Breaking News

Potret Kemanusiaan: Anak-anak Korban Banjir di Pengungsian Gampong Pulo

Anak-anak Korban Bencana Aceh-Sumatra di Tenda Pengungsian Gampong Pulo, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, Aceh (24/12) 

 BIREUEN, REAKSIONE.ID | Di tengah keterbatasan hidup di pengungsian, puluhan anak-anak korban banjir di Gampong Meunasah Pulo, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, berupaya menghibur diri dengan bermain bersama. Rabu (24/12/2025), tawa dan keceriaan mereka tampak mengisi area Meunasah gampong yang kini difungsikan sebagai tempat pengungsian warga terdampak banjir.

Anak-anak tersebut berasal dari keluarga pengungsi empat dusun, yakni Dusun Pelabuhan, Pulo, Jareng, dan Dusun Garuda. Meski harus tinggal di tenda darurat dan ruang terbatas, mereka tetap berusaha menjalani hari dengan aktivitas sederhana untuk mengurangi kejenuhan dan tekanan psikologis akibat bencana.

Berdasarkan data pemerintah Gampong, jumlah pengungsi di Meunasah Pulo mencapai 1.091 jiwa dari 420 kepala keluarga. Mereka menempati 10 unit tenda besar bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sementara sebagian lainnya berlindung di Meunasah gampong setempat.

Tenda Darurat untuk hunian Pengungsi Korban bencana di halaman Meunasah Pulo, Kecamatan Peudada, Bireuen, Aceh (24/12

Keuchik Gampong Meunasah Pulo, Hamdani, mengatakan banjir yang melanda wilayah tersebut menimbulkan dampak cukup serius. Sebanyak 11 unit rumah dilaporkan hilang terseret arus, sementara ratusan rumah lainnya mengalami kerusakan dengan kondisi dipenuhi lumpur.

“Sebanyak 11 rumah hilang akibat banjir. Rumah lainnya mengalami kerusakan ringan hingga sedang, dengan ketebalan lumpur di dalam rumah mencapai sekitar 40 sentimeter,” ujar Hamdani saat ditemui di lokasi pengungsian.

Ia menjelaskan, sebagian warga pada siang hari kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan lumpur dan memperbaiki kerusakan. Namun, keterbatasan peralatan menjadi kendala utama dalam proses pemulihan awal.

“Kami sangat berharap adanya bantuan alat berat mini agar pembersihan rumah warga bisa lebih cepat dan efektif,” katanya.
Hamdani juga mengungkapkan kondisi di pengungsian masih serba terbatas. Dalam satu tenda, rata-rata dihuni sekitar 10 orang. Sayangnya, tenda bantuan yang tersedia belum dilengkapi dengan matras atau tikar, sehingga warga terpaksa menggunakan kardus dan barang seadanya sebagai alas tidur.

Dari sisi layanan kesehatan, Kementerian Kesehatan bersama petugas Puskesmas Peudada telah turun langsung ke lokasi pengungsian. Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara rutin setiap hari, baik di tenda pengungsian maupun dengan mendatangi rumah warga yang telah kembali untuk membersihkan tempat tinggalnya.

Sementara itu, kebutuhan pangan warga saat ini dipenuhi secara mandiri. Pada awal masa pengungsian sempat beroperasi dapur umum, namun dalam beberapa hari terakhir masing-masing kepala keluarga memasak sendiri dengan dukungan bantuan sembako dan kebutuhan pokok lainnya.

Di tengah situasi tersebut, anak-anak pengungsi—mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah lanjutan tingkat atas—terlihat berkelompok sesuai usia dan bermain bersama. Mereka memanfaatkan ruang terbuka di sekitar Meunasah untuk bermain bola, hulahop, dan permainan sederhana lainnya.

Aktivitas bermain ini menjadi cara alami anak-anak untuk mengurangi rasa trauma, kebosanan, serta tekanan psikologis selama berada di pengungsian, sekaligus menghadirkan secercah keceriaan di tengah kondisi pascabencana yang belum sepenuhnya pulih.(AAP

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya