![]() |
| Kondisi Komplek Meunasah Gampong Ara Bungo, Kecamatan Peudada (27/11/2025) saat Air Berangsur surut (dok) |
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Bencana banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Bireuen meninggalkan luka mendalam bagi warga Gampong Ara Bungo, Kecamatan Peudada. Empat unit rumah dilaporkan hilang terseret arus, sementara puluhan ternak warga mati, membuat ratusan jiwa kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan.
Sedikitnya 798 jiwa dari 247 kepala keluarga (KK) terdampak langsung. Mereka sempat terpaksa mengungsi ke enam titik penampungan setelah banjir dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter merendam hampir seluruh wilayah gampong, Jumat (16/1/2026).
Keuchik Ara Bungo, Rizal, mengatakan bencana tersebut merupakan dampak lanjutan banjir besar yang terjadi sejak akhir November 2025 lalu. Air bah datang cepat, disertai longsor, dan menghantam permukiman warga tanpa ampun.
“Rata-rata ketinggian air mencapai satu setengah meter. Kerusakan berat terjadi hampir di seluruh rumah warga, bahkan ada yang hilang dibawa arus,” ujar Rizal kepada wartawan.
Dalam kondisi darurat, Pemerintah Gampong terpaksa menjadikan meunasah, balai pengajian, sekolah, ruang kelas, hingga gudang BUMG sebagai tempat pengungsian sementara.
“Total ada enam titik pengungsian yang kami siapkan demi menyelamatkan warga,” katanya.
![]() |
| Abdul Karim, menujukan Kesan Bekas ketinggian Air pada Puncak Bencana Banjir di Gampong Ara Bungo, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, Aceh (16/1) |
Namun, derita warga belum berakhir. Lebih dari satu bulan masyarakat Ara Bungo bertahan di pengungsian dan hanya bergantung pada dapur umum. Meski sebagian warga kini mulai kembali ke rumah masing-masing, empat KK hingga hari ini belum memiliki tempat tinggal. “Empat rumah benar-benar hilang dibawa banjir. Pemiliknya terpaksa menumpang di rumah keluarga, bahkan satu KK masih bertahan di Gudang BUMG,” ungkap Rizal.
Keempat kepala keluarga tersebut masing-masing Hamidah Sarong (janda), Abdurrahman Wahab, M. Isa Harun, dan Turna Affan. Hingga kini, mereka belum memiliki hunian tetap.
Rizal menjelaskan, secara geografis Gampong Ara Bungo berada dalam posisi rawan karena diapit dua Krueng Matee (sungai mati) di sisi barat dan timur, serta dialiri Krueng Peudada sebagai sungai utama. “Saat hujan deras, sungai-sungai mati itu kembali aktif. Air naik hingga lebih dari dua meter dan langsung menerjang permukiman,” tuturnya.
Tak hanya rumah, bencana juga memukul ekonomi warga. Seorang korban, Abdul Karim, mengaku rumah dan warung miliknya terendam banjir hingga lebih dari 1,5 meter. “Kerugian kami sangat besar. Bukan cuma rumah dan perabot, tapi juga ternak yang selama ini jadi tumpuan hidup,” katanya.
Berdasarkan pendataan warga, puluhan ekor ternak mati, terdiri dari sapi Simental–Bali, kambing, domba, serta unggas seperti ayam dan bebek. “Kami sangat berharap perhatian serius dari pemerintah. Sampai hari ini, masyarakat belum bisa kembali beraktivitas normal,” harapnya.
Hingga kini, warga Ara Bungo masih menanti kepastian bantuan lanjutan dan solusi hunian bagi korban yang kehilangan rumah, sementara bayang-bayang bencana susulan masih menjadi kekhawatiran utama.(**)


0 Komentar