Breaking News

Trauma Pascabanjir, Bintang Kecil Aceh Gelar Pemulihan Psikologis

Yayasan Cahaya Bintang Kecil Aceh bersama Komunitas Lhee Club dan CV Daratan Samudera melakukan pemulihan psikologis anak-anak korban bencana di Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara (22/12)

 ACEH UTARA, REAKSIONE.ID | Penanganan bencana tidak hanya soal pemulihan fisik dan pemenuhan logistik. Aspek psikologis penyintas, terutama anak-anak dan kelompok rentan, menjadi kebutuhan mendesak yang kerap luput dari perhatian. Trauma, kecemasan, hingga perubahan perilaku menjadi dampak lanjutan yang harus segera ditangani pascabencana.

Bencana banjir hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera meninggalkan luka mendalam, bukan hanya pada infrastruktur, tetapi juga pada kondisi mental para penyintas. Banyak anak kehilangan rumah, ruang bermain, serta rasa aman, sehingga memicu ketakutan berkepanjangan.

Merespons kondisi tersebut, Yayasan Cahaya Bintang Kecil Aceh bersama Komunitas Lhee Club dan CV Daratan Samudera menginisiasi kegiatan dukungan psikososial bertajuk “Bergerak di Lingkar Kendali” di tiga kabupaten terdampak, yakni Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Bireuen, dan Kabupaten Aceh Utara.

Koordinator Lapangan sekaligus pembina Yayasan Cahaya Bintang Kecil Aceh, Maria Ulfa, mengatakan kegiatan ini difokuskan pada pemulihan kesehatan mental anak-anak dan kelompok rentan melalui pendekatan yang ramah, partisipatif, dan berkelanjutan.
“Bencana memang berada di luar kendali kita. Namun pemulihan psikologis masih bisa diupayakan melalui gerakan yang terarah, penuh empati, dan melibatkan komunitas,” ujar Maria Ulfa (30/12).

Di Kabupaten Pidie Jaya, kegiatan dilaksanakan di Masjid Tuha dan ditangani langsung oleh Komunitas Lhee Club. Sebanyak 112 anak mengikuti berbagai aktivitas pemulihan yang dirancang untuk mengurangi trauma pascabencana.

Sementara di Kabupaten Bireuen, dukungan psikososial dipusatkan di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli, salah satu wilayah dengan dampak banjir terparah. Data di lokasi mencatat 114 kepala keluarga mengungsi, 55 rumah hilang akibat perubahan aliran sungai, serta 42 rumah lainnya berada dalam kondisi berisiko tinggi. Di posko pengungsian, kegiatan diikuti oleh 117 anak, lima ibu menyusui, dan 10 lanjut usia.

Adapun di Kabupaten Aceh Utara, kegiatan berlangsung di Gampong Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, pada Selasa (22/12). Sebanyak 112 anak terlibat dalam kegiatan ini. Wilayah tersebut tergolong sulit dijangkau karena akses jalan berlumpur dan medan berat. Hingga kegiatan berlangsung, belum ada lembaga lain yang masuk untuk melakukan pemulihan psikologis bagi warga setempat.

Dalam pelaksanaannya, tim relawan menerapkan metode terpadu berupa art therapy dan terapi menulis, khususnya bagi anak-anak dan remaja. Metode ini dinilai efektif karena bersifat menyenangkan sekaligus membantu menyalurkan emosi, meredakan stres, serta membangun kembali rasa aman pascabencana.

Kegiatan dukungan psikososial ini berlangsung selama 10 hari, terhitung sejak 24 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026, dan dilaksanakan secara bertahap di setiap wilayah sasaran.

Mengusung tema “Bergerak di Lingkar Kendali”, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa meskipun bencana tidak dapat dihindari, upaya memulihkan kesehatan mental masyarakat—terutama generasi muda—harus terus dilakukan melalui gerakan kemanusiaan yang konsisten dan berkelanjutan.(AAP) 

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya