Breaking News

Alumni UPMI Denpasar: Ini Catatan Imanuel Karango

Imanuel Karango, Alumni Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, Denpasar, Bali (22/12) 

 BALI, REAKSIONE.ID | 
Hari ini saya juga bekerja sebagai kuli di Bali, Saya tidak menutup mata dan tidak memungkiri: memang ada oknum-oknum perantau Sumba yang pernah berbuat onar dan melukai rasa aman. Itu fakta. Dan sebagai sesama perantau, kami juga merasa malu dan prihatin, Senin (22 Desember 2025). 

Namun yang juga perlu dilihat, ribuan perantau Sumba lainnya hidup dengan tenang dan bekerja jujur. Ada yang menjadi buruh proyek, sopir, pekerja spa, penjaga, dan penghuni kos kecil yang setiap hari hanya memikirkan satu hal: bekerja, pulang, dan hidup baik.

Bali memberi kami ruang untuk bertahan hidup. Kami membalasnya dengan tenaga, keringat, dan sikap hormat. Hubungan ini dibangun dari keseharian, bukan dari media sosial.

Seperti yang disampaikan I Made Ronny Fernando, bahwa kehidupan sosial selama ini berjalan dengan baik, dan keharmonisan yang sudah terbangun harus dijaga bersama.

Media sosial seharusnya tidak menjadi ruang untuk memperbesar jarak, apalagi menanam prasangka.

Karena itu, ketika identitas orang Sumba digeneralisasi, rasanya berat bagi mereka yang tidak pernah membuat masalah. Ini bukan soal tersinggung, tapi soal keadilan bagi orang-orang kecil yang memilih jalan tertib.

Langkah yang kami ambil bukan untuk membela oknum, apalagi menutup kesalahan. Justru sebaliknya, kami ingin masalah diselesaikan secara adil: yang salah ditindak, yang benar tidak ikut diseret.

Untuk sesama pemuda dan perantau, mari kita jaga sikap dan perbuatan. Kita hidup di rumah orang. Apa yang kita lakukan hari ini menentukan kepercayaan yang diwariskan besok.

Terima kasih Bali, karena telah memberi ruang hidup dan pelajaran tentang tertib dan hormat.

Penulis;
Imanuel Karango

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya