Breaking News

Air Mata Bumi Serambi Mekkah

Oleh: Hasan Basri, S.Pd., M.M. 

Ilustrasi Bencana Banjir Aceh

 ACEH, REAKSIONE.ID | Nama Aceh selalu mengundang ingatan tentang keteguhan, luka sejarah, dan daya bangkit yang luar biasa. Dua dekade setelah tsunami mengguncang dunia, bumi Serambi Mekkah kembali menangis—kali ini melalui banjir dan tanah longsor yang melanda berbagai wilayah dalam beberapa waktu terakhir.

Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur, Bireuen, Pidie Jaya, hingga Aceh Barat merasakan dampak bencana yang nyaris serempak. Air meluap, tanah runtuh, rumah rusak, lahan pertanian terendam, dan ribuan warga harus berjibaku menyelamatkan diri. Ini bukan sekadar peristiwa alam, melainkan peringatan yang menggugah kesadaran kolektif.

Hujan, yang selama berabad-abad menjadi simbol keberkahan bagi masyarakat Aceh, kini tak lagi selalu hadir sebagai penyejuk. Curah hujan tinggi justru kerap memicu kekhawatiran. Sungai-sungai meluap, bukit-bukit longsor, dan lumpur menutup akses kehidupan.

Perubahan ini menuntun pada pertanyaan mendasar: mengapa air, sumber kehidupan, berubah menjadi ancaman? Jawabannya tak semata berada pada alam, tetapi juga pada cara manusia memperlakukannya.

Kerusakan hutan menjadi salah satu akar persoalan. Lereng-lereng bukit yang dahulu dipagari pepohonan kini banyak yang gundul atau berubah menjadi kawasan perkebunan tanpa pengelolaan berkelanjutan. Akar-akar yang seharusnya menahan tanah dan menyerap air hujan tak lagi berfungsi. Akibatnya, air mengalir bebas, menghantam pemukiman dan membawa tanah yang rapuh menjadi longsor.

Banjir dan longsor adalah cermin yang memantulkan perilaku manusia. Pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan, alih fungsi lahan yang masif, serta pengelolaan sampah yang buruk mempercepat kerentanan bencana. Sungai menyempit, drainase tersumbat, dan ruang hidup alam semakin terdesak.

Aceh, dengan kekayaan nilai religius dan kearifan lokal, sejatinya memiliki landasan kuat untuk menjaga keseimbangan alam. Dalam ajaran Islam dikenal "Konsep mizān—keseimbangan—yang menempatkan manusia bukan sebagai penguasa mutlak, melainkan sebagai penjaga bumi. Ketika keseimbangan itu dilanggar, alam memberi responsnya sendiri.

Di balik genangan air dan puing-puing bencana, terselip kisah-kisah kemanusiaan yang menguatkan. Relawan bergerak tanpa pamrih, warga bergotong royong membersihkan lumpur, dapur umum berdiri, dan bantuan datang dari berbagai penjuru. Semangat Meusyawarah dan kebersamaan khas Aceh kembali menegaskan jati diri masyarakatnya.

Duka ini seharusnya menjadi titik balik. Bukan hanya untuk membangun kembali rumah dan infrastruktur, tetapi juga memperbaiki relasi dengan alam. Rehabilitasi hutan, penataan ruang berbasis mitigasi bencana, serta pendidikan lingkungan harus menjadi agenda bersama—pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.

Aceh akan bangkit, seperti yang telah berulang kali dibuktikan sejarah. Namun, keteguhan itu mesti dibangun di atas fondasi baru: kesadaran ekologis dan penghormatan terhadap bumi sebagai ibu, bukan sekadar sumber eksploitasi.

Air mata bumi Serambi Mekkah adalah pelajaran. Jika didengar dengan hati dan diterjemahkan dalam tindakan nyata, ia dapat menjadi penanda awal menuju Aceh yang lebih lestari, aman, dan berkeadilan bagi generasi mendatang.


Penulis

Hasan Basri, S.Pd., M.M.
Pemerhati sosial dan Kepala SMA Negeri 1 Simpang Mamplam. 

0 Komentar

© Copyright 2025 | Reaksione - Portal Berita Terkini dan Terpercaya