceh.
Menurutnya, banjir yang melanda kawasan tersebut mencapai ketinggian sekitar 1,5 meter dan meninggalkan endapan lumpur setebal hampir satu meter. Seluruh fasilitas dayah terdampak, mulai dari ruang belajar, musala, dapur umum, kamar santri, toilet, hingga tempat wudhu. Bahkan Alquran, kitab-kitab, dan buku pelajaran ikut tertutup lumpur. “Letak dayah hanya sekitar 60 meter dari Sungai Peusangan. Kondisinya kini menyempit akibat erosi, sehingga banjir semakin cepat meluap,” ungkap Tgk Akmal.
Ia menambahkan, pascabanjir pihak dayah bersama masyarakat dan relawan telah berupaya melakukan pembersihan secara mandiri, termasuk menyewa alat berat selama beberapa hari. Namun keterbatasan biaya dan tenaga membuat proses pemulihan belum maksimal. “Kehadiran Polres Bireuen menjadi penyempurna ikhtiar kami. Ini bukan hanya bantuan tenaga, tapi juga suntikan semangat bagi kami dan para santri,” tuturnya haru.
Didampingi istrinya, Ummi Salmayanti, serta anak-anak mereka, Tgk Akmal menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kapolres Bireuen beserta seluruh jajaran atas kepedulian yang diberikan. Ia menilai kehadiran aparat kepolisian di tengah kesulitan masyarakat menjadi bukti bahwa negara benar-benar hadir.
Aksi kemanusiaan ini sekaligus menegaskan bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya soal membangun fisik, tetapi juga menjaga keberlangsungan pendidikan dan nilai-nilai keagamaan. Di tengah lumpur yang mengering, semangat kebersamaan dan kepedulian terus menyala demi menjaga cahaya ilmu tetap hidup di Dayah Nurul Hidayah.(AAP)

0 Komentar