![]() |
| Zikir dan Doa bersama mengenang Tsunami Aceh 2004 di Mesjid Agung Sultan Jeumpa, Kabupaten Bireuen (24/12) |
BIREUEN, REAKSIONE.ID | Pemerintah Kabupaten Bireuen memperingati 21 tahun tragedi Tsunami Aceh 2004 melalui zikir dan tausiah bersama yang dipusatkan di Masjid Agung Sultan Jeumpa, Rabu (24/12/2025). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi kolektif atas duka masa lalu sekaligus penguatan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana yang masih membayangi Aceh hingga kini.
Zikir bersama dihadiri Wakil Bupati Bireuen Ir. H. Lazuardi, MT, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Sekretaris Daerah, para pejabat tinggi pratama, pejabat struktural dan fungsional, serta seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bireuen.
Nuansa khidmat menyelimuti masjid saat lantunan zikir menggema, menjadi doa bagi para korban tsunami 2004 sekaligus ikhtiar batin agar Aceh senantiasa diberi kekuatan menghadapi berbagai ujian bencana. Bagi masyarakat Aceh, peringatan tsunami tidak semata dimaknai sebagai agenda seremonial tahunan, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali kesadaran spiritual yang telah mengakar dalam tradisi daerah.
Dua dekade lebih berlalu sejak gelombang dahsyat itu mengubah wajah Aceh dan meninggalkan luka mendalam. Namun, refleksi tahun ini terasa semakin relevan di tengah kondisi sejumlah wilayah Aceh yang kembali dilanda banjir dan longsor, bahkan menetapkan status darurat bencana. Situasi tersebut seolah menjadi pengingat bahwa pelajaran dari tragedi besar masa lalu harus terus dihidupkan dalam praktik kehidupan dan kebijakan pembangunan.
Masjid Agung Sultan Jeumpa menjadi ruang hening untuk merenung bersama. Refleksi yang terbangun mengajak semua pihak menyadari bahwa bencana tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga amanah untuk berbenah—baik secara spiritual maupun struktural.
Kepala Dinas Syariat Islam Kabupaten Bireuen, Azmi, S.Ag, dalam tausiahnya menegaskan bahwa bencana tidak semata dipahami sebagai kehendak alam, melainkan panggilan untuk memperbaiki hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan sesama, serta dengan lingkungan. Pesan tersebut dinilai sejalan dengan realitas bencana banjir yang berulang di sejumlah wilayah akibat degradasi lingkungan dan perubahan tata ruang.
Meski demikian, refleksi tsunami juga menuntut langkah nyata di luar ranah spiritual. Tahun 2025 kembali membuka pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan, mulai dari penguatan sistem mitigasi bencana, penataan ruang berbasis risiko, hingga pembangunan infrastruktur yang lebih adaptif terhadap dampak perubahan iklim.
Melalui peringatan ini, Pemerintah Kabupaten Bireuen berharap semangat kebersamaan dan refleksi dapat menjadi energi kolektif untuk memperkuat ketahanan daerah. Nilai-nilai spiritual yang tumbuh diharapkan berjalan seiring dengan kebijakan dan aksi konkret, demi mewujudkan Bireuen yang lebih siap, aman, dan tangguh menghadapi ancaman bencana di masa mendatang (AAP)

0 Komentar