Breaking News

Bupati Abdya Ungkap Praktik Jual-Beli Bantuan Bencana Masih Terulang Sejak Tsunami hingga Banjir 2025

Bupati Tarmizi, menyalurkan bantuan kepada korban bencana banjir di salah satu Titik Pengungsian, Aceh Barat Daya (14/12) 

 MEULABOH, REAKSIONE.ID | 
Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Tarmizi, mengungkap pengalaman pahit terkait pengelolaan posko bencana yang dinilainya sarat penyimpangan. Praktik penjualan bantuan logistik dan pembagian yang tidak adil, menurutnya, bukan hal baru dan bahkan masih terulang hingga bencana banjir hidrometeorologi tahun 2025.

Pernyataan itu disampaikan Tarmizi saat menyalurkan bantuan kepada korban banjir di wilayah Aceh Barat, Minggu (14/12/2025). Ia menuturkan bahwa praktik serupa pernah ia saksikan langsung pascatsunami Aceh pada 2005, ketika dirinya terlibat aktif sebagai relawan lembaga kemanusiaan internasional.

“Sekitar Mei 2005, saya bekerja dengan NGO CRS setelah sebelumnya bersama ACF. Tugas saya saat itu mendistribusikan logistik ke posko-posko, barak pengungsian, dan titik-titik pengungsi,” ujar Tarmizi.

Dalam proses distribusi tersebut, ia mengaku kerap menemukan ketimpangan. Setelah penyerahan bantuan secara resmi dilakukan, pada malam hari terlihat truk mengangkut logistik menuju arah Abdya. Setelah ditelusuri, bantuan yang seharusnya untuk korban ternyata dijual kembali oleh oknum pengurus posko.

“Data penerima bantuan sulit sekali akurat, pembagian juga jauh dari adil. Ini yang membuat saya sangat terpukul,” katanya.

Tarmizi menilai, kondisi memprihatinkan itu kembali terjadi dalam penanganan bencana banjir tahun ini. Berdasarkan informasi yang ia terima, sejumlah posko dan lokasi pengungsian di berbagai daerah di Aceh masih menghadapi persoalan serupa.

Ia menyebutkan adanya laporan bantuan logistik yang diperjualbelikan, pembagian yang diskriminatif, hingga praktik nepotisme di tingkat posko. Korban bencana yang memiliki konflik dengan pengurus posko disebut tidak mendapat bantuan, sementara pihak yang tidak terdampak justru menerima bantuan berlebih karena memiliki hubungan keluarga.

“Ini ironi besar. Bencana seharusnya mengetuk nurani, bukan malah dijadikan ladang mencari keuntungan,” tegasnya.

Di akhir pernyataannya, Tarmizi menyampaikan pesan bernada reflektif dengan ungkapan khas Aceh. “Entah kapan musibah bisa menjadikan orang insaf. Jangan mencari Laba dalam Bala. Gadoeh Akai Ku’eh dan Buet Zalem,” ucapnya.

Bupati Abdya berharap ke depan pengelolaan bantuan bencana dapat diawasi lebih ketat, transparan, dan melibatkan sistem pendataan yang akurat agar hak korban benar-benar terpenuhi serta kepercayaan publik tidak terus tergerus.(**) 

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya