![]() |
| Ibu Rosniwati, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, SMAN 2 Bireuen, Provinsi Aceh (istimewa) |
ACEH, REAKSIONE.ID | Ada orang-orang yang bekerja dalam sorotan. Ada pula yang memilih berdiri di balik layar, memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Bu Rosniwati adalah salah satunya.
Di lorong SMA Negeri 2 Bireuen, Ibu Rosniwati, langkahnya dikenal tegas, teratur, dan penuh disiplin. Ia bukan hanya guru Biologi, tetapi juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum yang memiliki peran penting dalam memastikan proses pendidikan berjalan terarah.
Bu Ros tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi kedisiplinan. Ayahnya, seorang perwira polisi, menanamkan sejak dini pentingnya ketertiban, tanggung jawab, keberanian menghadapi kenyataan, serta kebiasaan menyelesaikan persoalan dengan pertimbangan yang rasional.
Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi bagian dari kepribadiannya. Baginya, setiap persoalan membutuhkan landasan yang jelas. Setiap rencana harus terukur. Dan setiap keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan.
Di bidang kurikulum, pekerjaan tidak selalu terlihat oleh banyak orang. Ada jadwal yang harus disusun, program yang harus diselaraskan, proses pembelajaran yang perlu dievaluasi, hingga berbagai persoalan sekolah yang membutuhkan penyelesaian.
Bu Ros berada di tengah semua itu. Ia bekerja dengan ketelitian dan keteraturan. Tidak banyak bicara, tetapi berusaha memastikan pekerjaan berjalan sesuai arah yang telah ditetapkan.
Bagi siswa, ia dikenal sebagai sosok yang tegas sekaligus adil. Bagi rekan sejawat, ia merupakan pribadi yang serius menjalankan tanggung jawab.
Cara kerjanya mencerminkan latar belakang pendidikan yang ia tekuni.
Seperti memahami sistem kehidupan dalam Biologi, ia melihat bahwa setiap unsur dalam pendidikan saling berkaitan. Ketika satu bagian tidak berjalan baik, bagian lain ikut terdampak.
Karena itu, ketertiban bukan sekadar pilihan baginya, melainkan bagian dari cara menjaga sebuah sistem tetap berjalan.
Namun, ada sisi lain yang tidak selalu terlihat. Orang yang terbiasa mengurus banyak hal sering kali menempatkan kebutuhan orang lain lebih dahulu. Pekerjaan yang mendesak membuat urusan pribadi mudah ditunda.
Begitu pula dengan Bu Ros.
Hari-harinya dipenuhi tanggung jawab sekolah. Ia memikirkan program, pembelajaran, guru, siswa, dan berbagai persoalan yang membutuhkan perhatian.
Dalam situasi seperti itu, pertanyaan sederhana terkadang justru terlupakan." Kapan terakhir kali seseorang benar-benar memberi waktu kepada dirinya sendiri?
Sebab hidup tidak hanya berisi hal-hal yang harus dikerjakan. Ada pula hal-hal yang perlu dirasakan.
Ada waktu untuk bekerja, tetapi ada juga waktu untuk berhenti.
Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan, tetapi ada kehidupan pribadi yang juga membutuhkan perhatian.
Dedikasi kepada pendidikan memang penting. Namun dedikasi tidak semestinya membuat seseorang kehilangan ruang untuk dirinya sendiri.
"Guru adalah manusia sebelum menjadi profesi, Wakil kepala sekolah adalah manusia sebelum menjadi jabatan.
Di balik tugas dan tanggung jawab, tetap ada kebutuhan untuk menikmati ketenangan, berbagi cerita, merawat hubungan, dan sekadar memiliki waktu tanpa beban pekerjaan.
Barangkali inilah bagian yang sering luput dalam kehidupan para pendidik. Kita melihat hasil kerja mereka, tetapi jarang melihat waktu yang mereka korbankan.
Kita menikmati tertibnya proses pendidikan, tetapi tidak selalu mengetahui siapa yang berada di balik keteraturan tersebut. Bu Ros menjadi salah satu gambaran dari mereka yang bekerja dalam ruang yang tidak selalu mendapatkan sorotan.
Pada akhirnya, tulisan tentang Bu Ros bukan semata-mata tentang seorang guru atau pejabat sekolah.
Ini adalah refleksi tentang banyak pendidik yang setiap hari mengurus masa depan orang lain.
Mereka membantu siswa menemukan arah. Mereka mendampingi guru. Mereka menjaga agar sekolah tetap berjalan. Namun, di tengah semua itu, kehidupan pribadi mereka juga membutuhkan ruang.
Karena pendidikan yang baik bukan hanya tentang sistem yang tertata. Ia juga lahir dari manusia-manusia yang menjalankannya dengan hati yang terawat.
Maka, di sela kesibukannya mengurus kurikulum dan memastikan proses pendidikan berjalan sebagaimana mestinya, semoga Bu Ros tetap memiliki,
"Waktu untuk dirinya sendiri.
"Waktu untuk berhenti sejenak.
"Waktu untuk menikmati kehidupan di luar pekerjaan.
"Waktu untuk mendengarkan apa yang sebenarnya dibutuhkan dirinya.
Sebab seorang pendidik tidak harus mengorbankan seluruh ruang pribadinya demi menjalankan tanggung jawab.
Ada kalanya, merawat diri bukan berarti meninggalkan kewajiban. Justru dari sanalah seseorang dapat kembali menjalankan tugas dengan pikiran yang lebih jernih dan kehidupan yang lebih seimbang.
Bu Ros mungkin bekerja di balik layar. Namun dari balik layar itulah, banyak bagian dari panggung pendidikan terus bergerak.
Dan mungkin, itulah bentuk pengabdian yang sering kali tidak terdengar, tetapi terasa.
Penulis:
Hasan Basri, S.Pd., MM
Pemerhati Pendidikan Aceh
Editor (JJ)

0 Komentar