
Progress pembangunan jembatan Bailey Awee Getah-Teupin Reudeup, Bireuen, Aceh (8/12)
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Upaya pemulihan infrastruktur vital pascabanjir besar di Bireuen terus dikebut. Pembangunan Jembatan Bailey yang menghubungkan Gampong Awee Geutah dan Teupin Reudeup, Kecamatan Peusangan Selatan, kini dikerjakan tanpa henti selama 24 jam. Jika tidak ada kendala cuaca, jembatan darurat tersebut ditargetkan dapat kembali dilintasi dalam tiga hari ke depan, Senin (8 Desember 2025).
Tgk. Munazir Nurdin, tokoh masyarakat Awee Geutah, menyebut jembatan yang menjadi akses utama lintas nasional Bireuen-Aceh Utara dan Banda Aceh-Medan itu putus total setelah diterjang banjir bandang pada puncak bencana 25–27 November lalu. “Jembatan tidak mampu menahan tumpukan material banjir yang terus menghantam. Bongkahan kayu dan limbah menumpuk, lalu arus besar menghanyutkan badan jembatan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, dirinya bersama sejumlah warga sempat terisolasi beberapa hari setelah akses terputus. Dalam kondisi hujan deras dan debit air yang mencapai satu meter, mereka berupaya mencari alat berat untuk membuka jalan yang tertutup lumpur serta material banjir. "Kami memaksa menerjang arus deras untuk mencari bantuan. Namun pascabanjir puncak, tak satu pun alat berat tersedia untuk langsung dikerahkan," tuturnya.

Pekerjaan pembangunan jembatan Bailey Gampong Awee Getah-Teupin Teupin Reudeup, Bireuen, Aceh (8/12)
Sebelum bencana melanda, BMKG pada 27 Oktober 2025 telah mengeluarkan peringatan potensi cuaca ekstrem berupa hujan intensitas sedang hingga lebat, angin kencang, serta risiko banjir dan longsor yang diperkirakan terjadi sepanjang November–Desember 2025. Namun, menurut catatan di lapangan, sejumlah daerah tampak belum mengantisipasi dampak yang kemudian menghantam wilayah Aceh, termasuk Bireuen. Akibatnya, puluhan jembatan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Peusangan runtuh diterjang banjir besar tersebut.
"Untuk memulihkan konektivitas utama antar-kecamatan dan antar-kabupaten, TNI bersama instansi terkait kini bekerja siang malam merampungkan Jembatan Bailey Awee Geutah–Teupin Reudeup. Setiap tahap pemasangan rangka baja hingga penataan fondasi digenjot demi membuka kembali jalur transportasi yang menjadi nadi mobilitas warga Peusangan Selatan, Peusangan Siblah Krueng, serta arus kendaraan lintas provinsi.
“Progresnya sangat signifikan. Jika tidak terkendala banjir susulan, Insya Allah tiga hari lagi jembatan sudah dapat dilewati kendaraan,” kata Tgk. Munazir, yang akrab disapa Boeh Manoek. Ia berharap rampungnya Jembatan Bailey ini dapat mempercepat distribusi bantuan, memulihkan ekonomi warga, dan menghubungkan kembali jaringan transportasi dari pesisir Bireuen ke wilayah tengah Aceh.
Menurutnya, masyarakat saat ini sangat menunggu terbukanya akses tersebut setelah hampir dua pekan harus memutar jauh dan dalam beberapa kasus bahkan terisolasi.
“Dengan berfungsinya jembatan ini, hubungan darat antar kabupaten dan provinsi akan kembali normal. Ini sangat penting bagi kehidupan sehari-hari warga dan stabilitas ekonomi,” ujarnya.
Pembangunan Jembatan Bailey Awee Geutah–Teupin Reudeup kini menjadi salah satu prioritas utama penanganan darurat pascabanjir Bireuen. Pemerintah daerah dan warga berharap pekerjaan ini dapat diselesaikan sesuai target agar aktivitas masyarakat dapat segera pulih sepenuhnya.(**)
0 Komentar