Breaking News

Lingkungan Berlumpur: Polisi Bersihkan Sekolah Pascabanjir Bireuen

Aksi Sosial Kepolisian Membersihkan Lumpur pascabanjir di MIN 48 Bireuen, Alue Kuta, Kecamatan Jangka.(15/1) 

 BIREUEN, REAKSIONE.ID | Pascabanjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, kepedulian Polri terhadap pemulihan kehidupan masyarakat terus berlanjut. Memasuki pekan ketiga pascabencana, Polres Bireuen kembali menggelar Giat Polri untuk Masyarakat dengan menyasar fasilitas pendidikan yang terdampak parah, Kamis (15/1/2026), puluhan personel Polres Bireuen diterjunkan untuk membersihkan sisa endapan lumpur di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 48 Bireuen, Gampong Alue Kuta, Kecamatan Jangka. Sekolah tersebut menjadi salah satu fasilitas pendidikan yang terdampak cukup serius akibat terjangan banjir.

Kapolres Bireuen melalui Koordinator Lapangan yang juga Kabag Ops Polres Bireuen, Kompol Darmansyah, didampingi Kapolsek Jangka Iptu Saifannur, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Polri untuk hadir dan memberi solusi nyata di tengah kesulitan masyarakat. “Sejak minggu kedua pascabanjir, kami fokus melakukan pembersihan di rumah ibadah, fasilitas umum, hingga sekolah-sekolah, mulai dari tingkat TK sampai SLTA. Setiap hari kami turunkan sedikitnya 60 personel gabungan dari Polres, Polsek, dan Pos Polisi. Tidak ada hari libur, semuanya bergerak dalam satu komando,” ujar Kompol Darmansyah.

Dengan perlengkapan sederhana seperti kereta sorong, cangkul, sekrop, dan alat kebersihan lainnya, para personel tampak bahu-membahu mengangkut lumpur tebal yang menutupi halaman serta ruang-ruang sekolah. Gotong royong itu turut melibatkan para guru dan siswa kelas tinggi yang membantu pekerjaan ringan serta menyediakan minuman bagi petugas.

Kepala MIN 48 Bireuen, Fazliadi, S.Ag, menjelaskan bahwa saat banjir terjadi, ketinggian air mencapai sekitar 1,5 meter. Meski air telah surut, lumpur masih menyisakan dampak serius. “Di dalam ruang kelas, ketebalan lumpur sekitar 1,5 sentimeter, sementara di luar ruangan bisa mencapai 40 sentimeter. Sebanyak 12 ruang belajar serta ruang tata usaha dan guru ikut terdampak,” jelasnya.

Ia menambahkan, berkat kerja keras para guru serta bantuan alat berat dari Kementerian Agama Kabupaten Bireuen, proses belajar mengajar kembali berjalan sejak 5 Januari lalu. Namun keterbatasan masih dirasakan. Sejumlah buku pelajaran rusak dan hilang, perabot sekolah mengalami kerusakan, bahkan sepuluh siswa kehilangan tempat tinggal akibat banjir. “Mereka berasal dari kawasan Kuala Ceurapee, Kecamatan Jangka. Kondisi ini tentu sangat memukul psikologis anak-anak,” ungkap Fazliadi dengan nada haru.

Ucapan terima kasih disampaikan Fazliadi kepada jajaran Polres Bireuen. Menurutnya, kehadiran aparat kepolisian bukan sekadar membersihkan lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi suntikan semangat bagi guru dan siswa untuk bangkit dari keterpurukan.

Hal senada diungkapkan salah seorang guru, Lizarwati, S.Pd.I. Ia memperlihatkan tumpukan buku pelajaran yang rusak serta kondisi siswa yang terpaksa mengikuti pelajaran dengan pakaian seadanya. “Bukan hanya seragam yang hilang, rumah mereka pun ada yang hanyut. Ini anak-anak kita semua,” ucapnya sembari menahan haru.

Di balik suasana pilu, semangat anak-anak tetap menyala. Mereka terlihat ceria mengikuti pembelajaran meski dengan keterbatasan. Pemandangan tersebut menjadi gambaran nyata bahwa pendidikan tidak boleh terhenti oleh bencana.

Apa yang dilakukan Polres Bireuen menegaskan bahwa pemulihan pascabanjir bukan semata soal membersihkan lumpur, tetapi juga upaya memulihkan martabat, rasa aman, dan harapan masa depan generasi muda. Lingkungan sekolah yang kembali bersih menjadi langkah awal memulihkan psikologis anak-anak korban bencana.

Di tengah lumpur dan air mata, kehadiran Polri menjadi simbol nyata bahwa negara hadir—menjaga asa, memastikan pendidikan tetap berjalan, dan meneguhkan harapan bahwa masa depan anak-anak Jangka tidak boleh tenggelam oleh musibah.(AAP

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya